Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#teknologi

Dinilai Arogan, Ini “Ancaman” Buat Pengguna yang Gak Setuju Kebijakan Baru WhatsApp

Kabarnya, kebijakan baru WhatsApp tersebut akan mulai dilaksanakan per tanggal 15 Mei 2021. Menjelang tanggal itu, ada strategi yang terkesan mengancam yang dilakukan oleh WhatsApp.

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, aplikasi pesan instan WhatsApp kini tengah mempersiapkan kebijakan terbarunya. Kabarnya, kebijakan baru WhatsApp tersebut akan mulai dilaksanakan per tanggal 15 Mei 2021. Menjelang tanggal itu, ada strategi yang terkesan mengancam yang dilakukan oleh WhatsApp.

Photo by Christian Wiediger on Unsplash
Photo by Christian Wiediger on Unsplash

WhatsApp secara bertahap diketahui telah melumpuhkan akun pengguna yang gak terima perubahan kebijakan privasi baru miliknya. Dikutp dari Mac Rumors, permintaan persetujuan itu diakui pihaknya agar aplikasi ini memiliki fungsionalitas penuh atau dengan kata lain punya pengguna yang aktif secara menyeluruh mulai pertengahan Mei mendatang.

Kalau pengguna gak mau menyetujui persyaratan terbaru, WhatsApp punya perlakuan khusus nih. Dalam waktu yang singkat, pengguna tersebut masih bisa nerima panggilan suara dan notifikasi. Tapi, jangan harap pengguna bisa kirim atau sekadar baca chat, gak akan bisa lagi.

Photo by Christian Wiediger on Unsplash
Photo by Christian Wiediger on Unsplash

WhatsApp sempat membeberkan rincian rencananya kepada Tech Crunch. Menurut aplikasi besutan Facebook tersebut, kebijakan baru perusahaan akan dilangsungkan selama beberapa minggu. Dan jika ada akun yang tidak aktif selama 120 hari, maka akun tersebut otomatis akan terhapus.

Sebagai informasi, WhatsApp pertama kali mengumumkan perubahan kebijakan dan persyaratan penggunaan terbarunya pada awal bulan lalu. Pihaknya mengklarifikasi, chat pribadi antar pengguna akan tetap dienkripsi end-to-end, artinya cuma bisa diakses oleh pengguna yang ada dalam percakapan.

Tapi pada saat yang sama, WhatsApp juga menyatakan bahwa pengguna yang mengirim pesan ke akun bisnis tidak akan mendapatkan perlindungan yang sama seperti chat ke akun personal.

Ditakutkan, data dalam pesan bisnis tersebut digunakan untuk tujuan komersial, contohnya kayak pemetaan target iklan di Facebook, mengingat beberapa data disimpan di server Facebook. Nah, perubahan ini diartikan oleh banyak pengguna bahwa WhatsApp bakal membagikan pesan mereka dengan perusahaan induk Facebook.

Reaksi Pengguna Whatsapp

Kesalahan persepsi tersebut memicu reaksi balik pengguna WhatsApp. Salah satu reaksinya adalah beralihnya pengguna ke aplikasi pesan lain, seperti Telegram dan Signal. Pintarnya, kedua aplikasi tersebut langsung memanfaatkan situasi dengan fitur-fitur yang lebih aman, umum, dan mudah dipakai.

Seakan kebakaran jenggot, pihak WhatsApp langsung menggunakan fitur WhatsApp Story untuk untuk mengklarifikasi bahwa kebijakan terbarunya sama sekali tidak membagikan data dengan Facebook seperti obrolan pengguna atau informasi profil. Tapi ketentuan baru ini berlaku untuk pengguna yang memakai fitur obrolan ke akun bisnis.

Menjelang Mei mendatang, dalam beberapa minggu WhatsApp akan mulai menaruh notifikasi kecil dalam aplikasi yang dapat di-tap pengguna buat yang mau meninjau ulang kebijakan privasi. Notifikasi tersebut jika di-tap akan menampilkan ringkasan perubahan yang lebih detail, termasuk cara kerja WhatsApp dengan Facebook.

“Pada akhirnya kami akan mengingatkan pengguna untuk membaca kebijakan baru dan menerimanya untuk terus menggunakan aplikasi,” kata WhatsApp.

Whatsapp Dinilai Arogan oleh Sejumlah Pakar

Sejumlah pengguna WhatsApp mengaku menerima notifikasi berjudul “WhatsApp sedang memperbarui ketentuan dan kebijakan privasi”. Disebutkan pula jika pengguna memilih “Setuju”, maka pengguna telah menerima kebijakan baru WhatsApp dan mulai berlaku pertengahan Mei 2021.

Tapi kalo ada pengguna yang gak setuju, pengguna itu gak akan bisa akses chat atau panggilan WhatsApp, mulai berlaku pada tanggal yang sama. Tapi pengguna tersebut masih bisa buka atau akses WhatsApp, misalnya cek chat history (kalau ada back up device).

Photo by Adem AY on Unsplash
Photo by Adem AY on Unsplash

Dikutip dari Tempo, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan bahwa pembaruan dan opsi yang diberikan WhatsApp itu akibat dari WhatsApp sebagai aplikasi pesan yang terlalu mendominasi.

“Sehingga dengan posisinya yang dominan ini mereka berani mulai menekan penggunanya,” ujar dia melalui pesan WhastApp, Jumat malam, 8 Januari 2021.

Menurut Alfons, perusahaan milik Mark Zuckerberg itu harusnya ngasih pilihan, jika pengguna WhatsApp gak mau share datanya ke Facebook, boleh pilih fitur berbayar. Kalau ingin tetap gratis, maka datanya boleh dibagikan ke Facebook.

Namun, Alfons menilai, perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu justru arogan karena gak memberikan pilihan tersebut. Malah cenderung maksa penggunanya buat nerima kalau masih mau pakai WhatsApp, otomatis harus bersedia ditumbalin jadi “produk”.

Senada dengan pernyataan Alfons, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk juga mengajak pengikutnya di akun Twitter pribadinya buat leih milih aplikasi pesan Signal.

Elon Musk bahkan sempat memposting meme yang menggambarkan Mark Zuckerberg lagi bohongin anak, saat mengomentari link berita dari The Hacker News soal kebijakan baru WhatsApp.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation