Indonesia Punya 6 Spesies Hiu 'Berjalan' | OPINI.id

Kita pasti tahu bahwa ikan hiu itu berenang di lautan, tapi ternyata ada spesies hiu yang memiliki cara unik untuk bergerak. Hiu ini 'berjalan' menggunakan sirip-siripnya. Para peneliti menyebutnya walking shark atau hiu berjalan. Dari 9 spesies hiu berjalan yang ada di dunia, enam spesies diantaranya ada di Indonesia.

Hiu Berjalan

Kelompok hiu berjalan (walking shark) secara taksonomi sering juga disebut dengan hiu bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam genus Hemiscyllium. Walaupun hiu ini bisa berenang namun dia lebih suka untuk 'berjalan' menggunakan sirip pektoral dan sirip pelvis mereka di atas coral atau dasar laut untuk mencari makan. Spesies ini biasa ditemukan di perairan dangkal dan mudah ditemukan pada malam hari karena warna kulit yang cukup mencolok.

Morfologi

Ukuran tubuh walking shark lebih kecil dari ukuran tubuh hiu pada umumnya. Hiu ini mempunyai beragam pola warna sesuai dengan spesiesnya, dikarenakan pola warna inilah kemudian jenis hiu ini disebut juga sebagai hiu tokek. Corak pada tubuh ini akan berubah seiring pertambahan usia. Moncongnya pendek dan memiliki sirip dada yang kuat dan berotot. Hiu berjalan tergolong hiu yang jinak, bentuk gigi mereka juga berbeda dengan gigi hiu pemakan ikan pada umumnya. Makanan utama hiu berjalan adalah udang, kepiting, dan hewan-hewan kecil laut lainnya. Untuk membantu menggerus makanan bercangkang, hiu ini juga dilengkapi gigi khusus.

6 Spesies Ada di Indonesia

Perairan Indonesia menjadi habitat hiu berjalan, dari sembilan spesies yang ada di dunia, 6 diantaranya berhasil diidentifikasi berada di perairan Indonesia. Empat spesies endemik atau hanya ada di Indonesia adalah Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (Hemiscyllium galei), Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (Hemiscyllium henryi). Sementara dua spesies lainnya yakni Hemiscyllium trispeculare dan Hemiscyllium ocellatum bisa ditemukan di perairan Aru Maluku dan Selatan Papua, namun kedua spesies ini juga bisa ditemukan di pantai utara dan barat kawasan Australia dan Papua Nugini.

Hemiscyllium freycineti

Hiu Berjalan Raja Ampat atau Hiu Karpet Bintik (Indonesian speckled carpetshark), adalah spesies hiu berjalan endemik Indonesia. Hidup di Perairan Raja Ampat, Papua Barat, sudah ditemukan sejak lama atau sekitar tahun 1824. Hiu karpet bintik memiliki warna kulit dengan pola yang menyerupai macan tutul. Status konservasi Near Threatened (NT, Hampir Terancam) artinya: status konservasi yang diberikan kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan terancam atau mendekati terancam kepunahan, meski tidak masuk ke dalam status terancam (status Endangered - EN).

Hemiscyllium galei

Hiu berjalan Cendrawasih ini ditemukan pertama kali pada tahun 2006 di Teluk Cendrawasih di Irian Jaya (papua barat) oleh ilmuwan Mark Erdmann dari Consercation International. Status konservasi Data Deficient, artinya (DD; Informasi Kurang), Sebuah takson dinyatakan “informasi kurang” ketika informasi yang ada kurang memadai untuk membuat perkiraan akan risiko kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi.

Hemiscyllium halmahera

Hiu Berjalan Halmahera hidup di perairan Halmahera, Maluku Utara. Secara resmi, hiu berjalan Halmahera diumumkan sebagai spesies baru lewat publikasi di Journal of Ichtyology yang terbit pada Juli 2013.

Hemiscyllium henryi

Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana, ditemukan di perairan Kaimana, Papua Barat pada 2008. Status konservasi Data Deficient (DD, Informasi Kurang), Sebuah takson dinyatakan “informasi kurang” ketika informasi yang ada kurang memadai untuk membuat perkiraan akan risiko kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi.

Hemiscyllium trispeculare

Hidup tersebar di perairan Maluku Utara (Indonesia), utara Australia, dan Papua Nugini bagian timur. Status konservasinya Least Concern, (LC, Berisiko Rendah) adalah kategori IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) yang diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk ke dalam kategori manapun.

Hemiscyllium ocellatum

Hidup tersebar di selatan perairan Papua (Indonesia), perairan utara Australia, dan Papua Nugini. Status konservasinya Least Concern, (LC, Berisiko Rendah) adalah kategori IUCN yang diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk ke dalam kategori manapun.

Walking Shark (Hiu Berjalan)

Mark Erdmann dari Conservation International membuat rekaman menakjubkan dari spesies baru Walking Shark atau Hiu 'berjalan', yang ia dan rekan ilmuwan lainnya temukan di perairan Indonesia.

Sumber:

https://bit.ly/2OTqVim https://bit.ly/2OhG918 https://bit.ly/2C4sO5g https://bit.ly/2QDmEgo https://bit.ly/2OPoeyv https://bit.ly/2RBUK5H https://bit.ly/2REa5T9 https://bit.ly/2PqLRKG https://bit.ly/2OieuNO Jurnal: Hasil Penelitian Conservation International (CI) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Western Australian Museum, dan California Academy of Science.

Komentar

Fresh