Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

PRIVILESE
ITU JEBAKAN

By Adriano Qalbi



Halo, saya Adriano Qalbi, seorang comedian yang kali ini ingin memperkenalkan diri sebagai motivator, memproklamirkan diri sebagai motivator yang lebih riil dibanding dari yang di TV. Dijamin kepala akan pecah dan semangat menggebu-gebu sehabis membaca ini. Kenapa tidak boleh? Yang sudah mengaku introvert dengan diagnosa sendiri, lalu dicantumkan di bio media sosial itu diperbolehkan, saya cuma tidak ingin ketinggalan tren saja.

Belakangan ini kata privilese memang sedang banyak beredar. Entah yang mengucapkan mengerti atau tidak, tetapi saya rasa ini topik yang menarik. Karena saya sendiri mungkin baru mengenal arti sebenarnya dari kata tersebut, beberapa tahun terakhir ini. Privilese secara umum memang mudah ditelaah. Artinya secara umum adalah hak istimewa. Semacam jalur khusus, atau fasilitas spesial yang hanya didapatkan orang-orang tertentu. Dengan kata lain, tergantung konteksnya, memiliki privilese adalah memiliki keuntungannya tersendiri.

Saya mencoba menghindari privilese dasar yang berpengaruh besar di negara ini, seperti menjadi lelaki, ada dalam agama mayoritas, tinggal di Jakarta dan lain-lain, karena nantinya artikelnya akan menjadi seperti perjuangan feminis, sedangkan saya tidak ingin sok tahu tentang rasanya jadi perempuan.

Oleh karena itu, saya ingin membahas secara lebih spesifik dalam bentuk yang paling kita tidak sadari, yaitu kelas ekonomi. Karena semua orang selalu merasa hidupnya paling susah, tapi kenyataannya tidak begitu.

GAK SADAR PUNYA PRIVILESE


Banyak orang selalu merasa paling susah, tidak pernah sadar bahwa dirinya memegang privilese. Saya sendiri menyadari hal ini ketika beberapa saat yang lalu mengobrol dengan teman semasa sekolah. Dia bertanya, "sebelum SMA, temen-temen sekolah lo dari kelas (ekonomi) yang sama atau ngga?".

Pertanyaan tersebut membuat saya mengingat-ingat lagi. Dan, memang dalam beberapa hal saya bisa melihat perbedaan antara saya dengan teman-teman saya di SMP. Ada yang pulang sekolah tidak dijemput. Ada yang tidak punya pembantu. Ada yang kedua orangtuanya bekerja. Tetapi, kami berdua kemudian sepakat bahwa masuk SMA negeri adalah tahap pertama perkenalan kami dengan privilese yang kami miliki.

Sedikit konteks, kami berdua besar di keluarga menengah dan menikmati pendidikan swasta sejak TK. Kami bertemu di SMA negeri, di mana di Jakarta adalah pusat studi terbaik untuk diversitas. Perpindahan dari Tangerang Selatan ke Jakarta Selatan yang hanya 15 kilometer itu saja sudah membuka mata akan luasnya dunia ini – apalagi berkenalan dengan orang-orangnya.

Untuk pertama kalinya saya mengenal orang-orang sebaya yang tidak memiliki akses pada banyak hal, dimana sejak lahir saya sudah terima secara otomatis. Hal-hal seperti kamar ber-AC, mobil pribadi keluarga, atau menikmati makanan cepat saji.


Cerita mereka pun bisa beragam dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ada teman yang membayar SPP sebesar Rp100.000 saja (pada tahun 2000), keluarganya tidak mampu dan harus mendapatkan bantuan karena berprestasi. Ada teman saya yang ketika kami pergi bersama-sama naik mobil, itu adalah pertama kalinya dia naik kendaraan berpendingin selain taksi dan Patas AC.

Ada teman saya yang obsesi hidupnya adalah masuk ITB, dengan alasan lulusannya memiliki probabilitas tinggi untuk mendapat kerja, karena jika dia gagal masuk, maka pilihan lain yang dia punya hanya bekerja untuk membiayai hidup ibu dan adik-adiknya.

Itu baru sebagian kecil, dan baru dari masa sekolah saja. Belum masa kuliah dan kemudian bekerja di beberapa bidang yang berbeda. Saya sudah bertemu dengan bermacam warna-warni hidup orang lain, termasuk juga masalah-masalahnya. Dan setiap kali ada pertemuan baru dan mendengar cerita baru, selain bersyukur tentunya, saya perlahan belajar satu hal: hak istimewa itu nyata.



Terus terang, saya merasa jauh lebih unggul dibanding teman-teman seangkatan dari SMA, dan itu membuat saya terbiasa menikmatinya, dan menjadikan saya tumpul akan sekitar saya.

Setelah memasuki fase bekerja, saya banyak menemui orang-orang yang jauh lebih berhasil dibanding saya, tapi dengan privilese yang lebih rendah. Tidak S1, atau tidak lahir di Jakarta. Sedangkan saya, merasa bingung, saya lebih privilese tapi mengapa mulai banyak yang lebih unggul? Ah, mungkin hoki saja, pikirku.

Tapi semakin lama berkarir, akhirnya tiba dalam kesimpulan, semakin tinggi jabatannya, anehnya, semakin susah latar belakangnya. Saya semakin kebingungan. Jujur saja, di fase sekarang ini, di jabatan level C, saya yang sering merasa paling naas, tapi ternyata, orangorang yang lebih dulu meraih level C atau bahkan investor saya, semuanya memiliki latar belakang yang jauh lebih susah lagi. Dan, yang satu angkatan dengan jabatannya lebih rendah, memiliki masa lalu yang lebih indah dibanding saya

Jika teori asal-asalan ini benar, maka ada hubungan privilese dengan rendahnya pencapaian. Lalu, apa yang membuat kurangnya privilese memacu tingginya pencapaian? Satu jawabannya. Kesadaran.



Berani saya bilang, satu-satunya faktor paling penting dalam memacu diri kita itu adalah kesadaran. Betul, privilese rendah tidak menjamin pencapaian tinggi, tapi bagi yang sadar lahir di lingkungan privilese rendah, timbul keberanian, keputusasaan, situasi melakukan atau mati, yang nanti akan berguna sekali dalam menggapai hidup. Itu yang terkadang yang menjadi pembeda untuk orang-orang yang memiliki privilese tinggi.

Saya pun akhirnya menyisir ulang kembali, teman-teman saya yang dulu anak bos, anak keluarga besar atau anak Jendral, sekarang ada di mana? Tidak kemana-mana hidupnya.

Mungkin hanya satu banding sepuluh, generasi keluarga kaya kedua yang berhasil memajukan keluarganya lebih jauh lagi. Sembilan sisanya, menjadi orang yang medioker saja, atau bahkan ada yang terjerat narkoba. Semua hanya menjadi kemunduran bagi pencapaian keluarganya.

Coba sisir kembali pencapaian keluarga Anda, dua generasi ke belakang. Nenek saya, buta huruf, tapi bisa menyekolahkan tujuh anaknya sampai SMA. Dan anak-anaknya bisa memiliki rumah di area sub urban, menyekolahkan semua anak-anaknya lagi sampai jenjang S1.

Lalu saya, rumah saja masih mencicil. Boro-boro menyekolahkan anak sampai S1, hal itu belum terpikir sama sekali. Padahal usia hampir 37. Dibanding ayah saya yang berusia 37 saat itu, pencapaian beliau sudah jauh lebih jauh.

Dari dua generasi ini, sayalah yang pencapaiannya paling rendah. Karena saya tidak seputus asa nenek atau ayah saya. Rekan-rekan sejawat di dunia kerja saya sekarang juga punya semangat tarung yang lebih jauh dibanding saya, karena mungkin, tingkat keputusasaan mereka, masih satu level dengan ayah saya.

SALAH SIAPA?


