Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Game Online Merusak Anak?

Dampak game online yang meresahkan pada anak perlu diiringi dengan solusi tepat

Agus Setiawan  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Pernahkah kalian memainkan game online? Kemudian menemui bahasa-bahasa yang jorok dan kasar? Yup, hal itu sudah bukan rahasia lagi untuk game dengan embel-embel online. Tidak semuanya, namun pada beberapa game bergenre tertentu saja. Fitur-fitur seperti voice chat dan kolom chat menjadi tempat yang seharusnya tidak dijamah oleh anak-anak. Pasalnya, darisitulah kata-kata kotor dari player di seluruh belahan dunia keluar menjadi satu. Jika terus dibiarkan, kepribadian anak-anak secara tidak sadar telah dirusak dengan kata-kata tersebut.

Trash talking atau dalam bahasa Indonesia yang berarti berkata kotor, menjadi konsekuensi yang harus dihadapi oleh para player terutama pada game kompetitif. Yup, orang-orang dari latar belakang berbeda tentu akan berkomunikasi sebagai bentuk kerja sama tim. Kemenangan serta kegagalan yang diraih dalam game online secara umum dilampiaskan entah menggunakan kata baik atau kotor. Namun, kebanyakan yang saya temui adalah kata-kata kotor muncul ketika game dimulai sampai berakhir apapun hasilnya. Bagaimana jika anak-anak yang awalnya tidak tahu apa-apa kemudian membaca kata-kata tersebut? Tanpa sengaja, mereka yang tidak tahu apa-apa mulai ternodai dengan kata-kata tersebut yang sebenarnya tidak wajar untuk diketahui pada usia dini.

Baca Selengkapnya
Add comment
DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation