Siapa Bilang Pemerintah Tak Peduli Kasus Bunuh Diri? | OPINI.id
Siapa Bilang Pemerintah Tak Peduli Kasus Bunuh Diri?

Banyak yang beranggapan kalau sebagian orang apatis dan sudah tak peduli lagi
terhadap kasus dan aksi bunuh diri. Berangkat dari viralnya video aksi bunuh diri yaitu seorang pemuda lompat dari gedung swalayan di Lampung, isu bunuh diri pun kembali mencuat ke media. Banyak orang yang bilang, jika rasa kemanusiaan saat ini hilang.

Buktinya, ada teriakan wanita "Loncat-loncat," yang seakan menyuruh pelaku
melancarkan niatnya, di salah satu rekaman video bunuh diri yang beredar di media sosial. Ada alasan sendiri kenapa bunuh diri itu masih jadi hal yang tidak begitu diperhatikan.

Harus diakui sikap peka dan peduli warga masyarakat pada sekitar memang semakin sulit didapat di zaman modern ini, karena kurangnya waktu berinteraksi dan berkomunikasi. Padahal, jika kita bisa bersikap lebih peka dan berempati maka kematian sia-sia seperti bunuh diri bisa dicegah.

Tapi memang hingga saat ini, kesehatan jiwa masyarakat seringkali masih
terabaikan, padahal masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan yang
besar namun terlupakan dan angka gangguan jiwa semakin besar dan meningkat.

Pada tahun 2020, gangguan depresi diperkirakan menjadi beban penyakit kedua
terbesar setelah kardio-vaskuler. Pasalnya, kebanyakan pelaku bunuh diri berawal
dari depresi. Hasil identifikasi tersebut diyakini menjadi faktor pemicu seseorang
mengakhiri hidupnya.

Meski Kemenkes RI telah banyak melakukan upaya dan di tahun 2014 telah
diterbitkan Undang-undang no 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa masyarakat. Namun, sejauh ini, belum terlihat perubahan sistemik dalam sistem kesehatan di Indonesia.

Beberapa hambatan yang masih menghadang adalah sistem Jaminan Kesehatan
Nasional yang tidak memberikan tanggungan pelayanan kesehatan akibat gangguan kesehatan yang sengaja menyakiti diri sendiri dan politik penganggaran yang masih kurang berpihak pada kesehatan jiwa. 

Sementara itu, menurut dr. Eka Viora, Sp.KJ yang pada tahun 2014 lalu masih
menjabat sebagai Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, bunuh diri merupakan masalah yang kompleks karena tidak diakibatkan oleh penyebab atau alasan tunggal, karena merupakan interaksi yang kompleks dari faktor biologik, genetik, psikologik, sosial, budaya dan lingkungan.

Sulit untuk menjelaskan mengenai penyebab mengapa orang memutuskan untuk
melakukan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yang sama bahkan lebih buruk tetapi tidak melakukannya. Meskipun demikian, tindakan bunuh diri atau percobaan bunuh diri pada umumnya dapat dicegah.

"Bunuh diri dapat dicegah," tegas dr Eka Viora, dan ini menjadi kewajiban semua
anggota masyarakat untuk dapat melakukan tindakan yang akan menyelamatkan
kehidupan dan mencegah bunuh diri pada individu dan keluarga. Untuk
melaksanakan hal ini sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu,
keluarga, masyarakat, profesi dan pemerintah untuk bersama-sama mengatasi
masalah yang dihadapi warga terkait penyakit depresi yang bisa menjurus pada
perbuatan bunuh diri.

Masyarakat harus bergerak dan berperan aktif untuk menolong sesama, khususnya pada pelaku yang memiliki masalah depresi dan memiliki niat bunuh diri, dengan 3 cara berikut :
1. LIHAT artinya: kita harus memiliki kepedulian pada situasi lingkungan terdekat
maupun kondisi seseorang. Hingga perubahan perilaku seseorang bisa dikenali oleh orang di sekitarnya.
2. DENGAR artinya: memiliki kepedulian untuk mendengarkan dan berempati
terhadap masalah yang dihadapi teman atau orang-orang terdekat, maupun
masyarakat sekitar.
3. SAMBUNGKAN artinya: Jika kita tak bisa membantu langsung atau menanggulangi masalah yang dihadapi seseorang yang memiliki kencederungan melakukan bunuh diri, maka kita haru memiliki kepedulian untuk menyambungkan atau menginformasikan unit-unit layanan kesehatan terdekat, layanan sosial atau keagamaan terdekat, maupun layanan bantuan kemanusiaan lainnya yang ada, agar pelaku bisa ditangani sedini mungkin.

Hal lain yang telah dilakukan Kemenkes RI terkait kasus bunuh diri, adalah dengan meluncurkan aplikasi yang bisa diakses oleh warga masyarakat melalui Google Play Store dengan keyword "Sehat Jiwa" atau bisa juga buka situs http://sehat-jiwa.kemkes.go.id/ untuk mendapatkan informasi selengkapnya mengenai info pelayanan kesehatan jiwa termasuk informasi, pelaporan, deteksi dini serta pencegahan bunuh diri.

Selain itu, ada lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk
melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:

1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk
mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam. 

Setuju ga, kita harus peduli dan membantu jika ada teman yang mengalami depresi?
Setuju banget
Biasa aja
Ga setuju, itu kan urusan orang
92 votes

Komentar (1)

Fresh