Hati-hati Beritakan Kasus Bunuh Diri | OPINI.id
Hati-hati Beritakan Kasus Bunuh Diri

Belakangan ini banyak kasus bunuh diri yang beredar luas di media sosial. Kasus-kasus tersebut juga banyak dimuat dalam media massa, baik cetak maupun online. Meski demikian, tak banyak masyarakat yang tahu, publikasi kasus bunuh diri merupakan hal yang sensitif. Pada ujungnya membuat perasaan trauma kepada setiap orang yang melihatnya.

Berbicara mengenai fenomena bunuh diri, pendiri komunitas kesehatan jiwa Into The Light, Benny Prawira menegaskan, bahwa tidak semestinya masyarakat turut menyebarkan foto maupun video terkait aksi bunuh diri ke media sosial. Menurutnya, hal ini justru yang memicu dampak kesehatan jiwa terus-menerus bagi rekan dan keluarga korban serta masyarakat pada umumnya.

“Bahkan kita juga nggak tahu bahwa merekam itu (kejadian bunuh diri) lalu di-upload, itu bisa mempengaruhi teman-teman yang depresi jadi suicidal juga,” ucap Benny.

Benny berpendapat, pemberitaan media massa yang memuat kasus-kasus bunuh diri juga harus diperhatikan betul penulisan dan pengemasannya. Jika melihat isi berita terkait isu tersebut, umumnya media menyebutkan metode atau cara bunuh diri itu sendiri secara rinci. Padahal itu sama sekali tidak diperbolehkan karena dapat melahirkan werther effect, yakni efek pendorong orang depresi atau yang memiliki masalah serupa untuk ikut bunuh diri. Tak jarang pula media massa menarik kesimpulan mengenai penyebab tunggal, mengapa seseorang mengakhiri hidupnya, padahal dapat dipastikan banyak sekali faktor yang mempengaruhinya.

“Contohnya waktu disebut bunuh diri dengan metode apa, menyebut penyebab tunggalnya misalnya karena korban patah hati, terus dia gantung diri. Itu nggak tepat, nggak mendidik, nggak informatif, dan yang ada justru malah membuat seolah-olah masalahnya itu-itu aja,” ujar Benny.

Padahal semestinya, pemberitaan cukup hanya dengan memberi informasi dasar seperti lokasi kejadian dan inisial korban. Kemudian harus disertakan pula informasi terkait pencegahannya serta kontak bantuan untuk masyarakat yang mengidap depresi atau kesehatan mental. Dari sini, terlihat bahwa pengetahuan jurnalis terhadap isu bunuh diri masih rendah.

Hal tersebut bukan tanpa bukti. Menurut survei mengenai pengetahuan jurnalis tentang isu bunuh diri yang dilakukan komunitas Into the Light bersama Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), sebagian besar jurnalis yang telah bekerja 6-10 tahun, menganggap kejadian bunuh diri dari tokoh publik adalah hal yang luar biasa. Sementara jurnalis yang baru bekerja 1-5 tahun menganggap kematian akibat bunuh diri lebih layak diberitakan, daripada menginformasikan tentang pemikiran dan perencanaan bunuh diri seseorang.

Berkaitan dengan hal ini, Into the Light sebagai komunitas pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa, tengah berupaya menurunkan angka bunuh diri di Indonesia. Hingga saat ini, Into the Light tengah membangun kerja sama dengan beberapa kampus baik dalam maupun luar negeri untuk memberikan edukasi pencegahan bunuh diri, serta mengembangkan pedoman pemberitaan bunuh diri yang sehat untuk media massa di Indonesia. (Edo)

Komentar

Fresh