dr. Sophia Bantu Korban Kekerasan Perempuan | OPINI.id

Perjalanan menjadi dokter dan aktivis perempuan bagi seorang Sophia Benedicta Hage adalah perjalanan yang cukup panjang. Meski semua berawal pada kebingungannya menentukan jurusan kuliah, akhirnya wanita kelahiran 15 Juli 1984 mantap memilih untuk jadi seorang dokter. Dari situ perjalanannya menjadi sosok yang membantu banyak wanita di Indonesia pun dimulai.

Sosok mama mantapkan langkahnya

Meski sejak kecil selalu bermimpi menjadi seorang dokter, tetapi saat SMA, Sophi, panggilan akrab Sophia, aktif di OSIS dan kegiatan sekolah lainnya. Awalnya terbersit pikiran untuk masuk ke jurusan HI atau komunikasi karena Sophi mengaku senang bicara dan mendengarkan cerita orang lain. Namun, memori ketika sang mama mengalami menopause terbersit kembali dalam pikirannya. Dari situ Sophi yakin kalau hidupnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain dan masyarakat. Akhirnya dia mengenyam pendidikan di kedokteran di Universitas Airlangga Surabaya. Setelah selesai, Sophi pun melanjutkan pendidikan dengan mengambil spesialisasi dokter olahraga di Universitas Indonesia. "Saya pikir inilah profesi termudah untuk mewujudkan keinginan agar berguna bagi orang lain. Dokter, kan, harus mendedikasikan diri, entah kepada pasien atau pemerintah," ungkap Sophi yang punya prinsip ‘harus bermanfaat bagi orang lain’.

Tergerak kurangi jumlah kematian ibu

Sembari mengenyam pendidikan spesialisasinya, Sophi dirikan gerakan 'Gerakan Selamatkan Ibu' bersama dengan dua orang rekan dokternya. Keputusan itu berawal dari keprihatinan mereka pada tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Perlu Anda ketahui kalau setiap 30 menit ada satu orang ibu yang meninggal dunia saat melahirkan. Sophi dan rekannya memilih untuk berkampanye di sosial media, yang tidak memerlukan banyak biaya, tetapi punya daya jangkau yang luas. Mereka bekerja keras mengedukasi pentingnya kesehatan ibu serta mengajarkan cara menurunkan angka kematian ibu. Kini GSI diminta langsung oleh Kementrian Kesehatan RI untuk membantu pemerintah dalam mengampanyekan tentang kesehatan ibu melalui media sosial.

Berdedikasi bantu korban kekerasan perempuan

Saat tengah traveling di dalam negeri, Sophi menyaksikan sendiri kekerasan yang terjadi pada wanita yang dilakukan oleh pasangannya sendiri. Sophi pun tergerak untuk memberikan bantuan untuk memulihkan trauma yang dialami oleh para perempuan korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Akhirnya, tahun 2011 Sophi dan dua rekannya mendirikan gerakan sosial bernama Lentera (@LenteraID). “Lentera juga ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu kekerasan sosial dengan memanfaatkan media sosial serta mengadakan talk show dan seminar," ungka Sophi kepada Femina. Sampai saat ini, Sophi dan para rekan di Lentera Sintas aktif mengedukasi masyarakat lewat kegiatan rutin seperti roadshow ke beberapa kota dan universitas. Sophi pun telah mengantongi penghargaan sebagai sosok perempuan yang menginspirasi berkat kepedulian sosialnya itu. Penulis: Katharina Menge

Komentar (1)

Fresh