Mengapa Kita Bisa Mengalami Déjà Vu? | OPINI.id
Mengapa Kita Bisa Mengalami Déjà Vu?

Dua dari tiga orang di dunia ini, yang berusia 15 hingga 25 tahun, pernah mengalami peristiwa, yaitu semacam perasaan aneh seolah kita merasa familiar atau sebelumnya pernah mengalami peristiwa yang saat ini sedang terjadi.

Beruntungnya, pengalaman tersebut tidak termasuk dalam kategori mistis. Istilah itu sendiri berasal dari bahasa Prancis, yang artinya “pernah melihat”, karena kata tersebut diciptakan oleh seorang filsuf dan parapsikolog berkebangsaan Prancis bernama Emile Boirac.

Namun apakah pengalaman ini hanya sekadar perasaan? Atau sebenarnya ada penjelasan ilmiah di balik rasa yang kita alami?

1. Déjà Vu Biologis

Secara umum, déjà vu bukan sekadar perasaan yang tiba-tiba muncul di dalam benak kita, akan tetapi, para ilmuwan percaya bahwa fenomena tersebut muncul sebagai respon otak atas rangsangan yang datang dari luar tubuh maupun kelainan kimia di dalam otak.

Peristiwa déjà vu yang terjadi karena kelainan struktural atau kimia di dalam otak sering kali disebut sebagai déjà vu biologis dan dialami oleh para penderita epilepsi lobus temporal, yaitu jenis epilepsi yang mempengaruhi bagian hipokampus di otak.

2. Déjà Vu Eksternal

Efek déjà vu juga bisa muncul sebagai reaksi dari rangsangan eksternal yang memunculkan reaksi kimia lain di otak, seperti akibat dari konsumsi obat maupun akibat dari rasa cemas dan depresi.

Sebagai dampak dari mengonsumsi pada beberapa obat seperti amantadine dan phenylpropanolamine, mampu meningkatkan aktivitas dopamin di otaknya. Dalam waktu 24 jam sejak mengonsumsi obat tersebut, ia menerima serangan hebat dari déjà vu dan serangan tersebut berhenti total setelah ia memutuskan untuk berhenti minum obat.

3. Perhatian yang Terbagi

Perhatian yang terbagi merupakan sebuah teori yang diusulkan oleh seorang pria bernama Dr. Alan Brown. Teori ini mirip seperti ketika kita sedang bermain dengan telepon seluler kita. Perhatian kita terbagi pada layar ponsel dan juga kejadian di sekitar.

Misalnya saja di dalam restoran, kita sedang asik dan terlalu fokus memperhatikan garpu dan tidak memperhatikan taplak meja ataupun pelayan yang jatuh. Akan tetapi begitu kesadaran kita terhadap sekitar kembali penuh, kita merasa kejadian itu baru saja terjadi. Padahal, otak kita sudah merekam semua kejadian itu di dalam visi periferal di bawah kesadaran.

Jadi begitu kita melihat pelayan yang terjatuh, kita merasa peristiwa itu sudah pernah terjadi sebelumnya karena memang sudah terekam dalam otak. Kita hanya terlambat menyadarinya.

4. Teori Hologram

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh psikiater berkebangsaan Belanda bernama Dr. Herman Snow. Menurutnya, beberapa fragmen kecil dari suatu memori atau pengalaman yang pernah dirasakan membuat kita seolah-olah pernah mengalami peristiwa tersebut secara keseluruhan.

Misalkan kita berkunjung ke rumah teman dan melihat taplak meja yang berada di rumahnya. Kita merasa pernah mengunjungi rumah tersebut padahal saat itu adalah pertama kalinya kita datang ke rumah tersebut lalu kita merasa déjà vu.

Menurut teori ini, yang sebenarnya terjadi adalah mungkin yang pernah kita lihat hanya taplak mejanya saja, bukan seluruh kejadian. Bisa jadi kita pernah melihat taplak meja dengan motif serupa di rumah nenek kita, akan tetapi kita justru merasa akrab dengan suasana yang terjadi saat ini.

Layaknya hologram, kita hanya butuh satu fragmen untuk bisa melihat keseluruhan gambar. Otak kita telah mengidentifikasi taplak meja di rumah teman dengan taplak meja yang ada di masa lalu. Kemudian alih-alih mengingat bahwa kita melihatnya di rumah nenek, otak kita justru memanggil memori lama tanpa mengidentifikasinya. Ini membuat kita terjebak suasana yang akrab tanpa bisa ingatan mengenai informasi tersebut.

Itulah beberapa penjelasan ilmiah mengenai fenomena déjà vu. Sekarang kamu enggak perlu bingung lagi dengan fenomena yang satu ini karena memang sudah jelas dipicu oleh beberapa faktor bahkan didukung dengan teori.

Sumber: https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/penjelasan-fenomena-deja-vu/

Penulis: Laili Miftahur Rizqi

Seberapa sering kamu mengalami déjà vu?
Sesekali
Sering!!
125 votes

Komentar (1)

Fresh