LIPI Punya Dua Alat Pemantau Tanah Longsor | OPINI.id
LIPI Punya Dua Alat Pemantau Tanah Longsor

Saat ini, setidaknya ada 274 kabupaten dan kota di Indonesia berada di daerah bahaya longsor dan 40,9 juta jiwa terancam bencana longsor tersebut. Guna mengantisipasi bencana longsor ini, para peneliti di Indonesia tak tinggal diam, mereka terus berupaya membuat perangkat atau sistem yang dapat memantau bencana ini.  

Seperti juga, para peneliti di Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI yang telah mengembangkan sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel yang diberi nama LIPI Wiseland atau Wireless Sensor for Landslide Monitoring atau Sistem Pemantauan Gerakan Tanah Berbasis Jejaring Sensor Nirkabel.

Menurut ketua peneliti Adrin Tohari, sistem LIPI Wiseland memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah menjangkau daerah pemantauan yang luas berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi serta memiliki catu daya mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai lithium. Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal, baik pada lereng alami, potongan maupun timbunan.

Adrin menjelaskan, LIPI Wiseland sudah dikembangkan sejak 2009 sebagai sistem sensor untuk monitoring pergerakan tanah. Teknologi ini dirangkai dari beberapa komponen, utamanya sensor nirkabel meliputi ekstensometer, tiltmeter, modul sensor dan rain gauge. Didukung pula dengan gateway dengan alarm serta eb monitoring. Dalam pengembangannya, teknologi tersebut memiliki empat seri yakni LIPI Wiseland 1.0, LIPI Wiseland 2.0, LIPI Wiseland 3.0, dan Mobile Wiseland LIPI.

Sistem ini tidak hanya digunakan untuk memantau ancaman gerakan tanah atau tanah longsor, LIPI Wiseland dapat juga digunakan untuk memantau kondisi keamanan struktur tiang bangunan tinggi seperti jembatan dan gedung bertingkat. Sistem ini telah diimplementasikan di lokasi rawan gerakan tanah di Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung; Jembatan Cisomang ruas tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta; dan Desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara. 

Selain LIPI Wiseland, Puslit Geoteknologi LIPI juga punya teknologi bernama The Greatest atau singkatan dari Teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng yang dikembangkan sejak tahun 2013.

Teknologi ini mampu menurunkan muka air tanah di lereng, sehingga bisa mencegah terjadinya longsor saat musim hujan. Pada dasarnya, cara kerja perangkat The Greatest digunakan untuk memonitoring dan upaya menjaga kestabilan lereng yang merupakan faktor penting agar bencana tanah longsor bisa dihindari.

Menurut Adrin, kedua teknologi LIPI untuk monitoring dan pengurangan risiko tanah longsor ini adalah dua alat yang saling melengkapi untuk mencegah terjadinya longsor. LIPI Wiseland berfungsi memberikan peringatan dini atau mendeteksi kemungkinan longsor dan The Greatest  berfungsi mencegah potensi tanah longsor dan mengurangi tingkat risikonya. 

Kamu setuju ga, klo sebenarnya Indonesia punya banyak peneliti handal?
Setuju banget
Setuju, cuma kurang perhatian dari Pemerintah
Ga setuju
6 votes

Komentar

Fresh