Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#teknologi

Dampak Negatif Bioteknologi Bagi Lingkungan

Berbagai produk hasil bioteknologi sudah kita nikmati sehari-hari. Mulai dari roti, tempe, hingga obat-obatan. Namun, bioteknologi juga memiliki dampak negatif.

KONTRIBUTOR OPINI  |  

Bioteknologi, sebuah cabang ilmu yang banyak digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu ini sebenarnya sudah berkembang dan dikenal manusia sejak 6.000 SM. Saat itu teknik bioteknologi sederhana digunakan untuk membuat berbagai macam jenis makanan seperti, keju, roti, dan mengawetkan susu.

Jenis Bioteknologi

Ada dua macam jenis bioteknologi yang dikembangkan manusia, yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Bioteknologi konvensional adalah bioteknologi yang sudah diterapkan sejak ilmu pengetahuan belum berkembang pesat.

Sedangkan bioteknologi modern adalah sejumlah teknik yang melibatkan manipulasi gen, sel, dan jaringan hidup secara sengaja dengan cara yang dapat diprediksi dan dikendalikan. Bioteknologi modern itu sendiri dibagi lagi menjadi 4 jenis yaitu:

Bioteknologi Merah (Red Biotechnology)

Bioteknologi merah merupakan bioteknologi yang difokuskan dalam bidang kesehatan atau pun medis. Bioteknologi merah mencakup berbagai macam spektrum pengobatan manusia dari mulai tahap preventif hingga ke tahap pengobatan. Beberapa contoh hasil bioteknologi merah yang sukses yaitu vaksin, obat, serum, dan lain-lain.

Bioteknologi putih dan abu-abu (White / Gray Biotechnology)

merupakan bioteknologi yang pengaplikasiannya cenderung mengarah ke bidang industri seperti industri makanan, industri minuman dan usaha penemuan atau pembentukan energi terbarukan. Beberapa produk bioteknologi putih dan abu-abu yang sukses mempermudah aktivitas kehidupan manusia yaitu bir, ragi, enzim, dan berbagai macam penemuan lainnya.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Apa itu biokteknologi biru?

Bioteknologi Biru (Blue Biotechnology)

Sering juga disebut dengan istilah bioteknologi akuatik, merupakan bioteknologi yang pengaplikasiannya difokuskan pada bidang perairan atau akuatik. Pengembangan dunia bioteknologi biru banyak dilakukan dengan menggunakan aktivitas rekayasa genetika.

Bioteknologi Hijau (Green Biotechnology)

Merupakan bioteknologi yang pengaplikasiannya lebih diarahkan ke bidang pertanian dan peternakan. Aktivitas bioteknologi hijau difokuskan kepada para penelitian untuk mengembangkan dan menghasilkan produk-produk pendukung pertanian dan peternakan.

Beberapa produk bioteknologi hijau yang telah terbukti bermanfaat dan dapat digunakan untuk mempermudah aktivitas manusia di bidang pertanian dan peternakan yaitu produk pestisida, produk pembasmi hama, produk probiotik untuk ternak, dan berbagai macam produk lainnya.

Dampak Negatif

Bioteknologi memang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari meningkatkan hasil produksi dalam bidang perkebunan, pangan, perikanan, hingga pertanian. Selain itu mampu mengurangi dampak pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan mikroorganisme, hingga meningkatkan jumlah spesies melalui kultur jaringan.

Meski begitu, bioteknologi modern telah menciptakan berbagai kemungkinan untuk menciptakan banyak intervensi terhadap lingkungan. Dibalik memberikan dampak positif, ternyata pemanfaatan bioteknologi juga mengakibatkan dampak negatif yang serius, di antaranya:

Kepunahan Plasma Nutfah

Ragam teknologi rekayasa genetik dalam produksi bibit tanaman dapat memicu kepunahan plasma nutfah. Ini karena petani mulai meninggalkan varian lokal dan memilih budidaya tanaman dengan penampilan fisik yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemberdayaan konservasi plasma nutfah.

Kerusakan Ekosistem

Penerapan bioteknologi dapat mengganggu habitat makhluk hidup. Jika dibiarkan, hal ini bisa memicu kerusakan ekosistem. Contohnya adalah rekayasa genetik pada bunga matahari yang merugikan kupu-kupu dalam proses penyerbukan.

Keracunan

Beberapa gen asing yang disisipkan dalam makanan dapat meracuni manusia. Misalnya, bakteri Burkholderia cocovenenans pada pembuatan tempe bongkrek. Efek dari racun biologis yang dihasilkan bakteri itu dapat mengganggu sistem pernafasan dan menyebabkan bahkan kematian bagi manusia.

Memicu Alergi

Bioteknologi dapat memicu alergi terhadap tubuh. Ini karena tidak semua penyisipan gen asing yang digunakan sebagai bahan makanan, minuman, obat-obatan bisa diterima oleh tubuh manusia. Karenanya, penyisipan gen asing harus diteliti dengan benar agar aman bagi tubuh.

Kematian Pengurai

Tanaman pangan yang didapat melalui hasil transgenik cenderung sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Akibatnya, proses pembusukan tidak terjadi dan sampah pun menumpuk.

Perlindungan terhadap Dampak Negatif Bioteknologi

Dikutip dari Journal of International Law, yang membahas tentang Pengaturan Hukum Internasional Mengenai Bioteknologi dan Dampaknya Terhadap Keanekaragaman Hayati disebutkan bahwa perlu adanya perlindungan dari dampak negatif maupun komersialisasi hasil bioteknologi.

Dalam bidang pertanian, peningkatan produksi pestisida sering tidak disadari bisa menimbulkan bahaya yang berkepanjangan. Dalam bidang Kesehatan, berbagai obat-obatan hasil rekayasa genetika dapat juga menimbulkan kekebalan pada penyakit tertentu. Dalam bidang lingkungan hidup, pelepasan Organisme Hasil Modifikasi Genetik (OHMG) ke lingkungan bebas dapat mengganggu keberadaan keanekaragaman hayati yang sudah ada.

Dalam perkembangannya, kecenderungan komersialisasi, produksi besar-besaran OHMG dan lemahnya pengawasan serta kurangnya informasi dan hal lainnya menjadi kendala dalam pemanfaatan bioteknologi.

Melihat pada kenyataan tersebut, guna pengaturan global mengenai masalah ini maka diluncurkan pengaturan Hukum Internasional mengenai Bioteknologi, yang tercantum dalam:

1. Pada KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, telah disepakati United Nations Convention on Biological Diversity (UNCBD) 1992. UNCBD merupakan perjanjian global pertama yang bersifat komperhensif dan mencakup semua aspek keanekaragaman hayati, sumber daya genetis, dan ekosistem.

Hal ini membuka kesempatan akan adanya suatu protokol baru yang secara khusus mengatur tentang bioteknologi, yang mencakup penggunaan, penanganan, dan perpindahan antar wilayah dari organisme yang sudah di rekayasa genetis. Usulan protokol ini dinamakan Biosafety Protocol atau Protokol Keamanan Hayati. Sementara di Indonesia pengesahan United Nation Convention on Biological Diversity ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994.

2. Cartagena Protocol on Biosafety to the Convention on Biological Diversity 2000 (Protokol Cartagena 2000).

Protokol ini memuat prinsip-prinsip yang menjadi acuan oleh negara anggota dalam menangani bioteknologi di negaranya untuk mencegah atau menanggulangi dampak yang merugikan dari bioteknologi.

3. Tak hanya itu, komersialisasi bioteknologi telah membawa suatu perdebatan antara negara maju dengan negara berkembang mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai sumber daya bioteknologi. Oleh karena itu, pada pertemuan COP ke-10 disepakati The Nagoya Protocol on Access to Genetic Resources and the Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization 2010 yang mengatur tentang Akses dan Pembagian Keuntungan dari hasil komersialisasi Organisme Hasil Modifikasi Genetik (OHMG).

Oleh

Vey Kresnawati, Kontributor Opini

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation