Korban Pelecehan Kok Disalahin? | Opini.id
Next Video

Korban Pelecehan Kok Disalahin?

BN mahasiswi asal Jakarta dilecehkan oleh penumpang lain didalam kereta saat menuju Surabaya. Ia naik kereta Jakarta-Surabaya untuk kembali kuliah sehabis liburan di rumah bersama keluarga.

Dalam perjalanan dia dilecehkan oleh penumpang berinisial AR saat sedang tidur. BN sempat diajak mengobrol panjang oleh pelaku mulai dari profesi, keluarga dan hubungan asmara.

Karena merasa tidak nyaman BN tidur di kursinya. TIba-tiba dia digerayangi oleh pelaku yang berada disebelahnya.

Sesaat BN diam karena ketakutan dan berusaha cari pertolongan lewat sosial media. Lalu temannya menelfon minta dirinya lapor ke satpam.

BN beranikan diri untuk melapor ke satpam.

BN dan pelaku dipertemukan oleh pelaku untuk melakukan mediasi. Namun, alih-alih mendengarkan keluhan BN petugas kereta justru menyalahkan pakaian BN.

Kasus berakhir secara kekeluargaan namun BN merasa tidak terima dengan perilaku petugas KAI tersebut.

Co-Founder Lentera Sintas Indonesia dr Sophia Hage menyayangkan perilaku petugas KAI tersebut. Sophia justru melihat ada perilaku menghakimi yang dilakukan petugas ke korban pelecehan.

KAI bisa belajar dari KCI, perusahaan yang sama soal penanganan pelecehan seksual di ruang publik.

Harusnya petugas bisa mendengarkan lebih dulu apa yang baru saja dia alami. Dan langsung mengantarkannya ke proses pelaporan hukum.

Tonton juga:

Korban kekerasan seksual dipaksa bungkam oleh masyarakat melalui tekanan sosial dan labelling yang diberikan kepada korban. Korban tidak punya ruang untuk berekspresi atau curhat untuk melepas bayang-bayang masa lalunya. Akibatnya korban merasa depresi, tertekan hingga bunuh diri karena hantu masa lalu. House of the Unsilenced memberi ruang untuk korban kekerasan seksual berekspresi lewat seni. Inisiator acara, Eliza Vitri Handayani ingin korban ceritakan perjuangan mereka untuk pulih dari masa lalunya. Penulis novel tersebut ajak seniman untuk memberikan lokakarya kepada para korban kekerasan seksual. Hasil karya mereka dipamerkan di Galeri Cemara 6. Berbagai macam medium seni di pamerkan seperti seni rupa, instalasi, karya sastra dan teater. Eliza juga mengajak seniman rajut dan kolase, Ika Vantiani untuk menjadi kurator. Acara juga didukung oleh organisasi nirlaba yang bergerak di isu perempuan seperti Hollaback, LBH APIK.

Komentar (3)
Fresh