Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Dilema Atlet Dalam Perspektif Idealisme dan Profesionalisme

Masyarakat secara luas dapat melihat contoh dilema atlet dalam perspektif idealisme dan profesionalisme lewat kejadian Ronaldo vs Coca-Cola.

Edo Juvano  |  

Atas terjadinya aksi Cristiano Ronaldo dengan Coca-Cola yang menggemparkan media sosial beberapa pekan terakhir, masyarakat secara luas dapat melihat contoh dilema atlet dalam perspektif idealisme dan profesionalisme, dalam hal ini, berbuah “aktivisme atlet” di ranah sponsorship. Fenomena tersebut seharusnya membuka pandangan brand untuk bekerja lebih keras dalam cara mereka menghubungkan produk dengan olahraga.

Soccer Football - Euro 2020 - Group F - Portugal v Germany - Football Arena Munich, Munich, Germany - June 19, 2021 Portugal's Cristiano Ronaldo during the warm up before the match. ANTARA FOTO/Pool via REUTERS/Kai Pfaffenbach/rwa.
Soccer Football - Euro 2020 - Group F - Portugal v Germany - Football Arena Munich, Munich, Germany - June 19, 2021 Portugal's Cristiano Ronaldo during the warm up before the match. ANTARA FOTO/Pool via REUTERS/Kai Pfaffenbach/rwa.

Cristiano Ronaldo bukanlah sosok kemarin sore. Kapten tim nasional sepak bola Portugal dengan rentetan penghargaan individu kelas dunia, dengan mencolok menyingkirkan dua botol Coca-Cola di depannya pada konferensi pers Euro 2020. Tak hanya itu, ia bahkan mengangkat sebotol air mineral dan meneriakkan “Agua!”. Implikasi yang jelas dari bintang yang sadar kesehatan ini adalah bahwa penonton dan penggemarnya harus menghindari minuman manis.

Hal ini yang kemudian mendorong saya untuk menulis artikel dengan judul “Bahaya Soda dan Alasan Ronaldo Lebih Pilih Minum Air Mineral” pada 16 Juni 2021. Beberapa hari setelahnya, saya melihat tanggapan yang dibuat oleh seseorang dengan nama pengguna “haurazm” dalam artikel berjudul “Bahaya Ronaldo dan Alasan Tidak Membenarkan Aksinya”, melalui Pojok Opini.

Inti dari tanggapan tersebut kurang lebih menyatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh Ronaldo sangat merugikan perusahan, terlebih ketika perusahaan tersebut menjadi sponsor resmi di acara pertandingan ternama yang pastinya butuh biaya yang tidak murah.

“Padahal tujuan sponsor ini juga untuk mendukung berjalannya acara pertandingan bola itu sendiri. Mengapa Ronaldo tidak bisa coba menghormatinya?” Demikian kutipan salah satu paragraf dalam tulisan tersebut.

Membaca tanggapan itu, saya tergerak untuk menyampaikan beberapa perspektif lain. Maka dari itu, artikel ini sengaja saya buat untuk membalas tulisan tanggapan tersebut.

Precaution: Pemaparan yang akan Anda baca di bawah murni pendapat pribadi. Benar dan salah sangat bergantung pada kesepakatan atau pemahaman yang bersifat relatif.

Kritik Bagian Pertama

Saya mengerti perhatian Anda mengenai aksi penyingkiran produk sponsor ini merupakan tindakan yang tidak profesional dari Ronaldo. Selain “kampanye pola hidup sehat” yang dilakukannya tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan konferensi pers, aksi kecil tersebut juga dianggap berdampak besar pada perusahaan terkait.

Photo by Laura Chouette on Unsplash
Photo by Laura Chouette on Unsplash

Atas keprihatinan Anda tersebut, maka kritik pertama yang ingin saya sampaikan adalah: Anda menulis brand “Coca-Cola” dengan ketikan “Coca Cola”.

Alangkah baiknya jika Anda menulis Coca-Cola menggunakan strip, sesuai dengan brand identity yang sudah ditetapkan. Andaikan Anda orang terkenal, bisa-bisa saham Coca-Cola bisa anjlok karena salah penulisan seperti ini.

Kritik Bagian Kedua

Aksi ini mencuri perhatian global seiring banyaknya media yang melaporkan bahwa harga saham Coca-Cola turun drastis karenanya.

Kesimpulan ini muncul dari faktor keterkenalan Ronaldo yang memiliki setengah miliar pengikut jika dijumlahkan dari berbagai sosial media sosial yang ia miliki. Hal ini membuat orang-orang menganggap Ronaldo sama besar dan berpengaruhnya dengan Euro 2020 dan sponsornya sendiri.

