Cuma Persoalan SPP, Siswi Disuruh Push-up | OPINI.id
Cuma Persoalan SPP, Siswi Disuruh Push-up

Belakangan sedang ramai pemberitaan tentang siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang dihukum menjalani push up sebanyak 100 kali. Alasan pemberian hukuman ini karena orangtua siswi tersebut belum melunasi uang SPP selama 10 bulan.

Peristiwa yang dialami GNS, inisial siswi yang duduk di bangku kelas empat SD tersebut terjadi pekan lalu, di kawasan Bojonggede, Bogor. Awalnya ia dipanggil oleh kakak kelasnya menghadap kepala sekolah saat sedang mengikuti proses belajar. Ia lalu menemui kepala sekolah. Tanpa basa-basi ia kemudian mendapat hukuman melakukan 100 kali push-up. Ia belum mendapat kartu ujian karena belum melunasi SPP.

Sementara itu, pihak SDIT Bina Mujtama mengakui telah memberikan hukuman push-up sebanyak 100 kali terhadap siswinya yang berinisial GNS. Kepsek SDIT Bina Mujtama yang bernama Budi mengatakan hal itu dilakukannya, sebagai Shock Therapy karena siswi tersebut sudah lebih dari 10 bulan tidak membayar uang SPP. Pihak sekolah juga sudah memanggil orang tuanya namun tak juga datang. Akhirnya siswi kelas empat tersebut yang menanggung hukuman dari sekolah.

Sekolah Dasar merupakan tahapan paling penting bagi anak karena di sekolah dasar inilah mereka mendefinisikan diri sebagai siswa (Carnegie Corporation of New York, 1996). Umumnya mereka masih belum berpikir seperti orang dewasa. Tak bisa dipungkiri, di beberapa sekolah menerapkan hukuman sebagai bagian dari proses pendidikan, namun tak jarang hukuman yang diberikan pihak sekolah membuat trauma siswa/i yang dihukum.

Seperti kejadian ini, bocah malang itu pun mengalami trauma berat hingga tak berani lagi datang ke sekolah. Sebelumnya ternyata ia juga pernah mengalami hukuman serupa namun hanya 10 kali push-up saja.

Dayat, orangtua GNS kini tengah mencarikan sekolah lain untuk putrinya. Dayat berprofesi sebagai karyawan pabrik di Jalan Raya Bogor, tak jauh dari rumahnya. Sementara sang ibu sebagai pengurus rumah tangga.

Berat atau ringan hukuman untuk anak sekolah dasar, sebaiknya dipikirkan kembali dampaknya bagi siswa yang dihukum. Ketika hukuman diperlukan, hal itu seharusnya diberikan dalam bentuk yang seringan mungkin. Hukuman fisik di sekolah (seperti pukulan) bertentangan dengan hukum di kebanyakan tempat (Evans & Richardson , 1995) dan ditentang secara universal oleh ahli teori behavior dengan alasan etis dan ilmiah (Kazdin , 2001 ; Malott et al ., 2000).

Hukuman dapat memberikan dampak tertentu pada perkembangan anak. Dalam hal ini, korban menjadi trauma dan tidak mau lagi bersekolah di sekolahnya. Jika memang ingin menagih uang SPP yang sudah tidak dibayar selama 10 bulan, seharusnya pihak sekolah melakukan pendekatan lain, jangan semerta-merta menghukum siswa dengan hukuman seenaknya.

Menurut kamu pantas gak sih hukuman fisik untuk anak-anak SD?
Pantas
Enggak
199 votes

Komentar (3)

Fresh