Waspadai Sindrom Kepala Meledak | OPINI.id
Waspadai Sindrom Kepala Meledak

Istilah sindrom kepala meledak bukanlah sesuatu yang mengerikan seperti balon meletus, tapi kondisi ini menggambarkan gangguan yang sering muncul saat tidur.

Sindrom ini dikenal juga dengan sebutan Exploding Head Syndrome (EHS). Kondisi ini merupakan gangguan tidur yang menyebabkan seseorang mendengar suara dentuman keras seperti bom atau petasan meledak, tabrakan keras, tembakan, atau bunyi petir menyambar di dalam kepala.

Suara keras tersebut biasanya muncul ketika seseorang tengah terlelap tidur. Akibatnya, ia akan bangun dengan kaget karena mencari asal suara. Meski hanya halusinasi, suara yang muncul terdengar sangat nyata. Pada kebanyakan kasus, EHS menyebabkan seseorang sulit untuk tidur kembali karena munculnya rasa cemas dan rasa takut yang parah.

Sindrom kepala meledak ini tidak menyebabkan rasa nyeri atau tegang pada kepala, seperti seseorang tengah sakit kepala. Bisa terjadi pada siapa saja, tapi lebih sering terjadi pada orang usia 50 tahun lebih dan yang masih menempuh bangku kuliah.

Sindrom ini bisa terjadi hanya sekali saat tidur, tapi bisa juga terjadi berulang dalam waktu singkat dan akan hilang dengan sendirinya. Hingga kini, belum ketahui secara pasti penyebab sindrom ini. Namun, para ahli sepakat bahwa kondisi ini mungkin terjadi karena :

  1. Sedang stres dan memiliki gangguan kecemasan
  2. Adanya pergeseran telinga bagian tengah
  3. Terjadinya kejang kecil pada otak bagian tertentu
  4. Punya gangguan tidur lainnya, sleep apnea atau restless leg syndrome
  5. Efek samping dari penggunaan obat tertentu, seperti benzodiazepin atau serotonin inhibitor selektif
  6. Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
  7. Masalah genetik akibat mutasi kromosom
  8. Adanya keterlambatan aktivitas saraf tertentu di batang otak saat mulai tertidur

Untuk perawatan sindrom ini, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan pasien, terkait dengan pola makan, kondisi emosional, dan gejala yang dirasakan. Pasien kemungkinan akan diminta untuk mengikuti pengujian polisomnografis untuk megevaluasi berbagai hal yang terjadi di tubuh saat tidur. Termasuk mengetahui aktivitas neurologis dengan elektroensefalogram.

Jika dokter sudah menetapkan diagnosis, maka pengobatan yang akan dilakukan oleh pasien biasanya meliputi:

  1. Pemberian obat antidepresan oleh dokter. Obat ini sangat umum digunakan untuk EHS yang dicurigai penyebabnya adalah kecemasan dan depresi.
  2. Latihan terapi relaksasi atau meditasi
  3. Belajar untuk mengelola stres, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau mandi air hangat sebelum tidur
  4. Melakukan perubahan rutinitas tidur, seperti tidur lebih awal dan bangun lebih pagi serta mendapatkan tidur cukup selama 6 atau 8 jam per hari.

 

Komentar

Fresh