Gotong Royong Korban Bencana Palu | OPINI.id
Gotong Royong Korban Bencana Palu

Bencana gempa bumi disertai tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) lalu menyisakan duka yang mendalam. Namun bukan menjadi alasan untuk larut dalam kesedihan.

Ratusan korban gempa bergotong royong bersihkan reruntuhan tsunami dan gempa di Palu. Tepat dua bulan semenjak tsunami dan gempa bumi yang mengguncang Palu dan sekitarnya, Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) bekerjasama dengan pemerintah pusat, daerah serta LSM Indonesia, meluncurkan program padat karya atau pemberian dana tunai sebagai bayaran dari pekerjaan membersihkan reruntuhan bangunan.

Tahap pertama program padat karya melibatkan 300 orang di desa Lolu, desa Jono Oge dan desa Mpanau di Kabupaten Sigi. Bermitra dengan LSM Relawan Untuk Orang dan Alam, Perkumpulan Inovasi Komunitas (Imunitas) dan Yayasan Mitra Karya Membangun (YMKM). Program ini melibatkan 3500 orang - 40 persen diantaranya adalah perempuan – sampai akhir Januari.

“Membersihkan puing-puing di daerah yang terkena bencana merupakan prioritas untuk memulihkan akses ke infrastruktur utama. UNDP menanggapi prioritas ini melalui uang tunai untuk bekerja, yang menyediakan sumber penghasilan yang sangat dibutuhkan bagi ratusan orang yang kehilangan mata pencaharian karena bencana,” ujar Direktur UNDP Indonesia, Christophe Bahuet.

“Kegiatan ini merupakan satu langkah kedepan menuju pemulihan,” tambahnya.

Tahap pertama Padat Karya akan berlangsung selama 25 hari. Tahap kedua  akan dilakukan di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Sedangkan lokasi desa tahap kedua, tergantung hasil penjajakan teknis terhadap tingkat kerusakan hasil koordinasi dengan pemerintah setempat. Dalam skema padat karya setiap pekerja akan mendapat bayaran maksimal selama 25 hari.  

Program ini merupakan bagian dari program bantuan cepat bagi bencana dari UNDP sejumlah USD 1.4 juta  untuk membantu upaya pemulihan. Pembiayaan prakarsa ini datang dari UN Central Emergency Response Fund, dan UNDP.

“Padat karya ini membantu mengurangi beban kami, karena setelah bencana ini, kami hilang (mata) pencaharian. Jadi Padat karya ini membantu kami memiliki pendapatan awal yang bisa kami pakai sementara,” ujar Ibu Sul Lamakampali (50 th), salah satu peserta kegiatan padat karya dari desa Jono Oge.

Tim dari UNDP Indonesia langsung tiba di lokasi sejak minggu pertama bencana untuk membantu warga yang terdampak, serta mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengkaji kebutuhan bagi pemulihan tahap awal. BNPB memimpin program bantuan dan pemulihan tahap awal.

Program padat karya dan program  pemulihan bertumpu pada pengalaman UNDP dalam rekonstruksi dan pembangunan kembali Nepal yang ditimpa bencana alam serta Filipina yang diterjang badai Pablo di tahun 2012.

Kamu sudah partisipasi membantu Palu, Sigi dan Donggala belum?
Sudah
Belum
23 votes

Komentar

Fresh