Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Konvoi Pengantar Jenazah Sering Arogan, Polisi Bisa Bantu Kawal

Tahan emosi, lalu baca dulu tulisannya supaya pikiran lebih terbuka buat bahas masalah konvoi pengantar jenazah yang terkesan sering arogan di jalan raya.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Konflik yang melibatkan konvoi pengantar jenazah dengan pengguna jalan lain di jalan raya terus terjadi. Tahan emosi dan dinginkan kepala buat memahami fenomena ini. Mari kita simak alasan dan siapa saja yang berhak didahulukan di jalan raya.

Viral sebuah video di media sosial konvoi pengantar jenazah merusak sebuah truk kontainer di Marunda, Jakarta Utara. Konvoi juga menganiaya sang supir. Diduga, mereka gak terima karena truk abai sama konvoi dan gak beri jalan.

Konflik ini dikonfirmasi dan ditangani oleh Polsek Cilincing. “Petugas kita, Reskrim langsung melakukan penyelidikan untuk mencari segerombolan orang ini yang melakukan perusakan dan pemukulan,” ungkap Kapolsek Cilincing, Kompol Eko Setio dikutip dari Detik.

Masalahnya, sikap emosional konvoi pengantar jenazah di jalan raya sudah berkali-kali terjadi. Bulan Mei lalu, konvoi konflik sama pengendara lain karena tersenggol di Makassar, Sulawesi Selatan. Pernah juga iring-iringan duka lawan arah hingga menendang kaca spion mobil di daerah yang sama.

Kejadian kayak gini terus berulang dan viral di media sosial. Sebelum membahas siapa yang boleh didahulukan di jalan. Mari kita pahami dulu alasan mereka sering jadi road rage.

Sosiolog: Mengantar Jenazah adalah Aktivitas Sakral

Tanpa maksud membenarkan perilaku mereka, nih. Anggota iring-iringan pengantar jenazah biasanya lagi dalam keadaan duka. Menerima kehilangan orang tersayang gak mudah, loh. Makanya, mereka menganggap ini tindakan terakhir yang bisa dilakukan sampai ke liang lahat. Ada gangguan sedikit di jalan langsung ngegas.

“Kalau ada kendaraan atau apapun yang dianggap ganggu perjalanan jenazah, itu pasti terjadi perkelahian berujung kekerasan. Karena dianggap kesakralan dia membawa jenazah terganggu,” ujar sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rohadi dikutip dari Detik.

Ada setiap doa keluar dari mulut dan tindakan dari pengantar jenazah. Fokus mereka mengantarkan jenazah sesegera mungkin sampai kuburan sebagai penghormatan terakhir.

Sigit menyarankan masyarakat untuk memaklumi dan memprioritaskan konvoi pengantar jenazah jika memungkinkan. Itu kata sosiolog, gimana aturan hukumnya di jalan raya?

Ilustrasi konvoi pengantar jenazah/123rf
Ilustrasi konvoi pengantar jenazah/123rf

Truk Trailer vs Konvoi Pengantar Jenazah, Siapa yang Didahulukan?

Apakah mengantar jenazah darurat? Dalam UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ada sebagian pihak yang berhak di prioritaskan. Pasal 134 menyebutkan ada tujuh kelompok yang berhak didahulukan di jalan raya. Berikut urutannya mulai dari paling prioritas hingga dikesampingkan.

  1. Pemadam kebakaran lagi tugas
  2. Ambulans angkut orang sakit
  3. Kendaraan yang menolong laka lantas
  4. Pimpinan negara dan lembaga pemerintah
  5. Kedubes dan tamu internasional
  6. Pengiring pengantar jenazah
  7. Konvoi yang dipimpin Polisi

Kalau ditanya siapa yang didahulukan antara sopir truk kontainer sendiri sama konvoi pengantar jenazah, jawabannya konvoi.

Tonton juga:

Sudah selesai dengan penggolongan SIM C, sistem tilang sekarang menggunakan poin. Poin akan terakumulasi setiap pelanggaran yang terjadi.

Tapi dalam konteks kasus konvoi pengantar jenazah di Cilincing kekerasan tetap gak dibenarkan, ya.

Minta Tolong Saja sama Polisi

Direktur Lantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo mengakui rombongan pengantar jenazah seringkali bertindak arogan di jalan raya. Memang ada norma di jalan raya maupun hukum pengantar jenazah didahulukan. Tapi gak harus arogan juga.

Sambodo bilang kalau mau hubungi polisi terdekat aja biar dikawal. “Mereka tinggal hubungi kami minta pengawalan kita akan layani, menurut pertimbangan kami memang perlu dikawal,” katanya kepada Detik.

Semoga kita lebih memahami norma di jalan raya, ya.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation