Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

SEORANG
KOMEDIAN YANG
BICARA
DEMOKRASI

By Adriano Qalbi



Sebelum saya memulai untuk mengungkapkan opini atas judul yang telah disebutkan, ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Adriano Qalbi, inginnya memperkenalkan diri sendiri dengan cara yang penuh pretensi, menaruh jabatan level C sebuah perusahaan, seperti yang sedang marak di media sosial dan digunakan untuk berbicara di dalam forum. Tapi karena norak, forum yang dibuat untuk berbicara malah dipergunakan untuk membuat forum sunyi, yang bertujuan untuk networking, katanya. Padahal, taaruf saja boleh berbicara, tapi di sini, tidak bisa lihat dan tidak bicara.

Namun saya memutuskan untuk mengenalkan diri sebagai komedian, juga podcaster yang dulunya, sepanjang karirnya, bekerja sebagai penulis iklan dari 2005. Untuk pencapaian dan prestasinya bisa silakan diramban sendiri. Memiliki orang tua yang berwiraswasta dan juga bergerak dalam bidang media. Jadi, terekspose media sudah saya alami sejak usia yang sangat dini. Dan saat 1998, saya berusia 14 tahun.

Masih jelas di ingatan, saat pertama kali ada TV swasta. Untuk menikmatinya harus berlangganan decoder. Akhirnya saya selalu main ke rumah tetangga untuk menikmati siaran tersebut. Eksklusivitasnya sama seperti pada saat awal artis Youtube merasa lebih dari TV, atau ojol yang berpenghasilan 30 juta Rupiah dalam sebulan.

Meski TV swasta sudah mulai menjamur, sebelum era reformasi, kami masih harus bergabung dengan penyiaran pusat, untuk mengikuti berita yang terjadi. Harus diingat, saat ini hanya ibukota yang memiliki hak siar. Jadi di tempat lain hanya bisa menonton stasiun TV Nasional. Konten tetap cukup memiliki pilihan, tidak terlalu monoton. Ada konten horor bahkan konten biru. Asalkan tidak memiliki narasi yang berlawanan dari pemerintah.

Seperti ojol yang sekarang sudah tidak berpenghasilan 30 juta, atau artis youtube yang ternyata juga tidak keren-keren amat. Yang disangka akan bertahan selamanya, sebuah orde pun bisa runtuh. Orde yang tadinya berkuasa, menjadi pusat informasi dan kebenaran, menjadi kekuasaan yang absolut, diikuti dengan korupsi merajalela, di saat itulah rakyat bergerak untuk meruntuhkan orde tersebut.

REVOLUSI INFORMASI


Bermodalkan “vox populi vox dei” yang berarti “suara rakyat adalah suara tuhan”, rakyat berpendapat harus dengan berbagai sudut pandang, untuk menganalisa sebuah kebenaran. Lagi pula kebenaran tidak bisa dikuasai satu pihak.

Ini merupakan keyakinan penuh yang dimiliki sebagian besar rakyat Indonesia di era reformasi. Era dimana, informasi yang awalnya terpusat pada pemerintah, akhirnya runtuh. Masyarakat mulai meluruskan narasi-narasi yang sempat dibelokan pemerintah, demi kebaikan pemerintahan itu sendiri.

Revolusi ini tidak datang dengan harga yang murah. Bangsa ini mengalami banyak kerugian, kerusakan dan korban jiwa yang sampai sekarang pun tidak pernah tuntas.



Akan tetapi hidup tidak bisa bergerak mundur. Bangsa ini mulai melangkah menuju titik terangnya, keluar dari gelapnya terowongan, yang selama ini mengurungnya. Mulai dari mengungkapkan sejarah masa lampau, mengembalikan kedaulatan dan otonomi daerah, hingga peresmian agama baru. Sekejap Indonesia pun bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih terbuka. Mencapai kebebasan yang selama ini dicita-citakan.

Sayangnya belum sampai 10 tahun, era ini mulai mengalami perubahan yang tak terduga. Tidak lagi datang dari pemerintah, tapi melainkan dari Facebook, Twitter, Youtube dan Blackberry.

Sebelum era reformasi, informasi itu terpusat. Lalu terpecah saat reformasi, namun masih dimiliki institusi yang memiliki kredibilitas dan lepas dari pemerintahan. Tapi di era user generated content (konten buatan pengguna), kurasi menjadi elemen yang tidak penting. Yang penting ramai pendukung. Yang tadinya suara rakyat suara tuhan, berubah menjadi semua menjadi tuhan akan narasinya masing-masing.

Permasalahannya adalah, era kebebasan informasi ini yang tadinya diperuntukkan meluruskan fakta-fakta sejarah juga politik, pada akhir menggeser juga pengetahuan ilmu-ilmu pasti, seperti bumi tidak bulat.

Rasanya, seperti harus mengulang pelajaran karena ada anak yang tidak masuk kelas, tapi dalam skala yang jauh lebih masif.

