Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#teknologi

Iron Dome Israel, Pelindung Serangan Rudal Hamas

Begini cara kerja Iron Dome, sistem pertahanan canggih Israel untuk menangkal serangan udara dari musuh-musuhnya.

KONTRIBUTOR OPINI  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Untuk menjaga keamanan sebuah negara maka berbagai negara di dunia pasti akan memiliki sistem pertahanan tersendiri. Kekuatan militer menjadi hal penting bagi sebuah negara demi mencapai keamanan dan kedaulatan sehingga negara tersebut dapat terhindar dari ancaman negara lain. Hal ini yang mendorong Israel kembangkan teknologi pertahanan Iron Dome.

Rentetan cahaya terlihat sebagai sistem anti-rudal Iron Dome Israel mencegat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza ke arah Israel, seperti yang terlihat dari Ashkelon, Israel, Jumat (14/5/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Amir Cohen/WSJ.
Rentetan cahaya terlihat sebagai sistem anti-rudal Iron Dome Israel mencegat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza ke arah Israel, seperti yang terlihat dari Ashkelon, Israel, Jumat (14/5/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Amir Cohen/WSJ.

Seperti diungkapkan Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, dikutip dari Nusantaranews (4/9/2017), memiliki angkatan perang andal dan pertahanan yang tangguh merupakan sebuah kebutuhan mendasar bagi setiap bangsa. Kemampuan pertahanan tidak saja penting dalam menjaga keselamatan bangsa, namun juga merupakan simbol kekuatan.

Hingga setiap negara berlomba-lomba menciptakan atau memiliki peralatan perang dengan teknologi canggih. Begitu juga dengan Israel yang terus berseteru dengan Palestina, dimana jelang Hari Raya Idulfitri 2021, konflik tersebut kembali pecah dan memakan banyak korban.

Dikutip dari BBC (14/5/2021), militer Israel mengungkapkan bahwa Hamas dan kelompok Palestina lainnya telah menembakkan lebih dari 1.500 roket. Namun sebagian besar roket tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel dengan teknologi canggih yang dikenal dengan sebutan Iron Dome atau Kubah Besi.

Iron Dome kembali digunakan angkatan pertahanan Israel dalam pertempuran yang terjadi di Jalur Gaza pada Selasa, (11/5/2021) malam, seiring meningkatnya konflik di antara Israel dan Palestina di awal bulan Mei 2021.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Apa itu Iron Dome?

Apa itu Iron Dome?

Iron Dome merupakan Dual Mission Counter Rocket, Artillery and Mortar and Very Short Range Air Defense System. Sistem pertahanan canggih ini dirancang untuk menghentikan roket dan artileri jarak dekat seperti yang diluncurkan dari Jalur Gaza. Israel pertama kali memanfaatkan sistem pertahanan udara ini pada tahun 2011.

Dikutip dari Washington Post, Iron Dome atau Kippat Barzel atau Kubah Besi, adalah sistem pertahanan udara Israel yang dikembangkan oleh perusahaan asal Israel, Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries, yang didukung secara finansial dan teknis oleh Amerika Serikat. Rafael Defense Systems mengklaim sistem buatannya ini memiliki tingkat keberhasilan 90 persen.

Iron Dome memang disebut juga Kubah Besi, tapi sebenarnya alat atau sistem teknologi perang ini tak berbentuk selayaknya wujud sebuah kubah, bahkan bisa dibilang tidak terlihat wujudnya seperti kubah pada umumnya. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sebuah sistem pertahanan udara yang benar-benar mampu melindungi seluruh wilayah Israel seperti halnya sebuah kubah.

Cara Kerja Iron Dome

Unit pendeteksi dan pelacak menggunakan radar untuk memindai wilayah tertentu dari serangan roket jarak pendek sampai jarak menengah. Sebuah unit kontrol terpisah yang terdiri dari komputer dan instrumen-instrumen teknologi canggih lainnya akan segera menganalisa data radar.

Iron Dome adalah sistem pantau yang pintar, lantaran radarnya mampu melihat roket datang dan dengan sangat cepat dapat mengetahui apakah roket akan mendarat di wilayah berpenduduk yang dapat mengancam nyawa. Jika membahayakan nyawa penduduknya maka hanya dalam hitungan detik pihak militer Israel akan meluncurkan pencegat.

Pada dasarnya, ada tiga bagian inti dalam sistem pertahanan rudal yang dipasang secara portable ini, yaitu:

Pertama, adalah sistem radar yang dipasang di tiap truk pengendali dan bertugas untuk terus mengawasi kawasan udara dengan jangkauan hingga radius 150 km persegi. Segala benda tak dikenal yang melewati kawasan tersebut akan ditangkap oleh radar.

Kedua, pengolahan data. Disinilah, semua informasi diolah, untuk menentukan apakah akan melakukan penangkalan ataupun sebaliknya. Jika keputusan pencegatan diambil, maka data yang didapat akan segera dikirimkan ke unit interceptor alias pencegat.

Bagian ketiga adalah peluncuran rudal pencegat. Mereka akan meneruskan perintah tersebut untuk meluncurkan misil penangkal rudal yang sudah diprogram secara khusus sehingga sanggup mengenali dan menangkal ancaman yang datang. Sistem ini bisa menghalau roket yang ditembakkan dari jarak hingga 70 kilometer.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Efektif tapi Mahal

Efektif tapi Mahal

Punya sistem peralatan perang dengan teknologi canggih memang tak bisa dibilang murah. Seperti juga Kubah Besi yang merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Israel ini membutuhkan biaya miliaran dolar.

Lantaran, seperti dilansir harian Times of Israel, tiap satu rudal pencegat yang diluncurkan oleh peralatan teknologi canggih ini, setidaknya menghabiskan biaya sebesar US$150.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar.

Bisa dibayangkan satu unit Iron Dome mobile diperkuat 60 buah roket pencegat dan jika diluncurkan semuanya untuk menangkal serangan Palestina, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh Israel? Fantastis bro!

Tonton juga:

Sudah 100 tahun konflik Israel-Palestina terjadi, berbagai pihak mencoba menyelesaikan konflik ini. Tapi gak kunjung juga usai... gimana sih masalahnya...?

Satu unit Iron Dome mobile yang diperkuat 60 buah roket ini dianggap bisa melindungi sebuah kota berukuran sedang. Sementara untuk melindungi semua wilayahnya Israel diyakini memerlukan 13 unit Iron Dome.

Sementara, menurut keterangan militer Israel yang dikutip dari laman Tempo, dalam konflik di bulan Mei 2021 ini, Hamas menembakkan lebih dari 1.000 roket, dengan sekitar 200 di antaranya mendarat di Jalur Gaza.

Hujan roket yang dilancarkan dari satu lokasi Jalur Gaza memaksa sistem Iron Dome beroperasi hingga batasan tertentu. Pasalnya meski disebut efektif, tapi sebagian roket masih berhasil menghujam pemukiman warga.

Ternyata salah satu kelemahan terbesar teknologi ini adalah harganya yang ekstra mahal per satu kali tembakan. Hal inilah yang membatasi jumlah penggunaan rudal dengan sistem Iron Dome ini dalam menangkal serangan Hamas. Meski begitu, Kepala otoritas pertahanan udara israel, Moshe Patel, menyebutkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, Iron Dome sudah menghancurkan 2400 roket yang diluncurkan Hamas.

Vey Kresnawati

Kontributor Opini

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation