Kenyataan Dibalik Baju Campaign Spice Girls | OPINI.id
Kenyataan Dibalik Baju Campaign Spice Girls
Baju Charity dari Spice Girls, Bustle

Penjualan baju campaign adalah salah satu hal yang sering dilakukan dalam rangka charity. Tetapi, bagaimana kalau ternyata dibalik embel-embel charity itu banyak pihak yang merasa dirugikan?

Kaus amal yang dipopulerkan oleh Spice Girls dalam rangka kampanye “gender justice” ternyata dibuat di sebuah pabrik di Bangladesh yang mempekerjakan buruh wanita dengan pendapatan hanya 35p per jam atau setara dengan Rp6.500,00. Selain dipekerjakan dengan upah yang tidak manusiawi, mereka juga dipaksa untuk bekerja dengan shift sampai 16 jam per harinya untuk mengejar target yang ‘mustahil’ dan akan dihina serta disiksa jika mereka tidak mencapai target. Sadis banget, kan?

Baca juga:

    Mengetahui hal ini, juru bicara dari Spice Girls berkata mereka sangat terkejut dan akan melakukan investigasi lebih lanjut terhadap kondisi kerja di pabrik tersebut. Comic Relief, sebuah badan amal besar di UK yang menjadi wadah dari event charity tersebut juga berkata bahwa mereka sangat “terkejut dan prihatin”. Spice Girls sendiri memberikan komisi kepada Represent, sebuah online retailer yang tiba-tiba mengganti vendor pembuatan kaus tersebut tanpa sepengetahuan pihak Spice Girls. Represent berjanji untuk menanggung resiko penuh dari kejadian ini dan akan mengembalikan uang customer sesuai dengan permintaan mereka.

    Padahal, kaus amal ini dijual seharga £19.40 dan £11.60 akan didonasikan kepada Comic Relief sebagai campaign “champion equality for women”. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami oleh buruh-buruh wanita di Bangladesh. Selain itu, Comic Relief mengaku belum menerima uang sepeser pun dari hasil penjualan kaus tersebut. Lah, lalu uangnya kemana, ya?

    Kejadian ini bukanlah hal yang mengherankan jika datang dari Bangladesh. Industri garmen memang merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar di Bangladesh, mencapai 80% dan mempekerjakan lebih dari empat juta pekerja. Tetapi, industri tersebut juga memiliki kontroversi karena upah pekerjanya yang sangat rendah. Tidak jarang terjadi unjuk rasa dan mogok kerja dari para pekerja demi kenaikan upah. Namun, hal itu malah menjadi malapetaka bagi mereka karena tidak jarang mereka malah akan dipecat.

    Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?

    Komentar

    Fresh