Rorian, Bantu Anak Muda Lewat PayAccess | OPINI.id

Komunitas dan anak muda merupakan agen perubahan (agent of change) terbaik, yang bisa membawa perubahan terhadap kebiasaan atau gaya hidup yang telah ada sebelumnya. Hal inilah yang dipercaya Rorian Pratyaksa dan rekannya untuk mulai mendirikan PayAccess atau aplikasi pembayaran digital.

Mengenal Sosok Rorian

Rorian Pratyaksa, menghabiskan sebagian besar hidupnya di ibukota Jakarta, lalu di usia 15 tahun ia melanjutkan pendidikan SMA-nya di Amerika dan menyelesaikan pendidikan tinggi di Filipina dan lulus dengan kehormatan dari De La Salle University Manila. Pada usia 23 tahun, menjadi pembicara Indonesia termuda di konferensi utama Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR). Ia juga masuk ke dalam jajaran "30 Under 30 Asia" Forbes 2018, untuk kategori Finance & Venture Capital.

Memulai PayAccess

Pada tahun 2014, anak muda ini diajak seorang rekannya, Hendro Santoso, mantan direktur di kantor akuntan publik PricewaterhouseCoopers (PwC), untuk mendirikan dan membuat sebuah aplikasi pembayaran digital yang bernama PayAccess yang ditujukan untuk memudahkan komunitas dan anak muda melakukan transaksi pembayaran. PayAccess dibangun dengan tujuan membantu masyarakat khususnya anak muda untuk memudahkan emreka melakukan transaksi mobile tanpa perlu memiliki akun Bank di Indonesia.

Kota Malang Jadi Awal

Rorian dan rekannya, mengawali bisnis aplikasi ini di kota dengan jumlah pesaing yang cukup minim, namun mempunyai jumlah anak muda yang cukup banyak, yaitu Malang, Jawa Timur. Aplikasi ini mulai hadir di kota Malang sejak tahun 2016. Beberapa komunitas yang mereka gandeng adalah pendukung klub sepak bola Arema FC, serta komunitas mahasiswa Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang.

Hasil Dari Sebuah Keuletan

Mengawali sebuah pengembangan baru tentunya tak lepas dari tantangan dan penolakan. Namun berkat keuletannya, Rorian berhasil mendapat kepercayaan dari komunitas, anak muda maupun para pemiliki UKM. Hingga akhirnya mereka jadi terbiasa menggunakan berbagai fitur yang tersedia di PayAccess. Mereka mulai mengisi saldo pada para merchant yang bekerja sama dengan PayAccess, melakukan pembelian pulsa, pembayaran tagihan listrik, hingga membeli merchandise dan tiket pertandingan sepak bola lewat aplikasi tersebut. Bahkan di tahun 2017, PayAccess mulai meluncurkan fitur pembayaran di lokasi-lokasi warung makan dan tempat anak muda ngumpul dengan teknologi Scan QR Code.

Maju Semakin Pesat

Ada sekitar 415.000 pengguna terdaftar, sedangkan pengguna aktif bulanan mencapai 57.500 orang di kota Malang. Setiap bulannya, mereka bisa memproses sekitar 28.000 transaksi. Perkembangan yang cukup pesat ini kemudian mengantarkan mereka mendapatkan pendanaan Seri A di pertengahan tahun 2017 lalu. Kini, Rorian menjabat sebagai Co-Founder dan Chief Business Development Officer di PayAccess. Sebelum mendirikan PayAccess, ia memiliki pengalaman profesional sebagai analis di PwC dan tim Apprentice for Corporate Finance di Manila ACCRA Law. Selain itu, PayAccess juga berhasil mendapat penghargaan pada tahun 2015 di ajang International Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) di Manila dan di tahun 2016 mendapatkan "Australia Awards". Penulis: Vey van Driel

Komentar

Fresh