Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Mengubah Budaya Ngopi Konsumtif menjadi Ngopi Produktif

Plis, deh. Ngapain juga, memang kalau mau ngopi harus ngajak junior, ya? Memang situ nggak ada teman, ya?

Muhammad Lutfi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Sebagai remaja yang baru seumuran jagung menginjakkan kaki di kampus, alias menjadi mahasiswa, tidak jarang mendengar bisikan, ajakan, bahkan menerima pesan teror dari mas dan mbak senior yang isinya ajakan untuk ngopi. Katanya sih, ngopi yang bersubstansi tanpa ngrasani. Katanya.

Plis, deh. Ngapain juga, memang kalau mau ngopi harus ngajak junior, ya? Memang situ nggak ada teman, ya?

Tolong! Mbokya sadar dan paham. Kami-kami yang baru menjadi mahasiswa ini lagi di fase bunga-bungahnya. Lagi senang dengan kehidupan yang sudah lama dipendam cum diidamkan; kehidupan mahasiswa yang bebas dan liar. Kalau kata Pak Ndul, core of the core, intinya inti, ya ini kehidupan mahasiswa.

Beberapa kali saya mengeluh dan sempet stres dengan ajakan seperti itu. Bukan karena jengkel dengan pesan teror yang tumbuh hilang berganti, diarsipkan muncul lagi atau bingung bagaimana mencari alasan menolak dengan tanpa merasa menyakiti. Bukan.

Saya justru merasa prihatin lihatnya, ketika misal teman se-angkatan disuruh ngopi di warung A, dengan tanpa pikir panjang langsung berkumpul di warung A. Begitu juga, suruh kumpul di warung B semuanya kumpul di situ. Pokoke gas, ruwet tinggal. Mungkin, kalau disuruh senior masuk api pada manut dan ngikut kali, ya?

Keresahan itu terus terang saya sampaikan dalam suatu forum terbuka. Jawab salah satu senior yang cukup dihormati membuat saya sedikit takjub. Eh, bukan bukan, tepatnya tertawa sinis dan pesimis. “Mari kita ubah budaya ngopi konsumtif menjadi ngopi produkitf.”

Hyang jagat. Emang situ yakin bisa? Dengan kuantitas yang mayoritas, Anda mampu mewujudkannya? Sebelumnya, maaf, saya bukannya pesimis, tapi kasihan lihat teman-teman saya diberlakukan kayak binatang dengan mudahnya didekte dan diarahkan sana-sini. Duh.

Ada sedikit anomali yang bikin saya jijik dan nggilani. Khususnya perihal mengubah budaya ngopi konsumtif dengan ngopi produkitf. Jan blas ramashook, nggateli tenan pokoke. Begini kira-kira jelasnya~

Niatnya Ngopi Berujung Penjabaran Materi

https://cdn.opini.id/opini3_question_image/K7gYdPoSu76ufSsfEM6Q
Illustrasi kafe atau warung kopi

Mengubah budaya ngopi konsumtif menjadi ngopi produktif terkesan sangatlah keren dan suatu hal yang baru, menurut saya. Karena ngopi pada umumnya mungkin dihabiskan dengan main remi sambil ngemil kacang atau kuaci, ngobrol ngalor ngidul nggak jelas dan tidak lupa dengan rutinitas ngrasani. Kalau budaya ngopi produktif benar-benar beda. Beda sekali.

Junior yang diajak ngopi sama senior nggak hanya basa-basi sekedar mengakrabkan diri, lebih dari itu, dengan nada menggebu, mimik wajah serius dan intonasi meyakinkan, senior memulai dari cerita pengalaman, indoktrinasi ideologi, ajakan untuk masuk organisasi dengan ikhlas mengabdi, bahkan tidak segan memakai cara intervensi.

Semuanya itu dibumbui dengan sulut semangat pergerakan yang rindu akan perubahan dan pembaharuan. Begitu epik dan menarik. Tidak jarang saya terjebak dalam kedramatisan bualan senior menyampaikan cerita dan gagasan, yang bagi saya, hanya sumpah serapah dan halah mboh. Hash, rugi banget gampang kebujuk karo omongane senior.

Nggak berhenti di situ. Ideologi yang dicekoki senior kepada junior memang lah membawa semangat perubahan dan pembaharuan. Tapi nyatanya? Malah membatasi dan mengawasi. Memang situ intel kok kerjaannya begitu? Nggak ada kerjaan lain apa yang bisa dikerjakan? Kasihan amat dah.

Saya merasa geli. Pengalaman beberapa teman mau ngadain ngopi dan kumpul bareng satu angkatan harus melewati beberapa prosedur yang sedikit jlimet dan bikin gemes. Dari konfirmasi ke senior, mendetailkan lokasi dan waktu ngopi hingga keharusan untuk mengajak senior.

Situ mau ngopi apa ngadain resepsi pernikahan di tengah pandemi?

Heran deh. Mengapa si sebegitu ketatnya membatas juniormu, bahkan dalam urusan privat. Urusan ngopi saja lho, kok ya diurus-urus. Katanya kami-kami yang sebagai junior penerus perjuangan dan pergerakan Anda. Kenapa malah dibatasi? Kenapa harus seketat mungkin didekte dan diawasi? Emangnya kami buronan?

Dengan segala hormat dan rasa khidmat kepada senior saya se-pergerakan dan se-perjuangan, tolong lah jangan batasi dan awasi juniormu ini. Mbokya longgar dan slow sitik tho, wong PPKM saja yang menyangkut kesejahteraan umum peraturannya udah dilonggarin, masa soal junior yang menang mayoritas kalah kualitas diberlakukan seperti itu.

Senior harusnya respek dan bangga dengan junior yang punya inisatif ngadain forum sendiri untuk membahas bagaimana dan mau dibawa ke mana angkatan tersebut. Bukannya secara halus memperpendek usia perjuangan dan semangat pembaruan. Kalau begitu kan jadinya kayak lagunya Sisir Tanah: Tuan dan Nyonya, belajar logika sudah sampai mana? Ampun ampun.

Add comment
DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation