7 Aksi Boikot Netizen Indonesia yang Bikin Heboh | OPINI.id
7 Aksi Boikot Netizen Indonesia yang Bikin Heboh

CEO Bukalapak Achmad Zaky bikin heboh dunia Maya dengan ngepost “Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD) , dst….” melalui akun twitternya @AchmadZaky. Postingan itu juga menyebutkan  Indonesia di posisi 43 dengan budget R&D sebesar 2 Milyar USD. Parahnya di akhir kalimat Zaky kembali bikin heboh dengan menuliskan “Mudah2an presiden baru bisa naikin”.

Banyak Netizen twitter yang baper dengan kata ‘presiden baru’, mereka mengartikannya Prabowo. Pastinya yang baper adalah pendukung Jokowi. Tidak perlu menunggu lama, muncul status dan komen hujatan buat Bukalapak dan tagar #UninstallBukalapak. Banyak netizen yang kecewa dengan pilihan Zaky dan ada juga yang kesal dengan CEO Bukalapak ini karena nimbrung terlalu dalam di politik praktis pilpres 2019.

Tidak butuh waktu lama buat Zaky untuk melakukan klarifikasi melalui status akun twitternya. Inti dari klarifikasinya adalah permintaan maaf buat pendukung Jokowi dan sebenarnya Zaky berusaha menggugah netizen akan pentingnya investasi di riset dan SDM, jangan sampai kalah dengan negara-negara lain. Apa daya netizen memiliki pendapat dan perspektif lain Zak.

Tidak hanya Bukalapak yang jadi korban aksi boikot Netizen Indonesia, berikut di bawah adalah aksi-aksi boikot menonjol yang ramai di netizen Indonesia :

Boikot Sari Roti

Sial memang, merek Sari Roti harus menghadapi aksi boikot produk di bulan Desember 2016. Pemboikotan ini karena pernyataan PT Nippon Indosari Corpoindo Tbk (NIC) di website-nya yang intinya bilang NIC tidak terlibat dalam semua kegiatan politik apapun. Surat Pernyataan ini muncul setelah viral di media sosial adanya foto/video penjual roti keliling (Hawker) yang memberikan roti merek Sari Roti secara gratis di aksi 212. Hari berikutnya setelah penerbitan Surat Pernyataan itu GNPF-MUI menyerukan umat Islam untuk boikot Sari Roti.

Tak ada reaksi dari Sari Roti menanggapi isu boikot itu, mereka tetap jualan seperti biasa. Apa efeknya kepada bisnis Sari Roti? Gak ada! Malahan dikutip dari Kompas, pendapatan NIC naik 16 persen sebesar 2,52 triliun dengan laba bersih Rp 279,9 miliar.

#UninstallGojek

Heboh tagar #UninstallGojek diakari dari postingan Facebook oleh salah satu petinggi Gojek (Brata Santoso) pada Oktober 2018. Postingan itu diindikasikan mendukung LGBT. Postingan menjadi heboh bisa jadi karena sebelumnya netizen lagi dihebohkan dengan isu adanya konten LGBT yang dibuat oleh pelajar Garut.

Dalam postingan Facebooknya, Brata Santoso mengatakan jika Gojek menerima beragam latar belakang karyawan termasuk LGBT. Parahnya kemudian Brata mem-post foto bendera/banner desain pelangi bertulisan Rainbow Ice Cream.

Tidak lama setelah kehebohan dan munculnya tagar UninstallGojek, pihak Gojek membuat semacam klarifikasi jika itu adalah pendapat salah satu karyawannya bukan pendapat perusahaan secara umum. Terus apa efeknya terhadap kinerja Gojek? Gak Ada! Pada bulan November 2018 dikabarkan Gojek disuntik dana segar Rp 29 triliun (katadata.co.id), kemudian disuntik lagi oleh Google Cs sebesar Rp 14 triliun pada Januari 2019 (cnbcindonesia.com). Pengguna layanan Gojek yang pastinya Netizen Indonesia semakin sumringah karena beragam promo tetap digelontorkan Gojek buat pelanggannya.

#UninstallGrab

Ikut dukung BTP, pelanggan ramai-ramai uninstall aplikasi GrabPada November 2016, jagat netizen Indonesia yang hingar bingar dibikin heboh dengan cuitan akun twitter Grab, isinya “Grab Indonesia mendukung @basuki_btp #KamiAhok”. Cuitan pada jam 9 malam ini bikin heboh twitter sehingga muncul #UninstallGrab. Netizen kecewa dengan pilihan Grab yang memilih Ahok bukannya Anies dan terlalu nimbrung di politik praktis pilkada DKI Jakarta. Tidak butuh waktu lama, akun twitter @GrabID memberikan klarifikasi singkat melalui statusnya “Sempat terjadi pelanggaran akses akun kami. Grab tidak memihak kepada afiliasi politik mana pun. Mohon maaf atas kesalahpahaman yang ditimbulkan.” Kasus selesai, karena cuitan itu bukan berasal dari perusahaan Grab secara resmi.

#UninstallTraveloka

Tagar ini berakar dari kejadian walk-out pianis handal Ananda Sukarlan saat Gubernur Jakarta Anies Baswedan berpidato di acara peringatan 90 tahun Kolase Kanisius. Tidak ada hubungannya Ananda Sukarlan dengan Traveloka, Ananda bukan siapa-siapa di Traveloka. Yang jadi pemicu utama adalah konon ada aksi salaman antara Ananda dengan Derianto Kusuma, pendiri Traveloka, pada saat walk-out.

Padahal kata Humas Traveloka pada saat itu (mengutip dari Tirto), Derianto Kusuma tidak hadir di acara tersebut. Nah loh, jangan-jangan itu Derianto Kloningan Kusuma. Aksi walk-out Ananda Sukarlan sebagai tanda kritik ke Anies Baswedan bisa dibenarkan, tapi nyatanya Ananda dan Derianto tidak merasa bersalaman di acara itu. Kalian memang netizen baper dan bersumbu pendek.

Boikot Indomaret

Pada September 2018, Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahean menyerukan boikot Indomaret. Pasalnya karena ada iklan Jokowi di tayangan video di kios Indomaret. Aksi ini tidak seheboh aksi-aksi boikot lainnya. Sore harinya pihak Indomaret melalui akun twitternya bilang jika materi TV di Indomaret ditayangkan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat memperoleh barang-barang yang dibutuhkan di Indomaret.

Boikot Metro TV

Tidak jelas kapan muncul aksi boikot Metro TV, namun aksi ini semakin gencar digaungkan netizen Indonesia pada sebelum , saat, dan setelah aksi 212 di Desember 2016. Banyak simpatisan 212 yang menganggap stasiun TV ini tidak berimbang dalam pemberitaannya. Metro TV dianggap lebih mendukung pemberitaan pemerintah (dalam hal ini Jokowi) ketimbang berita-berita tentang aksi 212 dan pendukungnya.

Isu pemboikotan Metro TV masih saja terjadi menjelang pilpres 2019. Tim Kampanye BPN Prabowo Sandi (dikutip dari Tirto) melakukan pemboikotan terhadap Metro TV. Walau secara tidak jelas alasan pemboikotan Metro TV, namun ini terkait dengan kepemilikan Metro TV.  Pemilik Metro TV adalah Surya Paloh yang juga Ketua Umum Partai Nasdem. Namun hal ini tidak terjadi dengan MNC TV, dimana pemiliknya Hary Tanoesoedibyo, yang juga Ketua Umum Partai Perindo yang juga mendukung Jokowi untuk naik menjadi Presiden di tahun 2019.

Komentar

Fresh