Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Di Desa Ini Jenazah Tidak Dimakamkan

Mepasah adalah tradisi pemakaman di Desa Trunyan dimana jenazah diletakkan begitu saja hingga hancur secara alami.

Shannon Neda Wijaya  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Memiliki tradisi dan kebudayaan yang beragam dan unik telah menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki Indonesia. Warisan leluhur inilah yang sering mendatangi wisata-wisata asing dari berbagai mancanegara. Salah satu tempat wisata yang menjadi pusat wisata baik untuk wisata asing maupun lokal adalah yang dikenal dengan keindahan alam dan budayanya.

Salah satu tradisi unik di daerah Bali adalah tradisi dimana mayat tidak dikubur atau dibakar (ngaben), melainkan hanya diletakkan di atas tanah dan dibiarkan begitu saja sampai membusuk dengan sendirinya. Tradisi ini dilaksanakan di desa tertua dari Pulau Dewata, yaitu Desa Trunyan, dimana penduduknya disebut sebagai “Bali Aga” atau Bali tua. Di Desa Trunyan, terdapat sebuah pohon yang telah berusia ribuan tahun, yaitu pohon Taru Menyan. Nama Trunyan sendiri berasal dari nama pohon ini, Taru berarti “pohon” dan Menyan berarti “harum”. Seperti namanya, pohon ini mengeluarkan bau harum yang menyengat hingga pada akhirnya penduduk memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat pemakaman. Masyarakat sekitar percaya bahwa mayat yang diletakkan disana tidak mengeluarkan bau busuk karena telah diserap oleh pohon besar tersebut. Masyarakat desa Trunyan juga percaya bahwa leluhur mereka adalah manusia yang turun langsung dari langit untuk memberikan kehidupan di desa Trunyan tanpa kontaminasi adat lain.

Baca Selengkapnya
Add comment
DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation