Gempa Mentawai Dekat Zona Megathrust Perlu Diwaspadai | OPINI.id
Gempa Mentawai Dekat Zona Megathrust Perlu Diwaspadai

Gempa yang terjadi di zona subduksi Mentawai pada Sabtu (02/02/2019) lalu perlu diwaspadai, karena terjadi dekat zona megathrust yang masih menyimpan energi sangat besar.

Seperti diketahui, Sabtu (2/02/2019) lalu pada pukul 16.27 WIB, gempa tektonik berkekuatan 6.0 SR mengguncang kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Hingga pukul 21.00 WIB telah terjadi 52 kali gempa susulan, enam kali gempa di atas 5 Skala Richter dan 46 kali di bawah 5 SR. 

Rentetan gempa bumi ini bisa saja mengganggu keseimbangan segmen-segmen patahan megathrust yang berada dekat pusat gempa. Pasalnya gempa yang terjadi ini, termasuk dalam klasifikasi gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera. 

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, Minggu (03/02/2019), menjelaskan bahwa konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempa bumi yang sangat aktif di wilayah Sumatera. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu oleh penyesaran naik (thrust fault). 

Sementara itu, ahli geologi Sumbar, Ade Edward, mengungkapkan meski gempa Sabtu lalu tidak berpotensi Tsunami, tidak merusak dan tidak ada korban jiwa, namun ia tetap mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena rentetan gempa bisa saja mengganggu keseimbangan segmen-segmen patahan megathrust yang ada dekat pusat gempa. 

Ade menambahkan, tidak menutup kemungkinan mengganggu stabilitas equilibrium (keseimbangan) sehingga terpicu untuk melepaskan kunciannya yang dapat menyebabkan terjadinya gempa susulan berikutnya. Gempa bumi di zona Megathrust hari Sabtu itu bertipe Slow Earthquake atau gempa yang dirasa mengayun.

Selain itu, Ade juga berpendapat jika itu benar terjadi, gempa itu sebaiknya dianggap saja sebagai gempa pembuka, sehingga kita bisa lebih waspada lagi. Apalagi, beberapa kali guncangan yang cukup lama durasinya dialami oleh segmen-segmen di sekitar pusat gempa tadi.

Mentawai megathrust merupakan zona subduksi antara kerak Samudera dengan lempeng Sumatera, dimana kerak Samudera menghunjam ke bawah lempeng Indo-Australia di Sumatera.  Megathrust atau dorongan besar lempeng di zona ini menyimpan potensi gempa besar dengan siklus terjadinya (periode ulang) sekitar 200 hingga 300-an tahun.

Menurut perkiraan para ahli, Mentawai megathrust memiliki panjang sekitar 500-an kilometer dan lebarnya sekitar 100 kilometer. Jika dilihat di peta, lokasi zona megathrust mentawai ini berada di bawah Pulau Siberut hingga ke selatan Kepulauan Pagai. Di megathrust ini terdapat dua segmen, yakni Siberut dan Sipora-Pagai.

Pelepasan energi berupa gempa besar di segmen Siberut tercatat terjadi pada tahun 1797 dengan magnitudo sekitar 8,5 - 8,7 SR. Sedangkan gempa besar di Segmen Sipora-Pagai berskala 8,7 SR terjadi pada tahun 1833, yang diikuti dengan gelombang tsunami. 

Tahukah kamu, hingga 2017 terdapat 295 titik patahan/sesar aktif di Indonesia?
Tahu
Baru tahu sekarang
Ga tahu, ga penting
5 votes

Komentar

Fresh