Kemudian muncul fakta bahwa penurunan saham Coca-Cola hampir pasti tidak berhubungan dengan aksi Ronaldo.

Kita hidup di era post-truth, ketika keyakinan pribadi punya kekuatan yang lebih besar dibanding logika dan fakta. Kita hidup di situasi saat objektivitas dan rasionalitas membiarkan emosi memihak pada keyakinan, meski fakta memperlihatkan hal yang berbeda.

Era post-truth, aksi Ronaldo, dan turunnya harga Coca-Cola. Ketiganya menarik untuk dibedah satu per satu. Mari dimulai dengan menyajikan sejumlah fakta di antaranya.

Fakta pertama, memang benar Ronaldo menolak untuk meminum Coca-Cola yang ditempatkan secara strategis saat konferensi pers. Kedua, nilai Coca-Cola yang turun 4 miliar dolar AS pada saat konferensi pers selesai juga benar adanya.

Namun, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi harga saham perusahaan raksasa itu. Berikut beberapa fakta dilansir dari laman Forbes:

  • 1. Coca-Cola memiliki 4,3 miliar saham, dan ditutup pada Jumat, 11 Juni, dengan harga saham $56,16 untuk nilai pasar $242 miliar.
  • 2. Pada hari Senin, 14 Juni, Coca-Cola dibuka lebih rendah, pada 09:30 EST.
  • 3. Pada 09:40 EST, harga sahamnya adalah $55,26 (turun 1,6%) dan nilai pasar telah turun menjadi $238 miliar, $4 miliar lebih rendah dari hari sebelumnya.
  • 4. Cristiano Ronaldo memindahkan botol Coca-Cola pada pukul 09.43 EST, dan berkata “Água”.

Dari fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai pasar Coca-Cola sudah turun $4 miliar pada saat Ronaldo melakukan aksinya. Sebaliknya, banyak faktor lain yang menjelaskan penurunan tersebut tapi tidak ada hubungannya dengan CR7.

Misalnya, pada 09:40 EST, seluruh saham emiten AS diperdagangkan pada posisi zona merah. Valuasi Ford Motor Company terpangkas lebih dari 2 miliar dolar AS.

Pada 14 Juni, saham Coca-Cola menjadi ex-dividen. Ketika Anda memiliki saham perusahaan, Anda menerima dividen pada hari-hari tertentu. Dalam kasus Coca-Cola, tanggal ini diumumkan lebih dari setahun sebelumnya. Begitu Coca-Cola menjadi ex-dividen, dividen itu sudah dibagikan.

Tentu saja, pada hari ketika saham berhenti membawa hak dividen, harga saham akan terkoreksi ke angka yang lebih rendah. Dalam hal ini, tanggal ex-dividen kebetulan bertepatan dengan konferensi pers Ronaldo.

Fakta terakhir, dari saat Ronaldo memindahkan botol (9.43 am EST), hingga akhir hari perdagangan Wall Street, harga saham Coca-Cola naik $0,30, menambahkan valuasi $1,3 miliar kepada perusahaan.

Kritik Bagian Ketiga

Selain rokok, ada pula sponsor-sponsor lain yang menjadi akar polemik dalam olahraga, seperti junk food dan minuman beralkohol yang sama-sama diklaim mempunyai efek tidak baik untuk kesehatan.

Photo by Eugene on Unsplash
Photo by Eugene on Unsplash

Contohnya Inggris yang jelas-jelas memperbolehkan klub sepak bola divisi utama mereka, Everton, yang pernah disponsori oleh Chang, produsen bir asal Thailand. Begitu pula klub asal Skotlandia, Celtic dan Glasgow, masing-masing pernah kecipratan uang dari merek bir Magners, Tennent, dan Carling.

Sponsor rokok dan alkohol di lini olahraga sampai sekarang jadi polemik banyak pihak. Beberapa pihak seperti praktisi kesehatan setuju bahwa olahraga dan industri produk rokok, minuman beralkohol, atau produk konsumsi lain yang merusak tubuh berada pada jalur yang berbeda.

Tekanan-tekanan inilah yang kemudian membuat sejumlah negara mengambil langkah pembatasan, bahkan larangan penuh terhadap sponsor-sponsor terkait. Dengan logika yang sama, agaknya masuk akal jika semestinya Coca-Cola dalam acara olahraga juga harus di-review, bukan?

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation