Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

10 Nama Baru Varian Covid Yang Harus Kamu Tahu

Kementerian Kesehatan temukan ratusan kasus varian covid baru di Indonesia. Kenali sejumlah varian baru yang telah terdeteksi ada di Tanah Air.

KONTRIBUTOR OPINI  |  

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari laman Kontan, (15/6/2021), menyebutkan sudah ditemukan 145 kasus positif COVID-19 akibat terpapar varian covid baru di Indonesia. Berdasarkan data rekap sekuens Variant of Concern di Indonesia hingga 13 Juni 2021, ratusan kasus COVID-19 tersebut tersebar di 12 provinsi di Indonesia.

Abai Terapkan Protokol Kesehatan

Faktor yang menyebabkan kenaikan drastis jumlah penderita COVID-19 karena masyarakat abai menerapkan protokol kesehatan lantaran merasa telah disuntik vaksin COVID-19. Padahal vaksin tak sepenuhnya mencegah infeksi sehingga kerumunan dan aktivitas tatap muka tetap bisa menyebabkan infeksi COVID-19.

Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah imbas mudik lebaran yang menambah meningkatnya angka penderita covid saat ini. Sementara, tanpa kita sadari saat ini sudah ada 10 varian virus Covid yang beberapa diantaranya sudah menyebar di Indonesia.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Kenali varian baru COVID-19

Kenali Nama Baru Varian Covid

Guna memudahkan orang awam atau masyarakat mengetahui varian baru virus Covid, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi memberikan nama baru untuk varian virus corona dengan menggunakan alfabet Yunani. Tujuan penggunaan nama baru berdasarkan alfabet Yunani ini agar lebih memudahkan dibahas oleh masyarakat non-ilmiah.

Meski demikian, WHO mengatakan bahwa label atau nama baru virus corona ini tidak akan menggantikan nama ilmiah yang ada untuk varian virus corona. Pasalnya nama ilmiah akan terus dipakai guna keperluan penelitian. Dilansir laman Kompas, (9/6/2021), berikut 10 varian virus corona dengan nama baru:

1. Varian Alpha

Nama baru ini disematkan pada varian virus corona yang terdeteksi pertama kali di Inggris. Ditemukan di Kent pada Desember 2020, nama ilmiah dari varian virus corona tersebut adalah B.1.1.7, seperti dilansir Kompas, Selasa (8/6/2021). Studi awal mengungkapkan bahwa varian COVID-19 baru di Inggris tersebut lebih menular, sehingga memicu peningkatan kasus COVID-19 dan rawat inap.

2. Varian Beta

Menurut WHO, varian baru virus corona dari Afrika Selatan adalah salah satu varian SARS-CoV-2 yang paling mengkhawatirkan. Sebab, varian virus corona yang dilabeli B.1.351 tersebut berpotensi memengaruhi kemanjuran vaksin COVID-19 yang ada saat ini.

WHO resmi memberikan nama baru untuk varian sebagai varian Beta, merupakan varian yang terdeteksi kali pertama di Teluk Nelson Mandela, Afrika Selatan pada Oktober 2020 lalu. Varian ini juga memiliki kemampuan penularan yang lebih cepat, serta berpotensi mengakibatkan kematian.

3. Varian Gamma

Varian Gamma merujuk pada varian virus corona dari Brasil yang sebelumnya disebut sebagai varian P.1. Mutasi virus SARS-CoV-2 di Brasil ini memicu lonjakan kasus COVID-19 di negara tersebut. Varian Gamma juga diduga membawa mutasi E484K.

4. Varian Delta

Lonjakan kasus COVID-19 di India telah menyebabkan angka kematian yang luar biasa di negara ini. Varian B.1.617.2 disebut memiliki mutasi ganda virus corona dan diduga sebagai pemicu lonjakan COVID-19 di negara berpenduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa. WHO menyematkan nama baru untuk varian virus corona India ini sebagai varian Delta.

Varian ini mengandung mutasi ganda E484Q dan L452R, yang mana mutasi E484Q disebut mirip dengan E484K, mutasi yang ditemukan pada varian Beta, dari Afrika Selatan dan pada varian Gamma. Sedangkan mutasi L452R juga terdeteksi dalam varian virus yang ditemukan di California, B.1.429.

5. Varian Epsilon

Varian Epsilon merujuk pada varian baru virus corona yang ditemukan di California, Amerika Serikat, B.1.427/ B.1.429. Melansir CNBC, varian virus SARS-CoV-2 ini telah memicu lonjakan dengan menyumbang 52 persen kasus COVID-19 di negara tersebut, 41 persen kasus COVID-19 di Nevada dan menyumbang 25 persen kasus COVID-19 di Arizona.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga telah memasukkan varian Epsilon ini sebagai varian mengkhawatirkan, yang artinya varian virus corona ini mengarah pada peningkatan penularan COVID-19 dan penyakit yang lebih parah.

6. Varian Zeta

Sama seperti varian Gamma, varian P.2 yang kemudian diberi nama baru varian Zeta juga ditemukan di Brasil. Varian ini dilaporkan terdeteksi juga di Inggris dan telah menyebar di Rio de Janeiro. Kendati mengandung mutasi E484K, namun varian Zeta dianggap tidak cukup untuk ditetapkan sebagai varian virus corona yang mengkhawatirkan.

7. Varian Eta

Varian Eta adalah varian B.1.525 yang baru-baru ini teridentifikasi di Inggris. Saat ini, para ilmuwan masih mengawasi varian Eta. Sebab, varian tersebut diketahui memiliki beberapa mutasi pada gen protein spike virus corona.

8. Varian Theta

Varian P.3 yang ditemukan di Filipina atau varian Theta terdeteksi pertama kali pada 13 Maret 2021. Kendati belum ada cukup bukti ilmiah tentang karakter varian ini, namun, varian corona tersebut disinyalir lebih menular dibandingkan versi asli SARS-CoV-2.

9. Varian Lota

Pada November 2020 lalu, varian B.1.526 ditemukan pada sampel yang dikumpulkan di New York, Amerika Serikat. Varian yang kemudian disebut Iota ini, belum diketahui apakah memiliki sifat lebih menular dibandingkan virus aslinya atau tidak.

10. Varian Kappa

Varian B.1.617.1 adalah varian kedua yang ditemukan di India yang juga mengandung mutasi ganda. Di antara lebih dari 2,7 juta kasus COVID-19 di India, sub-garis keturunan B.1.617.1 dan B.1.617.2 ini ditemukan pada 21 persen dan 7 persen dari semua sampel.

Kedua varian tersebut terbukti resisten terhadap antibodi Bamlanivimab yang digunakan untuk pengobatan COVID-19. Bahkan, varian Kappa, B.1.617.1, menunjukkan berkurangnya kerentanan terhadap antibodi netralisasi yang dihasilkan oleh vaksin.

Oleh

Vey Kresnawati, Kontributor Opini

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation