Umma Pande, Rumah Bagi Anak-anak Pekerja Migran | OPINI.id
Umma Pande, Rumah Bagi Anak-anak Pekerja Migran

Berbicara mengenai pekerja migran tak selalu tentang pahlawan devisa, pelanggaran Hak Asasi Manusia dan hubungan internasional Indonesia, tetapi lebih jauh juga masalah sosial yang dialami anak-anak yang ditinggalkan di tanah air.

Hari Buruh Migran Internasional diperingati tanggal 18 Desember tiap tahunnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menandatangani kesepakatan internasional soal migrasi pada 10-11 Desember 2018 lalu. Indonesia sendiri didaulat menjadi wakil presiden untuk kawasan Asia Pasifik. Hal ini setidaknya menjadi berita baik dan harapan bahwa Indonesia akan meningkatkan komitmennya untuk melindungi hak-hak para pekerja migran Indonesia yang tersebar di berbagai negara.

Di Sumba, Nusa Tenggara Barat, khususnya di Desa Wee Limbu, hampir 10% warga menjadi pekerja migran. Masalah ekonomi menjadi alasan utama para warga menjadi pekerja migran, terutama untuk melunasi utang adat seperti biaya mahar pernikahan (Belis) dan biaya kematian (Ke'dde). Kondisi pekerjaan migran di Wee Limbu menimbulkan berbagai persoalan sosial, salah satunya keterlantaran anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya. Anak dari pekerja migran harus tinggal jauh dari orangtua mereka yang bekerja baik di luar kota hingga luar negeri sehingga terpaksa dititipkan dan tinggal bersama paman, bibi, kakek, nenek atau bahkan dititipkan pada tetangga. Kondisi ini menyebabkan anak kurang mendapatkan pengasuhan yang mumpuni dan membuat mereka menjadi rentan terjerumus dalam kenakalan remaja serta berbagai permasalahan lainnya.

Permasalahan lainnya juga ditemui ketika orangtua yang berada nun jauh di sana kurang awas mengenai berbagai dokumen kependudukan yang diperlukan. Biasanya hal ini baru disadari ketika anak beranjak masuk sekolah dan kemudian tidak memiliki dokumen persyaratan yang dibutuhkan. Bisa dibayangkan ketika seorang anak tinggal dengan nenek atau kakeknya yang sudah sepuh, mengurus akta kelahiran dan Kartu Keluarga menjadi sesuatu yang sangat sulit. Keterbatasan ekonomi dan lokasi tempat tinggal yang jauh dari pusat layanan pemerintah menambah parah membuat masyarakat semakin enggan ketika pemerintah abai menjalankan tugasnya.

Berangkat dari kompleksnya persoalan yang dihadapi anak-anak pekerja migran, warga di desa Wee Limbu membangun Umma Pande atau rumah pintar. Rumah yang sarat filosofi ini dibangun secara gotong royong sebagai sumbangan nyata untuk masa depan mereka. Rumah ini difungsikan sebagai sarana berkegiatan anak pekerja migran dan anak-anak lainnya di desa, juga digunakan untuk berkumpul warga untuk mendiskusikan berbagai permasalahan dan solusinya.

Program Peduli bekerja untuk mendukung pemenuhan hak-hak mendasar para anak pekerja migran. Banyak ditemui, anak dari pekerja migran cenderung pendiam dan pemalu karena rasa tidak percaya diri, juga karena dirundung oleh teman-teman sebayanya. Stigma dan diskriminasi yang mereka terima membatasi potensi yang dapat mereka capai.  “Anak dari pekerja migran adalah anak kita semua”, begitu kira-kira prinsip yang dipegang oleh para Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR) yang berdedikasi meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengasuh anak dari pekerja migran dan menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak-anak.

Tak hanya itu saja, kehadiran Umma Pande juga mendorong perempuan di Wee Limbu melakukan usaha-usaha ekonomi produktif. Saat ini mereka juga dilibatkan dalam pertemuan desa dan berani mengeluarkan pendapat. Masyarakat dan pemerintah desa mulai memperhatikan keluarga pengasuh anak-anak pekerja migran. Hadinya Umma Pande tak terlepas dari kesadaran Yayasan Donders bersama orang tua asuh, tokoh adat, tokoh masyarakat dan aparat pemerintah desa terhadap nasib anak-anak pekerja migran.

Komentar

Fresh