Menemukan Indonesia | OPINI.id
Menemukan Indonesia

Ditulis oleh Ai Nurhidayat, Inisiator Kelas Multikultural untuk Opini.id

Apakah Indonesia tidak pernah ada? Atau pernah hilang?

Indonesia, bagi sebagian besar warganya adalah imajinasi dari jargon dan semboyan yang kerap didengungkan melalui upacara, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dan propaganda layar media.

Umumnya, warga tidak begitu kenal dengan bangsa Indonesia yang besar ini kecuali menalar beberapa orang pahlawan dan menerka adat budaya saudara sebangsa melalui lagu, tarian, makanan, dan rumah adat.

Akibatnya, banyak orang merasa asing dengan sesamanya. Apalagi dengan yang berbeda. Karakter dan mental jeblok akibat kedangkalan pemahaman seperti itu tidak pernah menjadi soal dan menjadi topik yang mengemuka untuk diselesaikan.

Apa kabar dengan pergaulan mereka yang rata-rata tidak memiliki akses untuk saling bertemu dengan anggota suku budaya yang lain atau bahkan agama yang lain?

Berdasarkan data, harusnya ada sekitar 4,5 juta siswa yang harusnya lulus sekolah dasar tahun 2017 lalu. Nyatanya, hanya 4,1 juta orang yang lulus. Lalu yang masuk ke jenjang kuliah hanya 1,5 juta orang.

Di luar itu, mereka yang putus sekolah dan tidak kuliah, adalah orang yang sulit dipastikan dapat berinteraksi dengan keragaman. Mereka tidak sempat belajar tentang keragaman secara langsung dan umumnya keburu menikah, menetap, dan sibuk dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Itulah barangkali alasan kenapa sebagian orang begitu tabu pada perbedaan suku budaya dan agama. Orang yang tidak pakai baju dan bertato dianggap primitif atau penjahat. Orang yang pakai baju tidak rapat sampe bahu dan rambut, dianggap moralnya telah rusak. Orang yang berbaju sesuai kehendak umum pun tapi agamanya beda, dianggap musuh sekaligus ancaman.

Model masyarakat seperti itu jika kita teruskan akan melahirkan banyak pertengkaran, permusuhan, dan gesekan fisik maupun verbal, sehingga empati untuk melihat yang berbeda sangat tipis.

Tanpa disadari, ternyata suasana seragam sudah tertanam sejak balita dan tidak banyak berubah hingga SMA. Tanya saja lulusan SMA yang harusnya sudah mandiri atau bertanggung jawab pada dirinya sendiri, seberapa sering bertemu dan berteman dengan orang yang berbeda suku, etnis, dan agama? Jawabannya dapat mudah ditebak.

Sistem pendidikan tidak membuka lebar akses pertemuan sesama anak bangsa yang berbeda sehingga sulit merasakan kehadiran kebinekaan di tengah-tengah kehidupan. Dipikirnya, semua hal itu sama dengan yang umumnya ada di lingkungan. Tanpa sempat berpikir menerima, mengapresiasi, memberi tempat, hingga melindungi keragaman. Sebaliknya, keragaman harus disamakan, digiring kalau perlu dipaksa masuk dalam sistem yang lumrah dan seragam.

Kami tidak mau seperti itu. Sejak 2016 kami membuka lebar keran publik ke sekolah sambil menerapkan pendidikan multikultur melalui program yang diberi nama Kelas Multikultural. Dijalankan di SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat dengan siswa saat ini 80 orang.

Misi sederhana tapi mengubah cara pandang siswa, orang tua, bahkan lingkungan masyarakat. Kami percaya, setengah nilai toleransi dan perdamaian selesai manakala mereka bertemu, berteman, dan hidup bersama.

Saat ini kami tengah menyiapkan angkatan ke-4 yang akan menghadirkan siswa dari 34 provinsi. Kami akan mempertemukan siswa yang sehari-hari di daerahnya, berbahasa ibu, menjalani adat budaya setempat dengan kepercayaan yang berbeda-beda, untuk bertemu di tempat yang sama dan menjalani pembelajaran selama 3 tahun serta terhubung dengan masyarakat.

Kami yakin, dengan begitu Indonesia yang tempo hari tidak pernah ada dalam kehidupan nyata, dapat ditemukan di tengah kehidupan sehari-hari. Atau, Indonesia yang dicuri orang melalui gesekan kepentingan politik dan sempat hilang diculik oleh rasa tidak percaya pada negara, dapat kembali ditemukan.

Oleh karena itu, "Menemukan Indonesia" dapat dilakukan sebelum semuanya benar-benar hilang, termasuk keragaman Indonesia.

Komentar

Fresh