Adik Maafkan Pembunuh Sang Kakak | Opini.id
Next Video

Adik Maafkan Pembunuh Sang Kakak

Kamu yang suka menyimpan dendam mungkin bisa belajar dari kisah Brandt Jean. Pemuda asal Dallas, Amerika Serikat ini bisa maafin orang yang udah membunuh kakaknya.
 
Ceritanya berawal saat Guyger baru saja pulang. Selama 14 jam dia berada di lapangan sebagai sheriff Dallas. Dia baru saja menyusuri lorong menuju apartemennya dengan nomor 1378. Tiba di depan pintu, raut wajahnya mengeras. Pintu apartemennya tak terkunci.
 
Dia langsung memegang pistol. Saat itu dia masih mengenakan seragam aparat lengkap dengan semua peralatan. Di ruang tamu, dia menemukan sesosok pria berkulit hitam duduk menonton TV sambil makan es krim.
 
Entah apa yang dipikirkan, perempuan 31 tahun tersebut langsung menarik pelatuk dan menembak pria itu.
 
”Saya pikir ini apartemen saya. Ya Tuhan,” ujar Guyger kepada operator saluran darurat, seperti dilansir CNN. Guyger tak mengecek bahwa apartemen yang dimasukinya itu sebenarnya bernomor 1478. Beda satu lantai dengan apartemennya. Pria yang ditembak merupakan penghuni apartemen tersebut, Botham Jean.
 
Saat sidang, Brandt Jean yang duduk di kursi saksi ruang pengadilan memberikan tanggapan. Baru saja dia mendengar bahwa pembunuh Botham Jean, kakak kandungnya, dihukum sepuluh tahun penjara.
Brandt gugup. Kalimat yang sama diucapkan berulang-ulang.
 
Sesekali, kerah kemeja ungu yang mencekik lehernya dilonggarkan. Meski begitu, dia masih menyentuh hati hadirin yang berada di sidang putusan Rabu lalu.
 
”Saya seharusnya tidak mengatakan ini di depan keluarga saya. Tapi, saya tidak ingin kamu ke penjara,” ungkap dia seperti yang dilansir The Guardian.
 
Brandt tahu. Biasanya kata terakhir dari keluarga korban adalah harapan agar pelaku bisa membusuk di penjara. Namun, remaja 18 tahun itu merasa hal tersebut akan bertentangan dengan keinginan mendiang kakaknya.
 
Jika masih hidup, lanjut dia, Botham pasti tak ingin keluarganya menuntut si pelaku. Mengingat sosok kakaknya yang religius, dia pasti meminta pelaku mengadu ke Tuhan. ”Saya menyayangimu seperti saya menyayangi orang lain. Saya berharap yang terbaik buatmu,” ucapnya.
 
Brandt tak betah duduk di ruang pengadilan. Dia ingin segera turun. Namun, ada satu yang ingin dilakukan sebelum turun. Memeluk pembunuh kakak kandungnya. Butuh beberapa saat sebelum hakim Tammy Kemp membolehkan permintaan Brandt.
 
Brandt pun berjalan ke sisi kursi terdakwa. Tanpa menunggu, Amber juga berjalan menghampiri Brandt. Keduanya pun saling berpelukan sambil diiringi isak tangis Amber yang tak percaya kalau ada orang yang bisa memaafkannya. Ah, andai semua orang bisa sebaik Brandt, mungkin dunia ini bisa jadi lebih damai dan tentram.
Komentar
Fresh