Ketinggian Satelit Saat Mengorbit Bumi | OPINI.id
Ketinggian Satelit Saat Mengorbit Bumi

Satelit Nusantara Satu (PSN VI) milik Indonesia diluncurkan ke angkasa dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, Jumat (22/02/2019), pukul 08.45 WIB. Satelit ini nantinya akan ditempatkan pada posisi di atas equator pada 146 BT dan bergerak bersamaan dengan rotasi bumi.

Ngomong-ngomong soal posisi satelit setelah mengorbit, ternyata punya aturan tersendiri, tak bisa sembarangan 'parkir' di orbitnya. Ada ketinggian khusus sesuai fungsi dan misi masing-masing satelit tersebut. 

Seperti kita tahu, satelit merupakan objek yang berada di orbit dan bergerak mengelilingi sebuah planet. Secara sederhana satelit dibagi menjadi 2 jenis yaitu: satelit alam dan satelit buatan. Satelit alam adalah satelit yang memang berasal dari alam, seperti Bulan yang mengitari Bumi. Sedangkan satelit buatan adalah satelit yang dibuat oleh manusia dan ditempatkan di suatu orbit.

Untuk bisa mengorbit Bumi, satelit ini akan diluncurkan dengan roket ke ketinggian yang dituju dan selanjutnya ia akan memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk mengorbit.  

Satelit akan diluncurkan pada ketinggian orbit yang berbeda berdasarkan misinya masing-masing. Salah satu orbit yang sering dituju adalah orbit geosynchronous dimana satelit membutuhkan 24 jam untuk mengorbit Bumi, sama seperti waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berotasi pada sumbunya.

Pada dasarnya, satelit memiliki fungsi yang beragam berdasarkan misi dibuatnya satelit tersebut.  Di antaranya, ada satelit yang dibuat untuk melakukan penelitian ilmiah, mengukur gaya gravitasi bumi, memantau gunung berapi, memantau cuaca, kebutuhan militer, navigasi, pencitraan Bumi, komunikasi dan lain-lain.  

Grafik: University of Waikato

Satelit buatan yang diluncurkan untuk mengorbit Bumi memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Jika diklasifikasikan maka satelit-satelit buatan tersebut ditempatkan pada 3 ketinggian yang berbeda:

Geostationary Earth Orbit (GEO) atau High Earth Orbit (HEO).  GEO merupakan satelit yang mengorbit pada ketinggian kurang lebih 35.768 kilometer di atas bumi. Di orbit ini satelit bergerak dengan kecepatan kira-kira 3 km/detik.

Satelit akan mengelilingi orbit dalam waktu selama 23,9 jam hampir sama dengan rotasi bumi. Dikarenakan kecepatannya di orbit yang sama dengan kecepatan rotasi bumi, maka satelit pada orbit GEO seakan diam dan selalu pada posisinya. Jadi apabila satelit berada di atas Indonesia atau negara lainnya, satelit tersebut akan selalu di atas negara tersebut.

Memiliki area cakupan yang luas. Hanya perlu beberapa satelit untuk meng-cover seluruh bumi. Contoh satelit pada orbit GEO antara lain: Satelit Palapa, Satelit Telkom, Garuda, IndoStar dan PSN yang baru saja meluncurkan Satelit Nusantara Satu.

Medium Earth Orbit (MEO). MEO merupakan satelit yang mengorbit mulai pada ketinggian 2.000–35.768 kilometer dari bumi, lebih rendah dari orbit GEO. Karena lebih dekat dengan permukaan bumi, periode satelit dalam mengelilingi orbit akan semakin tinggi. Sehingga jika dilihat dari permukaan bumi satelit akan tampak terus bergerak.

Satelit akan selesai mengelilingi orbit lebih cepat dari rotasi bumi, dalam waktu 5–12 jam per 1 kali putar. Karena kecepatan satelit pada orbit MEO sekitar 19.000 km/jam. Dikarenakan  kecepatan orbitnya lebih cepat dari rotasi bumi, maka satelit akan tampak bergerak jika dilihat dari bumi.

Orbit MEO ini biasanya digunakan untuk satelit-satelit penginderaan (pengolahan citra, cuaca dan lain-lain) termasuk juga sistem satelit GPS (Global Positioning Satellite) milik Amerika yang berada di ketinggian 20.000 km atau GLONASS(Global Navigation Satellite System) milik Rusia yang berada di ketinggian 19.000 km.

Low Earth Orbit (LEO). LEO merupakan orbit satelit dengan ketinggian yang paling rendah diantara yang lain. Ketinggian satelit pada orbit ini sekitar 500–2000 kilometer dari bumi. Memiliki karakteristik yang mirip dengan orbit MEO, dimana periode satelit dalam mengelilingi orbit lebih cepat dari rotasi bumi.

Satelit akan selesai mengelilingi bumi dalam waktu 1,5 jam, atau sekitar 16 kali dalam sehari. Dengan kecepatan 27.000 km/jam. Maka dengan kecepatan tersebut, satelit ini akan tampak bergerak jika dilihat dari bumi. Orbit LEO ini biasanya digunakan untuk satelit dengan sistem telekomunikasi bergerak pada mobile, seperti sistem satelit Iridium dan Global Star. 

Tahukah kamu saat ini ada lebih dari 1.000 satelit aktif buatan manusia di luar angkasa?
Tahu dong
Baru tahu
Ga penting juga musti tahu
39 votes

Komentar

Fresh