Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Rape Jokes Tak Layak Untuk Bahan Guyonan

Melanggengkan segala bentuk pelecehan seksual adalah sebuah kejahatan besar.

Rizki Ardandhitya  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Belakangan ini ramai perbincangan di lini sosial media massa mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang publik figur, Ghofar Hilman. Kasus tersebut pertama kali diungkap oleh akun twitter @quweenjojo yang membagikan utas mengenai pelecehan yang dialaminya semasa 2018 silam.

 

Nyelaras menceritakan bahwa dirinya mengalami kejadian tidak mengenakan itu selepas ia mengabadikan sebuah momen yang dimana terdapat Ghofar Hilman yang kebetulan menjadi bintang tamu pada acara tersebut. Naas, tiba-tiba Nyelaras mendapatkan perlakukan yang kurang menyenangkan. Parahnya, terdapat para pria yang sedang berkerumun disana dan malah berteriak “dienakin kok nggak mau?.”

Perkataan yang dilontarkan tersebut entah secara sadar atau tidak, menganggap itu hanya sebagai bahan lelucon atau tidak, itu merupakan bentuk pelecehan secara verbal. Lebih tepatnya, hal tersebut bisa dianggap sebagai rape jokes.

Dewasa ini, baik dalam kehidupan nyata maupun maya kerap kali dijumpai lelucon yang mengarah kepada bentuk pelecehan seksual. Beberapa dari kita mungkin masih tidak menyadari bahwa guyonan tersebut sebenarnya tidak pantas untuk dilontarkan kepada siapapun.

hidup itu kayak diperkosa, kalau ngagak melarikan diri, ya enjoy aja.”, “Aku juga mau kalo diperkosa cewek cantik kaya gitu!”, “Rahimku anget ngeliat badan kotak-kotak kaya gitu”, dan masih banyak lagi. Apakah kalian pernah mendengar kalimat seperti itu?

Contoh diatas merupakan sedikit dari banyaknya guyonan yang kerap kali terlontar ketika sedang nongkrong dengan teman-teman, bahkan menjadi konten dalam media sosial. Tak jarang, respon dari masyarakat malah memberikan respon yang sama atau malah menimpali dengan perkataan pelecehan yang lainnya.

Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh Beth Anne Cooke-Cornell “Rape Jokes in the Era of #MeToo” menjelaskan bahwa rape jokes atau lelucon pemerkosaan adalah lelucon yang menggunakan cerita tentang pemerkosaan sebagai topiknya untuk mengundang tawa. Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima hal itu dengan baik malahan sebaliknya.

Bagi seorang penyintas pemerkosaan, mendengar lelucon tersebut bisa menimbulkan dampak fisik maupun mental yang serius. Parahnya, bisa menimbulkan depresi bagi orang tersebut.

Perempuan kerap kali menjadi objek guyonan tersebut, dan para pria kebanyakan menganggap lelucon tersebut menjadi hal yang remeh, dan pada akhirnya menganggap pemerkosaan adalah sesuatu yang biasa. Hal inilah yang menjadi penyebab langgengnya kultur pelecehan seksual.

Sebenarnya, tidak hanya perempuan yang bisa mengalami pelecehan rape jokes ini, pria juga bisa menjadi korban. Laki-laki kerap dianggap sebagai seseorang yang beruntung ketika mengalami pelecehan seksual, terlebih jika pelakunya adalah seorang perempuan. Padahal tidak. Segala bentuk pelecehan seksual tidak bisa memandang gender, entah laki-laki ataupun perempuan. Pelecehan tetap pelecehan, tidak ada yang bisa dimaklumi dalam kejadian tersebut.

Pola pikir macam ini sebaiknya sudah harus diberhentikan. Segala bentuk pelecehan merupakan hal yang tidak bisa dianggap lumrah. Lantas, memaklumi rape jokes juga sama saja dengan melanggengkan bentuk kekerasan sesksual berbasis verbal maupun nonverbal.

Langkah kecil yang penting untuk menghentikan rape jokes ini dengan menanamkan dalam benak diri sendiri bahwa, perempuan bukan bahan untuk objektifikasi lelucon. Selain itu, mulai membiasakan diri untuk tidak membicarakan hal yang menjurus pelecehan seksual, baik ketika berbicara bersama teman, ataupun di tongkrongan.

Mari cegah segala tindak pelecehan seksual, tak perlu ragu untuk saling mengingatkan demi terciptanya suasana kondusif, nyaman dan aman bagi setiap individu!

Add comment
DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation