Jangan Biarkan Harga Cabai Naik Turun | OPINI.id
Jangan Biarkan Harga Cabai Naik Turun

Cabai adalah salah satu komoditas pangan favorit yang sudah menjadi bagian konsumsi harian masyarakat  Indonesia. Kalau belum menggigit cabai rawit segar bareng gorengan atau mengulek cabai merah jadi sambel, berasa ada yang kurang  gitu.

Namun, harga cabai seringkali naik turun, mengalami fluktuasi sepanjang tahun. Kadang bahkan naiknya meroket gak tanggung-tanggung. Kadang-kadang malah
harganya anjlok.

Selisih harganya bisa sangat besar. Cabai rawit pernah sentuh harga Rp 89.763/kg pada Februari 2017. Di sebagian tempat malah tembus Rp 100.000/kg. Tapi ada saatnya harganya anjlok hingga Rp 10.000/kg bahkan di bawah itu.

Setidaknya ada 3 alasan kenapa harga cabai selalu naik turun. Mungkin perlu terobosan dalam teknologi, model bisnis, dan keberanian politik buat mengatasinya.

1. Tergantung Musim

Petani cabai di Indonesia umumnya masih menanam cabai sesuai musim karena ditanam di lahan sawah atau pekarangan. Cabai banyak ditanam di musim kemarau. Cabai mudah busuk diserang penyakit jika kelembaban tinggi saat hujan.

Akibatnya saat panan raya di musim kemarau, pasokan cabai melimpah sehingga harga di pasar cenderung turun. Sementara di musim hujan saat pasokan cabai sedikit, harga jual tinggi. Gagal panen akibat serangan hama atau dampak kemarau
basah juga bisa menjadi pemicu tidak stabilnya harga cabai.

Saat ini memang ada penerapan teknologi tepat guna agar cabai lebih tahan cuaca. Atau strategi tanam di berbagai daerah dan pola distribusi agar panen cabai bisa
stabil setiap bulan. Namun, hasilnya belum terasa.

2. Umur Pendek

Cabai segar hanya bertahan beberapa hari. Sementara banyak orang suka mengonsumsi cabai segar. Karena itu rantai distribusi dari petik hingga sampai ke konsumen perlu dilakukan cepat. Sering menjadi masalah ketika pasokan banyak, namun kebutuhan tidak meningkat. Cabai akan berisiko busuk.

Selain pemetaan pola distribusi kebutuhan cabai segar, juga perlu terobosan agar cabai lebih awet disimpan. Mengubah pola kebiasaan masyarakat dari konsumsi cabai segar menjadi produk kemasan seperti sambel atau cabai bubuk mungkin bisa jadi solusi, namun tidak gampang mengubah kebiasaan.

Berani Coba Cabe Paling Pedas Sedunia?

Kenaikan Harga Rawit Amit-amit

3. Diserap Industri

Saat ini cabai dibutuhkan tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga tapi juga untuk kebutuhan industri. Antara lain industri olahan maupun hotel, restoran, dan kafe. Sayangnya pasokannya datang dari sumber yang sama.

Menjadi masalah ketika penyaluran ke industri terus meningkat sementara produksi tidak bertambah. Pasokan cabai di pasar menjadi berkurang sehingga harga naik.

Apalagi jika industri sudah melakukan kontrak sejak awal dengan kelompok tani sehingga mau tidak mau hasil panennya masuk ke sana. Dengan model ini, harga di industri stabil dan petani dapat kepastian harga, namun harga di pasar konsumsi masih naik turun.

Gambaran paling jelas dari masih belum teraturnya pengaturan rantai pasokan cabai adalah kejadian di Demak, Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Panen raya menyebabkan harga cabe anjlok dan petani melakukan unjuk rasa.

Petani Cabe Kemakan Hoax

Saat itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil inisiatif untuk memborong cabai para petani dan mendorong aparaturnya untuk membeli cabai petani dengan harga cukup tinggi. Tindakan resposif seperti ini patut diapresiasi. Namun, ini hanyalah solusi jangka pendek.

Perlu kebijakan politik yang lebih komprehensif agar harga cabai gak lagi naik turun. Misalnya lewat pemetaaan produksi dan konsumsi nasional, pengaturan pola distribusi cabai seluruh Indonesia, pengaturan pola tanam, penerapan teknologi, dan lain-lain.

Kamu team cabai mana?
Cabe rawit
Cabe merah
Cabe keriting
12 votes

Komentar

Fresh