Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Begini Cara Pelaku Penggelapan Dana Nasabah di Bank

Kebanyakan kejahatan perbankan, seperti penggelapan dana nasabah, melibatkan orang dalam. Begini modus kejahatannya.

KONTRIBUTOR OPINI  |  

Belum lama ini diberitakan seorang nasabah di bank BNI cabang Makassar kehilangan uang deposito lebih dari Rp20 miliar. Di bulan Maret 2021 lalu saat nasabah bersangkutan ingin melakukan pencairan tabungan dalam bentuk deposito, ternyata disebutkan tidak masuk dalam sistem di bank tersebut. Penggelapan dana nasabah sudah terjadi.

Pihak nasabah tak menyangka uangnya hilang begitu saja di dalam tabungannya. Keributan sempat terjadi dan menarik perhatian nasabah lain yang sedang berada di bank tersebut, namun dapat diredakan petugas keamanan.

Menanggapi hal ini, Kepala Wilayah Regional 7, Bimawan Singgih Yulianto, seperti dilansir laman Sonora.id, (14/6/2021), mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi internal terhadap kejadian tersebut.

Keluhan nasabah telah ditindaklanjuti dengan melaporkan oknum pegawai yang diduga menghilangkan uang nasabah ke pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini. "Kita sendiri yang melaporkan ke polisi dan saat ini dalam penyelidikan. Ada oknum pegawai yang telah kita laporkan," ungkapnya.

Hampir Selalu Melibatkan Orang Dalam

Sebenarnya membobol rekening nasabah di suatu bank bukan pekerjaan mudah, tak sembarang orang bisa melakukannya. Apalagi jika sistem yang dijalankan pihak perbankan diawasi dengan ketat dan dikontrol dengan benar, sekaligus menjunjung nilai-nilai kejujuran dan kepercayaan serta menerapkan asas kehati-hatian.

Namun, ternyata pembobolan bank atau kejahatan perbankan yang terjadi di Indonesia hampir dapat dipastikan selalu melibatkan orang dalam bank itu sendiri.

Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan telah jelas dicantumkan bahwa ada enam pasal tentang kejahatan, tapi hanya satu pasal yang tidak melibatkan pihak bank, artinya memang kerentanan terjadinya kejahatan perbankan justru dari dalam bank itu sendiri.

Sedangkan, berbagai modus atau kasus pembobolan bank yang dirancang oleh orang dari luar bank (bisa perorangan maupun perusahaan dan instansi), seringkali justru terjadi atas bantuan orang dalam bank itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karena mereka bekerjasama, atau bisa terjadi karena membantu menjalankan sistem di bank dengan mendapatkan upah atau komisi atas hasil jarahan dari bank tersebut.

Padahal, jika ada tindak pidana perbankan maka akan melibatkan dana masyarakat yang disimpan di bank. Maka hal ini akan merugikan kepentingan berbagai pihak, baik bank itu sendiri selaku badan usaha maupun nasabah penyimpan dana, sistem perbankan, otoritas perbankan, pemerintah dan masyarakat luas.

Cara-Cara yang Dilakukan

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yaitu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan, mencatat berbagai modus tindak pidana yang dilakukan perbankan kepada dana nasabahnya.

Dikutip dari DetikFinance, disebutkan bahwa salah satu alasan oknum pegawai bank menggelapkan dana nasabah adalah mengejar target pekerjaan. Selain target, biasanya oknum pegawai bank juga punya gaya hidup yang berlebihan dan mewah, sehingga butuh tambahan uang untuk mencukupinya. Namun ada juga yang memiliki hobi berjudi atau memiliki hutang dalam jumlah besar.

Berikut beberapa cara penggelapan dana nasabah yang dilakukan pegawai bank, seperti dilansir Detik Finance, (12/5/2015), yang disampaikan Direktur Eksekutif Hukum LPS Robertus Bilitea dalam seminar Optimalisasi Pengejaran Aset Tindak Pidana Perbankan di Jakarta.

1. Pemberian Kredit Fiktif

Pemberian kredit fiktif atau topengan merupakan modus ini yang paling sering dilakukan. Dalam pemberian kredit fiktif si penerima kredit dalam perjanjian kredit dibuat secara pura-pura atau memakai nama orang lain. Jenis usaha yang dibiayai juga fiktif. Bank berpura-pura menyalurkan kredit, dicatat dalam buku, padahal uangnya entah dibawa ke mana.

2. Penarikan Dana Tanpa Sepengetahuan Nasabah

Dalam buku bank sudah tidak tercatat ada simpanan nasabah (deposito atau tabungan) tapi si nasabah tidak pernah menarik (debet) deposito ataupun dana tabungan. Sehingga ketika si nasabah menanyakan perihal deposito atau tabungannya, ternyata sudah tidak ada.

3. Tabungan atau Deposito Tidak Dicatat

Tindak pidana yang satu ini bisa dilakukan melalui deposito atau tabungan yang tidak dicatat dalam pembukuan bank (unrecorded). Sehingga bank tidak mencatatkan simpanan nasabah dalam pembukuan bank meski nasabah sudah menyetorkan uangnya ke bank.

4. Setoran atau Angsuran Kredit Tidak Diteruskan ke Bank

Setoran atau angsuran kredit tidak diteruskan pada bank. Nasabah menyetorkan sejumlah uang kepada pegawai bank untuk simpanan atau pembayaran kredit, akan tetapi tidak dicatatkan dalam pembukuan bank tapi dibawa lari oleh si pegawai bank.

Tips Aman Menyimpan Uang di Bank

Agar terhindar dari tindak kejahatan perbankan, maka sebagai nasabah juga tetap harus hati-hati saat menyimpan sejumlah dana di sebuah bank, berikut tipsnya:

1. Rutin cek saldo tabungan

Rajinlah mengecek saldo tabungan, minimal sebulan sekali. Saat ini bisa menggunakan mobile banking atau internet banking untuk memeriksa transaksi finansial langsung dari HP.

2. Pilih bank terpercaya

Sebelum membuka rekening tabungan, pilih bank yang bisa dipercaya. Pilih bank yang punya kredibilitas baik, rekam jejaknya bersih dan tercatat sebagai bank peserta penjaminan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

3. Simpan uang di beberapa bank

Agar dana yang kita miliki lebih aman, alangkah baiknya disimpan di bank yang berbeda. Dengan begitu, jika terjadi kejahatan perbankan di akun tabungan yang satu, akun tabungan yang lain tetap aman.

4. Gunakan PIN berbeda dan sulit ditebak

Jika memiliki beberapa akun keuangan, pastikan, gunakan PIN yang beda dan sulit ditebak untuk setiap akun keuangan.

5. Simpan buku tabungan dan kartu ATM

Setiap kali nasabah membuka rekening tabungan, pasti akan mendapat buku tabungan dan kartu debit atau ATM. Simpan keduanya dengan baik. Jangan sampai jatuh ke tangan orang lain karena berpotensi disalahgunakan.

6. Lindungi data pribadi akun perbankan

Rahasiakan data pribadi perbankan yang digunakan. Jangan mempublikasikan nomor ponsel di media sosial, atau gunakan nomor yang berbeda untuk aktivitas perbankan.

7. Jangan gampang percaya orang lain

Disarankan agar tidak mudah percaya kepada siapapun, termasuk keluarga atau saudara dekat, dan teman sekalipun. Kalau lengah dan gampang percaya, lebih mudah dikelabui.

 

Oleh

Vey Kresnawati

Kontributor Opini

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation