Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

CANCEL CULLTURE

DELEGITIMASI

By Adriano Qalbi

Adriano Qalbi di sini, seorang komedian yang mendambakan kebebasan berbicara dan berkarya.

Disangka lahir di era yang lebih bebas, tapi pada kenyataannya, malah lahir di era paling mengganggu batin. Selain ancaman hukum, meski tidak separah ancaman sebuah orde tirani, berkarya kini juga tidak bisa lepas dari jejak hidup digital.

Antara karya dan ucapan atau pendirian sosial yang terekam secara digital, bisa kembali mengejar dan memberikan celah untuk hukuman sosial.

Louis CK, Gal Gadot, Dr. Seuss, Eminem. Apa kesamaan dari keempatnya selain status mereka sebagai orang terkenal di bidangnya masing-masing? Ya, mereka adalah korban-korban sanksi sosial yang sedang cukup ngetren di Amerika Serikat beberapa tahun ini. Namanya cukup nyangkut di telinga: cancel culture.

Sejauh ini belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, jadi kita akan menyebutnya begitu saja di sini. Untuk yang sering mengikuti berita-berita melalui portal-portal daring seperti BuzzFeed atau Reddit, istilah ini mungkin tidak terlalu asing.

CANCEL CULTURE


Intinya, publik menilai Louis CK, Gal Gadot, Dr. Seuss, Eminem, memiliki dosa besar yang tidak dapat diampuni. Dan publik memutuskan bahwa mereka harus dibatalkan (cancelled), dengan cara memboikot semua pergerakannya. Ini termasuk berhenti menikmati karya-karya mereka dan mengampanyekan untuk tidak lagi memberikan mereka kesempatan untuk terus bekerja.

Contoh menutup pintu rejeki itu menimpa CK. Kasusnya menyeruak di tengah pergerakan #MeToo beberapa tahun lalu, setelah cerita tentang kegemaran sang komedian bermasturbasi di depan wanita lain muncul ke permukaan.

Dia kehilangan banyak pekerjaan dan dipaksa untuk tenggelam dari sorotan, tetapi kembali lagi kurang lebih setahun kemudian dengan langsung merilis acara stand-up spesial. Dengan gagah berani pula, dia membahas kasusnya – dengan tetap bercanda tentunya.

Gadot yang di permukaan tampak sempurna juga tidak kebal dosa. Statusnya sebagai veteran angkatan bersenjata di tanah airnya, Israel, sering jadi bahan pergunjingan dan komen-komen nyelekit di Internet.


Tidak hanya dari para pembela Palestina, tetapi juga dari kaum humanis yang menganggap Gadot tidak memiliki standar moralitas yang tepat untuk memerankan tokoh superhero yang diidolai gadis-gadis kecil di seluruh dunia.

Penulis cerita anak-anak dengan ratusan karya yang telah diadaptasi ke berbagai medium, almarhum Dr. Seuss, baru-baru ini sedang disorot setelah beberapa karyanya yang menampilkan rasisme kelas berat, terhadap orang-orang kulit hitam, Asia dan Timur Tengah. Meskipun ada banyak perdebatan mengenai mereka sebagai produk pada masanya, banyak penerbit besar yang tidak bergeming dan memutuskan untuk berhenti menerbitkan karya-karya problematik tersebut.

Yang paling anyar, generasi Z yang melek teknologi baru saja menemukan bahwa rapper Eminem meneriakkan banyak kebencian melalui lirik lagu-lagunya. Yang terakhir ini sih, selain gaung cancel culture yang sudah mulai bisa dipilah urgensinya, para pembela Eminem juga memutuskan untuk pasang badan. Mereka membuat argumentasi tandingan: Gen-Z yang terlalu lembek, dengar lagu saja kok mau persekusi.



Empat orang tadi hanya sebagian kecil dari daftar panjang nama-nama yang ketiban nasib buruk cancel culture. Dan ya harus diakui, banyak diantaranya memang punya sejarah perilaku yang sangat menjijikkan – Bill Cosby dan Harvey Weinstein misalnya. Atau yang masih berupa prasangka meskipun membuat kita bergidik mendengarnya, Michael Jackson dan Woody Allen.

Ketika mereka sudah melakukan sesuatu yang secara moral sebegitu salah, tanpa sadar ada perasaan untuk menutup pintu toleransi secara otomatis. Pada akhirnya, penolakan kita terhadap apapun yang berhubungan dengan mereka, termasuk karya-karyanya, lahir menjadi cancel culture itu.

Normal bukan? Yang jadi masalah adalah ketika penolakan ini, yang mungkin bermula dari penilaian secara pribadi, kemudian teramplifikasi ke lebih banyak orang dan kemudian menjadi sebuah pergerakan.

Oke, mungkin menyebutnya masalah adalah kurang tepat, karena ada dua sisi yang berseberangan dan cukup kompleks di sini. Di satu sisi, publik berhak untuk menilai siapapun berdasarkan apa yang mereka lihat – apalagi melalui sudut pandang moral, perilaku orang-orang ini memang ekstrim. Bagaimana kemudian mereka melanjutkan penilaian itu, yang akan menentukan amplifikasi tadi.



Sisi lain dari koin yang sama ini adalah ketika terkadang gerakan penghujatan berjamaah ini mengabaikan beberapa hal; diantaranya nilai-nilai moralitas lainnya dan kebenaran dari berita tersebut.

Tanpa mengabaikan tindak tanduk pelaku pada mulanya, apakah mengirimkan ancaman pembunuhan dan meneror keluarga bisa dibenarkan? Apalagi, suara mayoritas belum tentu adalah suara yang tepat.

Jutaan jawaban salah tidak serta merta membuatnya jadi benar. Pengabaian dua hal ini yang biasanya akan menjadi sumber masalah baru.

Banyak faktor yang menjadikan cancel culture menjadi sebesar ini. Kemudahan akses ke informasi adalah yang terbesar. Membagikan tautan melalui kanal berita, media sosial ataupun aplikasi obrolan sama mudahnya dengan menjentikkan jari.

Hanya dengan sekali ketuk, informasi tersebut siap dilahap ribuan pasang mata. Berbarengan dengan itu, fitur lainnya yang sudah tersambung dan sama mudahnya tampak adalah kolom komentar. Fitur andalan para penghujat untuk memuntahkan segala warna warni perasaan mereka.

ERA MEDIA SOSIAL


Sebelum era internet dan media sosial, tokoh masyarakat adalah figur yang tidak mungkin diraih. Mereka seperti hidup di dunia yang lain. Asli tetapi fiksi. dan Internet, merobohkan tembok batasan tersebut.

Tiba-tiba mereka menjadi dekat. Tiba-tiba kita bisa melihat keseharian mereka. Tiba-tiba tokoh fiksi tersebut menjadi nyata. Dan tiba-tiba, orang-orang mulai merasa punya peran dalam kehidupan figur-figur ini.

Ketika akses ke tokoh-tokoh tersebut semakin menipis, dan menjamurnya kebiasaan penonton konten buatan mereka untuk melemparkan opininya tanpa diminta, yang kebanyakan terjadi jelas bukan dialog yang sehat antara selebriti dengan penggemarnya.


Ini membawa kita ke faktor yang kedua, yaitu standar moral. Ada miliaran orang di dunia, ratusan juta orang di Indonesia, jelas tidak mungkin semuanya memiliki pandangan dan nilai-nilai yang seragam. Termasuk dalam bagaimana mereka melihat sebuah kasus.

Satu kelompok bisa memahami suatu hal sebagai kesalahan, tetapi dianggap penistaan oleh kelompok yang lainnya. Belum lagi yang mencap bahwa kesalahan dimulai dari sesuatu yang hanya di permukaan, seperti ras, kepercayaan, strata sosial dan tingkat ekonomi misalnya.

Faktor ketiga, kedewasaan. Mungkin tidak terlihat sebesar yang sebelum-sebelumnya, tetapi dalam banyak kasus sering jadi katalis. Seperti juga standar moral. Jutaan pelahap satu berita akan memiliki persepsi, nalar dan emosi yang berbeda-beda.

Mentalitas bahwa gawai di genggaman dan hadapan mereka memberikan kekuatan tak terbatas, akhirnya sering menjadi pemantik bara. Bahasa kerennya, effortless but powerful. Dalam hitungan menit dan jam, bara tersebut telah menjelma menjadi api unggun.



Sebelum lanjut, perlu digarisbawahi bahwa tulisan ini bukan untuk memberi pembelaan kepada nama-nama yang disebutkan di awal tadi – apalagi memandang remeh perbuatannya, seberapa pun kecilnya.

Dalam banyak kasus, persekusi beramai-ramai terhadap orang yang memiliki kesalahan besar, memang terasa melegakan. Terutama ketika pergerakan kolektif secara daring ini berhasil mencapai tujuannya. Tetapi, ketiga faktor di atas sudah bercampur melalui sisi buruknya. Terlalu banyak api unggun akan berkumpul dan membesar membentuk kebakaran.

Banyak kecaman yang ditujukan kepada tokoh-tokoh di atas sudah melenceng jauh dari tujuan awalnya, untuk memberikan perlawanan, menyetop pergerakan orang-orang bermasalah, dan juga sebagai dukungan kepada korban-korbannya. Sekarang, cancel culture lebih banyak digunakan sebagai wadah delegitimasi.

Logika ini menyatakan, dengan kesalahan mereka, otomatis karya-karya mereka menjadi haram untuk dinikmati, tercemar. Ini belum lagi jika ada pihak berlawanan yang mengkultuskan figur-figur tersebut. Menutup mata terhadap kesalahan mereka dan malah memberikan bermacam pembelaan. Sama-sama bermodalkan tiga faktor yang sama, di ujung spektrum yang berseberangan. Makin runyam.



Dari bermacam kasus ini, yang seharusnya menjadi pertanyaan selanjutnya adalah: Di mana kita menarik garis batasnya, ntuk menjadi penggerak cancel culture? Karena, sejak kapan perbuatan orang di waktu pribadi dan masa lalunya menentukan kualitas pekerjaannya? Tentu saja tidak pernah.

Lalu, kenapa sebagai hukuman sosial (satu-satunya bentuk hukuman yang bisa diberikan oleh publik) kita menentukan bahwa karya mereka tidak layak untuk dinikmati lagi? Apakah ini masih bentuk pengadilan oleh publik, atau sudah menjadi sentimen pribadi yang menjustifikasi provokasi?

Semua ‘dosa’ yang dilakukan tokoh-tokoh di atas, dan juga beberapa kasus besar lainnya menunjukkan hal tersebut. CK masih merupakan komedian terbaik di sepuluh tahun terakhir. Tidak terbayang Wonder Woman jika diperankan aktris selain Gadot. Tanpa buku-buku Dr. Seuss, ada berapa generasi anak-anak yang akan kehilangan? Eminem yang mendobrak berbagai tradisi dunia rap dalam 30 tahun karirnya, disuruh berhenti? Ah sudahlah.

Perilaku figur-figur ini di kamarnya masing-masing, tidak menghentikan mereka untuk berkontribusi dalam melahirkan karya-karya hebat. Bahkan, di level penghuni permanen neraka seperti Cosby dan Weinstein sekali pun.



Kembali ke logika di awal tadi, bahwa penolakan yang kita rasakan ketika kita tidak lagi bersimpati kepada orangnya, ya boleh saja. Menonton Cosby Show, atau Annie Hall, atau mendengarkan album Thriller, tidak lagi terasa menyenangkan? Ya boleh saja.

Melihat CK dan Gadot tampil di depan publik tanpa merasa bersalah, lalu membuat kita jadi kesal? Ya boleh saja. Melihat buku Dr. Seuss dan ingin melemparnya? Ya boleh saja.

Melihat lagu Eminem di playlist lagu masa SMP dan ingin menghapusnya? Ya boleh saja. Tapi kalau bicara jujur, seberapa jauh kita bisa konsisten dalam hal ini. Konsisten menyabotase karya karena ada perbuatan yang kita tidak suka dari penciptanya?

Berapa banyak karya yang harus kita singkirkan demi menjunjung standar moral yang tinggi? Walt Disney saja dulu dikenal sebagai seorang pemeluk antisemitisme, secara terbuka tidak ingin mempekerjakan seseorang karena memeluk agama Yahudi.



Lalu apa kita harus buang semua kenangan masa kecil?

Perlu diingat, Marvel juga dimiliki oleh Disney, jadi apa itu harus dibuang juga? Sungguh dilema yang sulit bagi penggemar film pahlawan super, tapi juga memiliki jiwa-jiwa Social Justice Warrior (SJW).

Atau kita belajar menebalkan kulit kita, dan mulai memisahkan pribadi dan karyanya. Melihat yang baik dari karyanya saja dan mengapresiasi kompleksitas karya tersebut. Kulit tipis berakibat karakter Apu dari The Simpsons dihapuskan, karena dianggap mendegradasi ras India. Saya yakin komplain ini berasal bukan dari India, tapi justru ras lain, yang ingin bertingkah pahlawan.

Menghargai dari aspek karyanya saja menurut saya tidak ada jeleknya, lagipula repot sekali jika kita harus konstan mengamati “oh dia musisi yang hebat tapi buang sampah sembarangan” atau yang lainnya. Dan, jika kita hanya menunggu seseorang yang baik pribadinya dan baik juga karyanya, bukankah kita hanya menunggu kehadiran seorang nabi.



NANTIKAN TULISAN ADRIANO QALBI BERIKUTNYA

JUMAT, 2 Juli 2021

HANYA DI