Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Next Video

Toxic Relationship Ngancurin Diri Gue

Gak banyak pasangan yang berani menceritakan pengalaman toxic relationshipnya. Takut disalahkan, ketahuan orang tua dan pemahaman berantem pacaran adalah masalah pribadi jadi kendala mereka untuk bercerita. Ini yang membuat kasus toxic relationship atau kekerasan dalam pacaran gak diketahui oleh banyak muda. Cathy Hutagalung memberanikan diri untuk menceritakan pengalamannya. Kekerasan ia terima selama 3 tahun pacaran membuat dirinya hancur secara fisik, mental dan sosial. Hanya kemauan diri satu-satunya cara keluar dari toxic relationship.

Awal mula pacaran memang belum kelihatan kekerasan pacaran pada Cathy. Semua terjadi pada kebanyakan orang pacaran seperti berbagi kasih sayang, perhatian dan bersikap manis satu sama lain. Tanda kekerasan muncul setelah 3 bulan berpacaran yang diawali dengan sikap dominasi ditunjukkan oleh mantannya.

Setelah itu kekerasan yang dialami oleh Cathy making meningkat kapabilitasnya. Setelah dominasi, pengekangan dan kata-kata kasar, berubah menjadi kekerasan fisik. Hampir setiap kali bertengkar dengan mantannya selalu berujung kekerasan fisik seperti sundutan rokok, tinju dan hantaman kepala ke tembok. Cathy pun pasrah dan tidak membalas.

Mental Cathy sudah lelah, satu momen ia pernah menyilet diri sendiri karena disuruh oleh mantannya tersebut. Perintah menyakiti diri sendiri sebagai bentuk hukuman sang mantan untuk Cathy karena masalah sepele.

Mungkin lo akan bertanya-tanya kenapa sih masih mau aja pacaran sama orang kaya gitu? Jawabannya adalah karena relasi ketergantungan yang dipupuk oleh pasangan. Buat orang yang merasakan toxic relationship keluar dari lingkar ini gak mudah.

Alasan mereka tetap bertahan mulai dari faktor psikologis dan sosial. Rasa kepercayaan diri yang direnggut atau didominasi oleh pasangan membuat korban kekerasan dalam pacaran ketergantungan. Buat korban hidupnya akan lebih berarti jika dijalani bersama oleh pasangannya. Selain itu stigma masalah pacaran adalah masalah pribadi membuat orang yang terjebak dalam kekerasan dalam pacaran sulit mendapat pertolongan.

Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2020 angka kasus Kekerasan Dalam Pacaran sebanyak 1.815 kasus. Bisa jadi kabar gembira karena angkanya alami penurunan dibanding tahun 2019 sebanyak 2.073 kasus. Namun, secara data lapangan belum tentu karena banyak korban KDP yang gak melaporkan kasusnya ke penegak hukum atau LSM. Latar belakangnya karena takut dihakimi dan hukum masih anggap KDP sebagai perilaku menyimpang sehingga kalau terjadi pada seseorang jadi tanggungan pribadi.

Cara terbaik adalah menyelamatkan diri dari jerat toxic relationship. Teman atau penegak hukum belum tentu bisa menyelamatkan seseorang dari toxic relationship. Hanya kesadaran dan kemauan diri sendiri yang bisa menyelamatkan. Oleh karena itu pahami dan kenali ciri-ciri toxic relationship.

LATEST