Dea Valencia, Ajak Difabel Dukung Bisnisnya | OPINI.id

Muda dan sukses, gambaran yang cocok untuk Dea Valencia, pemilik bisnis Batik Kultur yang sudah dijalaninya sejak tahun 2011 lalu. Berawal dari kecintaannya terhadap kain batik, Dea Valencia berhasil mengubah passionnya menjadi sumber pendapatan, bahkan hingga miliaran rupiah. Dea Valencia mengubah persepsi batik lawas menjadi gaya modern dan unik. Keunikan bukan hanya karena desain, tetapi juga proses produksinya yang melibatkan kaum difabel.

Awal perjalanan bisnisnya

Dea Valencia memulai bisnisnya dari nol. Berusaha untuk menambah penghasilan, Dea mulai menjual batiknya saat duduk di bangku kuliah semester tiga. Awalnya hanya 20 potong pakaian dan dijual melalui sosial media. Dea awalnya memilih nama batik Sinok untuk bisnisnya, namun ia harus berurusan dengan masalah hak paten karena ternyaa batik Sinok telah didaftarkan oleh orang lain. Akhirnya Dea memilih nama Batik Kultur sebagai brandnya.

Go Internasional

Saat ini Batik Kultur kini telah memproduksi 900 potong pakaian tiap bulannya dan diekspor ke beberapa negara seperti Norwegia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Singapura, dan Hong Kong. Pemuda lulusan Universitas Multimedia Nusantara, Tanggerang ini memang memiliki keinginan untuk menjadi social culture entrepreneur yang mampu membawa Batik ke pasar internasional.

Dibalik suksesnya Batik Kultur

Dea tidak bekerja sendiri dalam mengembangkan usaha batiknya. Ada orang-orang spesial yang membantu Dea memproduksi batiknya. Jiwa sosial dan kepekaannya terhadap kaum difabel membuat Dea ingin pula memberdayakan mereka. Batik Kultur dibantu dan didukung penuh oleh 80 orang karyawan, 40 orang di antaranya merupakan kaum difabel yang memiliki semangat dan kerja keras.

Ubah stigma kaum difabel

Batik Kultur telah mengubah stigma negatif masyarakat tentang kaum difabel. Kesempatan dan perhatian yang diberikan Dea para karyawan spesialnya ini telah membantu mengubah dan meningkatkan hidup mereka dari rasa putus asa dan masa depan yang semakin baik. Penulis: Maria Septia

Komentar

Fresh