Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Next Video

Pelaku Pemerkosaan Bintaro Akhirnya Terkuak dan Baru Diperiksa

Pelaku pemerkosaan Bintaro akhirnya ditangkap hari Minggu (09/08) kemarin. Saat ditangkap pelaku berdalih awalnya berniat mencuri rumah AF. Namun, karena kepergok korban ia panik hingga memukul korban. Tapi alih-alih kabur tetap saja pelaku malah memperkosa korban yang hampir tidak sadarkan diri. Kasus pemerkosaan bintaro ini terjadi bulan Agustus tahun lalu.

Menurut Kasatreskrim Polres Tangsel, AKP Muharram Wibisono pelaku bisa dijerat 3 pasal sekaligus. Penegak hukum membuka kemungkinan dengan jeratan UU ITE. Selain itu ada dua pasal lagi yang dilanggar pelaku pasal pencurian dan pemerkosaan. "Untuk saat ini kita kenakan pasal 285 KUHP dan pasa 365 KUHP," ujar Wibisono dalam konferensi pers.

Kasus pemerkosaan bintaro ini sempat mandeg di kepolisian karena kurang bukti. Saat itu korban setelah alami pemerkosaan langsung berusaha visum ke rumah sakit dan lapor ke polisi. Karena dianggap masih kurang bukti kasus belum diproses kepolisian.

Alhasil pelaku masih bebas berkeliaran pasca melakukan perkosaan. Korban sempat mengalami teror dari pelaku lewat sosial media. Selain itu pelaku sempat mengancam AF apabila melapor kepada polisi.

Neqy, Founder perEMPUan, LSM yang bergerak mengadvokasi kekerasan seksual di ruang publik, mengaku heran dengan alasan kurang bukti. Padahal polisi saat itu bisa memakai hasil pemeriksaan psikologis korban sebagai luka perkosaan. "Kan rekam psikologis bisa dipakai sebagai bukti awal bahwa korban memang alami perkosaan," ujarnya via telepon.

Ia pun mengakui sulit untuk membuktikan kasus pemerkosaan kalaua tidak ada bukti atau saksi. Apa lagi kalau penegak hukum terkesan abai dalam menangani kasus. Namun, tidak menutup kemungkinan ini bisa diproses. Salah satunya dengan mendengarkan kesaksian korban terlebih dahulu tanpa judgemental.

Sulitnya proses pidana kekerasan seksual juga terjadi karena lemahnya aturan hukum kita. Selama ini aturan hukum masih menganggap kekerasan seksual sebagai pelanggaran asusila. Sehingga, pembuktian sangat subjektif dan bergantung pada kesaksian orang lain. Kalau saja kekerasan seksual dianggap sebagai kejahatan kekerasan terhadap hak orang lain, maka perspektif korban akan dikedepankan. "Makanya dalam kasus ini saja RUU PKS penting. Bagaimana hukum utamakan hak korban kekerasan seksual," tambah Neqy.

 

LATEST