Ada Kuburan Khusus Buat Satelit Usang | OPINI.id
Ada Kuburan Khusus Buat Satelit Usang

Tak hanya di daratan atau laut, ternyata manusia juga suka buang sampah sembarangan di luar angkasa sana. Menurut laporan NASA, hingga Juli 2016 tercatat bahwa ada 17.852 objek buatan manusia yang mengorbit di luar bumi. Dari jumlah tersebut, hingga 2017, ada 1.738 satelit yang masih berfungsi.

Berdasarkan kegunaannya, peluncuran satelit paling banyak untuk tujuan komersial dengan jumlah mencapai 768 unit atau sekitar 44% yang mengorbit di angkasa. Kemudian terbanyak kedua adalah untuk kepentingan pemerintah 337 unit, dan ketiga untuk tujuan militer sebanyak 263 unit.

Sementara satelit yang terdaftar dari Indonesia berjumlah delapan buah, ditambah satu lagi satelit berteknologi canggih Nusantara Satu yang sukses diluncurkan ke angkasa pada Jumat (22/02/2019) pukul 08.45 WIB dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Bersama satelit milik Indonesia ini, ada ribuan satelit lainnya di luar angkasa yang mengelilingi Bumi dengan titik penempatan yang berbeda-beda. Namun satelit-satelit ini juga tidak akan bertahan selamanya alias memiliki batas usia pemakaian atau masa aktif tertentu. Bahan bakar yang terbatas dan lingkungan luar angkasa yang keras juga menjadi masalah tersendiri bagi satelit-satelit tersebut.

Jika suatu saat sudah tak digunakan lagi maka satelit-satelit ini perlu dipindahkan dari orbitnya agar tidak mengganggu kerja satelit lain yang masih digunakan sekaligus tidak menghalangi perjalanan satelit baru ke luar angkasa. Lantas bagaimana nasib satelit usang ini di atas sana?

Ternyata satelit usang atau yang sudah tidak digunakan lagi akan diparkirkan di suatu tempat, ada aturan internasional yang berlaku untuk semua negara yang meluncurkan satelit di luar angkasa.  

Selain memiliki usia tertentu, satelit juga memang dirancang masih menyisakan bahan bakar saat sudah selesai masa operasinya. Bahan bakar tersebut akan digunakan untuk memindahkannya ke 'peristirahatan terakhir' atau kuburan khusus.

Mengutip dari situs resmi NASA dan media astronomi LangitSelatan, ada dua pilihan yang bisa ditempuh untuk mengistirahatkan satelit, tergantung ketinggiannya. Pertama, untuk satelit ketinggian rendah, engineer akan memakai sisa bahan bakar untuk memperlambatnya. Dengan cara itu, satelit akan jatuh dari orbit dan terbakar di atmosfer.

Satelit yang letak orbitnya tak jauh dari atmosfer Bumi, biasanya satelit akan diarahkan mendekat ke Bumi. Gravitasi akan menarik satelit itu masuk ke dalam atmosfer Bumi. Gaya gesek dengan atmosfer akan membuatnya terkikis menjadi kecil bahkan terbakar. Kebanyakan sisa satelit tidak akan mencapai permukaan Bumi. Sisa satelit itu sudah terbakar habis sebelum menyentuh permukaan Bumi. Peristiwa jatuhnya satelit ini akan terlihat seperti meteor atau bintang jatuh.

Sedangkan pilihan kedua adalah memindahkan satelit lebih jauh lagi dari Bumi. Satelit yang letaknya terlalu jauh dari atmosfer Bumi memang menjadi masalah tersendiri. Dahulu, satelit ini dibiarkan saja mengembara dengan bebas di luar angkasa. Sisa-sisa satelit itu menjadi sampah antariksa. Baru beberapa tahun terakhir ini sampah antariksa menjadi masalah karena mengganggu penerbangan ke ruang angkasa.

Satelit-satelit itu tidak dapat ditarik mendekati Bumi karena keterbatasan bahan bakar. Akhirnya dibuatlah orbit khusus untuk satelit yang sudah tak digunakan lagi, namanya orbit pembuangan. Orbit pembuangan letaknya sangat jauh dari orbit normal.

Maka jika satelit berada di orbit yang lebih tinggi, cara kedua akan lebih banyak dipilih. Satelit diterbangkan lebih tinggi lagi ke angkasa, karena cara ini akan memakan lebih sedikit bahan bakar. Jadi, ada semacam tempat pemakaman atau orbit pembuangan satelit di atas sana. Orbitnya sekitar 321 kilometer lebih jauh dari satelit terjauh yang masih aktif. Sedangkan dari Bumi, maka jaraknya kira-kira 36 ribu kilometer.

Satelit Meteosat-7 - directory.eoportal.org

Seperti, satelit Meteosat-7 yang pada bulan April 2017 lalu, sudah menyelesaikan tugasnya  selama hampir 20 tahun. Satelit Meteosat-7 yang mengorbit Bumi dari ketinggian 817 km ini melakukan manuver dan berhasil mencapai lokasi peristirahatan terakhirnya, di Orbit Pembuangan.

Meteosat-7 merupakan bagian dari kelompok satelit cuaca yang terus menerus meliput kondisi Bumi. Tujuannya untuk memperoleh prakiraan cuaca dan peringatan tanda bahaya. Tidak ada monsun atau badai salju yang tidak terdeteksi oleh satelit-satelit ini. Merekalah yang ikut serta menyelamatkan jutaan orang yang tinggal di Bumi!. 

Komentar

Fresh