Bagi Anda yang membaca ini dan masih sering komplain tentang tidak pernah difasilitasi atau didukung orang tua, anggap saja sebagai kemerdekaan, untuk menentukan masa depan diri sendiri. Ini menjadi jalan yang sepi, tapi paling tidak ini jalan Anda sendiri. Memiliki privelese tinggi, lalu datang tekanan bertubi-tubi untuk menjaga nama baik keluarga dengan masa depan sudah ditentukan, juga sama tidak enaknya.

Di mana pun saya bekerja, hal yang paling tidak menyenangkan adalah memiliki atasan anaknya bos. Karena orang satu kantor pun tahu, dia di posisi itu hanya karena privilese, anaknya bos. Dan menurut pengamatan saya sebelumnya, hanya satu banding sepuluh. Berarti 90% gagal. Investasi yang jelek sekali.

Saya banyak mengenal orang tua yang sangat bekerja keras, membangun dinasti keluarga, namun hanya untuk memiliki anak yang bekerja sebagai youtuber atau pemilik showroom mobil. Kalau saya orang tuanya, saya pasti kecewa. Mau putus hubungan tapi anak sendiri. Ya sudah, diterima saja.


Perlu dicatat, ini bukan 100% kesalahan anaknya saja. Banyak orang tua yang memiliki dendam masa lalu. Karena dulu tidak bisa memilih jalan hidup yang diinginkan, lalu membangun masa depan agar anaknya bisa mengerjakan apapun yang dia mau.

Permasalahan muncul, si anak tidak memiliki kesadaran dari mana orang tuanya berasal. Yang dia tahu hanya, saya punya pilihan yang tak terbatas. Apalagi pilihan seperti ini diberikan terhadap generasi paling narsisistik, karena sosial media.

Kemungkinan besar pilihannya akan jatuh untuk memperbesar egonya. Pilihan untuk mengekspresikan diri, tidak lebih. Resep ampuh meruntuhkan dinasti keluarga yang telah terbangun.

Memiliki terlalu banyak pilihan sering kali hanya menyisakan kebingungan. Dan begitu juga sebaliknya, memiliki pilihan yang terbatas, akan membantu kita fokus. Mau tidak mau, memberikan yang terbaik dalam memilih. Seperti musisi jaman dulu, karena teknologi yang terbatas, mau tidak mau harus memiliki skill mendalam. Tapi sejak terlalu banyak teknologi yang tersedia, penggalian dalam berkarya hanya ada di permukaan saja. Saat pilihan terbatas, galilah lebih dalam.



Saya punya teman waktu kecil, yang apa pun ia sentuh, langsung piawai. Main bola jago, main basket jago, main gitar juga begitu. Semua tren yang terjadi, ditambah fasilitas orang tua membuatnya jago dalam banyak hal. Besarnya? Tidak jadi apa-apa.

Mungkin ini terkesan berlawanan dengan tulisan saya sebelumnya, di mana baiknya kita bisa jadi segeneralis, mungkin dibanding spesialis. Tapi perlu diingat, ini lebih menekankan terhadap rasa terpojoknya kita dengan hidup. Jika hidup tidak merasa terpojok, kita jadi teramat sangat santai.



Oleh karena itu persetan dengan privilese. Yang dibutuhkan dalam hidup itu kesadaran di mana kita berpijak. Jika memiliki privilege lebih tinggi, pikir caranya bagaimana agar hidup tidak mundur. Jika lahir di lingkungan privilese rendah, laparlah selaparlaparnya.

Jangan pernah kecil hati karena datang dari luar daerah atau orang tua yang tak mampu.

Percayalah, bersaing dengan orang tua yang memiliki jabatan tinggi, juga kompetisi, tidak ada ujungnya.

Jika tidak diberkati dengan peluang, ciptakan peluang. Lagipula kenapa harus takut bersaing, mereka cuma anak orang kaya. Tidak ada yang lebih menyebalkan dari anak orang kaya.



NANTIKAN TULISAN ADRIANO QALBI BERIKUTNYA

JUMAT, 9 Juli 2021

HANYA DI