Filosofi di Balik Kesunyian Nyepi Bagi Kehidupan Manusia | OPINI.id
Filosofi di Balik Kesunyian Nyepi Bagi Kehidupan Manusia

Tahun Baru Saka (Caka) yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, artinya di saat “Uttarayana” (hari pertama matahari dari khatulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), dirayakan dengan sepi yang kemudian bernama Nyepi atau Hari Raya Nyepi.  

Hari raya ini menurut penanggalan Hindu jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih X (kedasa) atau tepatnya sehari sesudah tilem ke IX (kesanga) yang akan dirayakan umat Hindu di Bali maupun di seluruh Indonesia pada hari ini, Kamis (07/03/3019) mulai pukul 06.00 pagi hingga Jumat (08/03/2019) pukul 06.00 pagi, dengan menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu menjalankan 4 pantangan yang wajib dilaksanakan oleh umat Hindu.

Empat pantangan tersebut adalah : 1. Amati Geni: berpantang menyalakan api, lampu atau alat elektronik, 2. Amati Karya: menghentikan kerja atau aktivitas fisik, 3. Amati Lelanguan:  berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan duniawi dan 4. Amati Lelungaan : dilarang bepergian.

Menurut, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana, empat pantangan tersebut intinya adalah melihat ke dalam diri kita sendiri dengan menggunakan mata batin, apa yang telah terjadi dan bagaimana relasi kita sebagai manusia selama ini dengan sesama, Tuhan dan alam semesta.

Secara filosofi Nyepi adalah proses pergantian tahun Caka, dari tahun lama ke tahun yang baru, dari kehidupan 'lama' menuju kehidupan 'baru'. Nyepi asal katanya sepi atau hening ini berarti mengajarkan manusia mengutamakan hidup dalam suasana damai yang hening dan harmonis.

Nyepi adalah hari yang hening guna memberi kesempatan bagi manusia melakukan Mulat Sarira (introspeksi diri/kembali ke jati diri). Melalui Nyepi, manusia mengevaluasi kembali relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan penciptanya serta manusia dengan alam atau dikenal dengan Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain Tri Hita Karana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksanakannya. Tekad yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat manusia. Tri Hita Karana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang manusia atau sekelompok orang saja. Tapi harus dilakukan bersama-sama oleh semua umat manusia, bahkan manusia dari agama apapun, dan dari suku maupun asal manapun.

Saat Nyepi, manusia menghentikan segala aktivitas rutinnya sehari-hari. Ketika ini terjadi, maka alam kemudian akan bebas bergerak sesuai rotasinya tanpa campur tangan manusia. Tidak ada paksaan atau dipaksakan sesuai keinginan manusia. Alam dikembalikan pada kemurnian dan harmonisasi yang alami.

Tanpa aktivitas manusia, alam juga akan turut beristirahat, memulihkan segala kebutuhan kehidupannya, selain itu udara bersih yang terjadi saat Nyepi akan berdampak juga pada kualitas kehidupan manusia.

Saat Nyepi, manusia dan alam semesta sama-sama akan mencari keseimbangan dan memperbaiki diri dalam relasinya, sebab jika manusia rusak maka alam juga pasti rusak, sebaliknya jika alam rusak pasti manusianya juga rusak. Di sanalah letak keseimbangannya.

Nyepi juga berarti melakukan penyucian bhuana alit (manusia/mikro kosmos) dan bhuana agung (alam semesta/makro kosmos) sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).

Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indra manusia diredakan dengan kekuatan manah (fikiran)  dan budhi (pemahaman). Sekaligus meredakan nafsu atau keinginan indra untuk urusan duniawi yang dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup manusia semakin meningkat. Biasanya bagi umat Hindu yang memiliki kemampuan khusus, saat Catur Brata Penyepian ini akan melakukan juga tapa yoga brata samadhi.

 

Komentar

Fresh