Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Youtuber Masuk Industri Olahraga, Merugikan Atlet?

YouTuber masuk industri olahraga memang bikin semarak event olahraga. Namun iklim kompetisi harus tetap dijaga agar prestasi atlet berbakat tidak redup.

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Pertandingan Logan Paul vs Floyd Mayweather pekan lalu menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Fenomena YouTuber masuk industri olahraga berkat kemampuan membaca market yang butuh hiburan berbasis event olahraga. Namun pada saat yang bersamaan, iklim kompetisi harus tetap dijaga agar prestasi atlet berbakat tidak redup.

Photo by Szabo Viktor on Unsplash
Photo by Szabo Viktor on Unsplash

Olahraga dan bisnis merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Bisnis olahraga membutuhkan animo masyarakat yang tinggi untuk mendulang uang, entah dari penjualan tiket maupun merchandise suporter maupun sponsorship. Uang tersebut yang akan membiayai event atau kompetisi, serta kesejahteraan para atlet.

Selama ini, puncak dari pencapaian para atlet adalah menjadi yang terbaik dalam bidang olahraganya masing-masing. Tujuan bintang olahraga mana pun adalah memenangkan setiap pertandingan sehingga bisa mendapatkan penghargaan dan medali apa pun yang bisa mereka dapatkan.

Saat ini, masyarakat dihadapkan oleh dua pilihan: Menonton atlet berbakat kelas dunia bertanding, atau menonton entertainer bermain olahraga. Dua-duanya sama-sama bertujuan untuk hiburan masyarakat.

Untuk mengetahui potensi diri, pertama-tama Anda harus menemukan batas diri kemudian memiliki keberanian untuk melewatinya.
- Picabo Street, pemain ski Amerika Serikat sekaligus peraih medali emas Olimpiade 1998.

Namun, ungkapan ini tidak lagi berarti dan tidak bisa diterapkan dalam salah satu olahraga tingkat elit, yakni tinju, terutama pada level tertinggi. Olahraga tinju membutuhkan kekuatan, kecepatan, teknik, stamina, dan tingkat ketahanan mental dan fisik yang tinggi untuk mencapai puncak prestasi.

Dengan adanya campur tangan bisnis, prestasi berupa sabuk dan uang berlimpah tidak lagi butuh perjalanan panjang yang memakan waktu lama. Maka dari itu, ada kemungkinan ada lagi atlet yang bercita-cita menjadi seperti Mike Tyson, Muhammad Ali, atau Anthony Joshua berikutnya.

Mengapa Olahraga Tinju di Youtube Begitu Populer?

Tinju adalah olahraga pertama yang memungkinkan individu dari industri lain bertanding. Pada tahun 2018, dua YouTuber bernama KSI dan Joe Weller saling berhadapan dalam pertandingan tinju di Copper Box Arena, London.

Pertandingan yang dimenangkan oleh KSI tersebut menarik perhatian 1,6 juta penonton langsung, 21 juta views dalam sehari, hingga lebih dari 25 juta views selama beberapa hari berikutnya. Pertandingan ini disebut-sebut jadi pertarungan tinju kerah putih terbesar dalam sejarah.

Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash
Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash

Komunitas YouTube melihat peluang emas untuk terjun ke dunia tinju dan membawa olahraga ini ke tingkat yang lebih tinggi. Sejak itu, mereka mempertandingkan KSI dengan Logan Paul (dua kali) Jake Paul vs Deji, dan Jake Paul vs Nate Robinson.

Fenomena Logan Paul vs Floyd Mayweather

Beberapa minggu lalu, Logan Paul menandatangani kontrak untuk melawan Floyd Mayweather. Lawan YouTuber dengan 22,7 juta subscriber itu digadang-gadang oleh banyak penggemar tinju sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang masa.

Floyd Mayweather Jr. (Green Trunks) melawan Logan Paul (Yellow Trunks) saat pertandingan tinju ekshibision di Hard Rock Stadium, Miami, Florida, AS, Minggu (6/6/2021). ANTARA FOTO/Jasen Vinlove-USA TODAY Sports/WSJ/sa.
Floyd Mayweather Jr. (Green Trunks) melawan Logan Paul (Yellow Trunks) saat pertandingan tinju ekshibision di Hard Rock Stadium, Miami, Florida, AS, Minggu (6/6/2021). ANTARA FOTO/Jasen Vinlove-USA TODAY Sports/WSJ/sa.

Media internasional Playmaker dalam sebuah postingan Instagram melaporkan Floyd Mayweather akan menerima uang sebesar $2 juta di awal untuk menghadapi Paul. Pada saat yang sama, Logan Paul juga menerima uang sebesar $200,000 di awal untuk melangkah di atas ring dengan sang legenda tinju.

Mengapa Situasi Ini Tidak Baik untuk Industri Olahraga?

Olahraga tinju sejak awal selalu tentang “survival of the fittest”, yang artinya siapa yang tercepat, terkuat, dan dapat menghibur orang banyak di dalam dan di luar arena akan menjadi pemenang.

Setiap petinju punya kemampuannya masing-masing untuk membuat pertarungan menjadi “perang tanpa ampun” atau “taktik pikiran”. Para penggemar tinju pasti beranggapan bahwa petinju sungguhan akan menyerang YouTuber dengan opsi pertama. Konsekuensi KO diduga karena YouTuber tidak memiliki keahlian khusus dalam bertahan atau melawan pukulan.

Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash
Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash

Sayangnya, situasi ini justru akan memperburuk iklim dalam olahraga, setidaknya menurut saya. Jika hiburan dalam olahraga dilakukan dengan laju yang konstan seperti yang terjadi pada saat ini, pertandingan ekshibisi tentunya akan lebih banyak dibanding pertarungan sungguhan dalam kelas apa pun.

Potensi keuntungan finansial instan tidak bisa menjadi jaminan keberlanjutan olahraga ini. Karena cepat atau lambat, regenerasi atlet berbakat akan melambat dan kalah dengan atlet instan bermodalkan popularitas.

Tinju memiliki sejarah kelam dalam hal penyuapan, harga bayar per tayang, dan pertaruhan kelas elit. Namun, penggemar tinju dan olahraga harus menolak anggapan terbaru bahwa siapa pun bisa menjadi petinju jika mereka mau. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin masa depan tinju akan tampak suram dan bisa menjadi paku terakhir di peti mati untuk legitimasi olahraga.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation