Berhenti Jadi Follower, Anak Muda Harus Punya Inovasi | OPINI.id
Berhenti Jadi Follower, Anak Muda Harus Punya Inovasi

Gak gampang menciptakan sebuah produk yang laku dijual. Tapi bukan tidak mungkin hal itu dilakukan. Meskipun ada saja tantangannya. Apa saja?

Founder D-Tech Engineering, Arfian Fuadi, mengungkapkan tantangan menjadi inovator produk di Indonesia. Arfian sadar bahwa ternyata kemampuan inovasi di Indonesia rendah. Budget inovasi juga masih minim.

“Kalau tidak salah, katanya, ongkos inovasi per tahun sebesar USD 1 miliar. Di Amerika ongkosnya USD 450 miliar. Artinya setara 1 berbanding 450,” kata Arfian saat berbincang dengan Komunitas Opini90 di Salatiga, Senin (25/2/2019).

Tahun 2018, paten Indonesia yang berhasil dipatenkan di tingkat internasional oleh 5 badan paten dunia cuma 20 paten per tahun. Sementara Amerika, kata dia, ada 47 ribu paten.

“Berarti ada yang salah dengan kemampuan inovasi kita.”

Padahal, lanjut dia, D-Tech Engineering mengeluarkan rata-rata 35 paten per tahun. Pada 2015 D-Tech Engineering pernah mendapatkan 60 proyek. Tapi paten D-Tech punya klien, misalnya di Amerika.

Bahkan, satu desain sayap pesawat D-Tech ada yang mendapatkan sembilan paten dari Kanada, Uni Eropa, dan Amerika. Itu baru sayap pesawat saja.

“Kita concern di situ. Makanya kami ingin sekali membuat Innovation Camp buat para inovator lokal. Output-nya global startup,” kata dia.

Arfian Fuadi adalah engineering designer kelas dunia yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di bidang teknologi.

Pemuda asal Salatiga ini berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga.

Produk hasil karya desain D-Tech Engineering saat ini sudah dipasarkan di 30 negara di dunia. Termasuk sebuah pesawat ultralight yang digunakan untuk pertanian di Amerika.

Masalah lain adalah market yang belum terbiasa dengan inovasi produk. Arfian menuturkan, pengalamannya saat mulai menggunakan platform Kickstarter, sebuah platform bagi startup memasarkan produknya lewat crowdfunding.

Pasar di Indonesia belum terbiasa dengan cara membeli produk lewat crowdfunding. Cara mencari pendanaan lewat crowdfunding masih bisa laku bagi model startup sosial, tapi di Indonesia sulit diterapkan untuk memasarkan produk.

Menembus pasar global lewat Kickstarter pun terbilang sulit bagi inovator lokal karena persyaratan administrasi, kecuali mencari partner.

Tapi Arfian tak patah arang. Dia tetap berharap anak muda tertarik untuk berkreasi menciptakan produk. Cara yang ia lakukan adalah dengan menggaet pelajar Sekolah Menengah Kejuruan.

Suasana meja workshop yang sederhana tapi hasilkan desain kelas dunia (Opini.id/Indra Yuriko)
Suasana meja workshop yang sederhana tapi lahirkan karya kelas dunia (Opini.id/Indra Yuriko)

Menurut dia, sumber daya di SMK yang sangat potensial itu belum terintegrasi. Mereka harus membuat sesuatu, memaksimalkan kreativitas dan ide sehingga bisa membuat produk laku di pasaran. Tujuannya supaya lulusan SMK tidak hanya sekadar menjadi operator alat.

“Kreativitas harus naik, jangan cuma jadi operator aja, tapi harus menciptakan.”

Lulusan SMK, kata dia, sebetulnya sangat potensial untuk menjadi inovator. Di atas kertas, bukan hal yang sulit. Bisa kok!

Hanya saja butuh orang yang mengantarkan mereka, mengenalkan jalur yang sesuai dan memotivasi. Apalagi, lanjut dia, alat kerja di SMK saat ini terbilang modern. Hanya kurang dipakai sebagai latihan. Semestinya hal ini bisa lebih dioptimalkan.

D-Tech Engineering saat ini sering melakukan pelatihan-pelatihan ke SMK. Baik berupa workshop atau memberikan kesempatan magang. Tujuannya agar calon-calon lulusan SMK nanti siap menghadapi lapangan kerja.

“Di sini mereka diajarkan untuk berhadapan dengan kompetisi inovasi,” katanya.

Sudah saatnya Indonesia punya kekuatan untuk menciptakan produk-produknya sendiri yang laku dijual di pasar global. Jangan lagi menjadi follower atau konsumen saja!

Apakah kamu tertarik bikin produk yang laku dijual?
Ya
Tidak
6 votes

Komentar

Fresh