Dahulu sekali, saat listrik belum ada, terdapat sebuah institusi yang mengakui bahwa bumi itu datar dan matahari mengelilinginya. Lalu, ada satu ilmuwan berpendapat sebaliknya, bumi bulat, dan mengelilingi matahari. Dan, ilmuwan tersebut digantung. Tak lama setelah itu, semua mengakui bahwa bumi itu bulat. Namun kini, bukan antek institusi tersebut, kembali lagi menyebarkan paham bumi itu datar. Lalu, apa makna demokrasi kalau tidak bisa menjadi pijakan kebenaran?

Dalam ilmu pemasaran, jika ada 100 konsumen, dan sebuah produk hanya melayani 50 konsumen, saat produk kompetitor datang, kompetitor tidak perlu menjadi lebih baik, hanya perlu melayani 50 konsumen yang belum terpapar produk sebelumnya. Produk yang lebih baik hanya dibutuhkan saat kompetisi sudah penuh. Membuat produk lebih baik hanya berarti investasi yang lebih besar dan memancing kompetisi. Lebih baik meraih market naif, ketimbang mengungguli produk yang sudah ada. Investasi jadi lebih rendah dan kompetisi dapat dihindari.


Itulah mengapa, pada saat desentralisasi informasi terjadi, terbitlah media cetak dengan merek yang menggunakan warna lampu lalu lintas. Mereka menuliskan judul dengan mendobrak pakem-pakem yang digunakan media pendahulunya, seperti Suami KZL Istri Ditabrak Trus Dilindes Pake Tronton. Hal ini disebabkan karena market yang melebar. Tiba-tiba naif market tersedia lebih banyak, dalam hal ini adalah pembaca yang tidak pernah terekspos koran sebelumnya.

Dengan perkembangan jaringan internet dan digitalisasi, market akan terus melebar, dan medium akan terus berganti. Setiap kali melebar dan berganti, kurasi dan kualitas tidak akan menjadi elemen yang penting. Jika Anda merasa musik atau film hari ini (artikel ini tak terkecuali) semakin berkurang kualitasnya, Anda tidak sepenuhnya salah, karena standarisasi yang perlu dipenuhi agar layak, terus-menerus berkurang seiring berkembangnya pasar. Oleh karena itu, kemajuan umat manusia terasa seperti satu langkah maju, dua langkah mundur ke belakang. Karena dalam pemasaran tidak butuh kredibilitas. Lalu, bagaimana lagi caranya mencari kemajuan dan kebenaran?

PERISTIWA DEWA KIPAS


Pada tanggal 4 Maret 2021, Indonesia dihebohkan oleh terblokirnya akun Dewa_Kipas di Chess.com. Tidak terima dituduh curang, Anak dari Dewa_Kipas menuduh GothamChess (lawan dari Dewa_Kipas) yang lebih populer, tidak terima atas kekalahannya lalu semena-mena memblokir akun lawan. Bak seruan ada maling ayam di kampung, semua netizen berkumpul dan bersatu, tanpa tahu persis kasus yang terjadi, langsung mengolok-olok GothamShess, membawa sentimen kepopuleran dan, tanpa ketinggalan, nasionalisme.

Saking hebohnya, PB PERCASI (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) sampai turun tangan, menganalisa kasus kecurangan yang terjadi di Siniar Deddy Corbuzier, berikut wawancara dengan GothamChess. PB PERCASI memberikan putusannya yang sama dengan GothamChess, bahwa Dewa_Kipas memang curang. Rakyat tidak terima.

Yang terjadi kemudian lebih aneh lagi. Deddy mengajak perwakilan PB PERCASI untuk bertanding dengan Dewa_Kipas. Seperti untuk membuktikan, kalau memang jago, buktikan di sini. Layaknya menangani anak kecil yang terus merengek jika tidak dituruti kemauannya, tuntutan terpaksa diterima. Sebuah pertarungan yang tidak imbang. Di satu sisi, kredibilitas dipertaruhkan, menang tidak bisa bangga, kalah akan memalukan. Di sisi lawan, tidak mempertaruhkan apa pun.

Ditonton oleh jutaan orang yang tidak mengerti catur, perwakilan PB PERCASI pun langsung membantai Dewa_Kipas.

Menurut saya ini pertandingan paling menyedihkan sepanjang masa.

Grand Master melawan bapak-bapak komplek, seperti melihat orang dewasa yang bertanding dengan anak-anak.

Pada akhirnya, semua kehebohan ini tidak memberikan kebenaran apa pun tentang kecurangan pada saat akun Dewa_Kipas diblokir. Jika Dewa_Kipas menang saat tanding melawan PB PERCASI pun bukan berarti beliau tidak curang saat melawan GothamChess. Setelah pertandingan, Dewa_Kipas pun pulang, tidak memberikan klarifikasi atau pun maaf.



Sebuah rentetan fenomena yang aneh, sungguh sebuah solusi yang sangat tidak berhubungan dengan masalahnya. Sama seperti menonton kebakaran rumah, saat padam, semua langsung pulang, tidak mencari dari mana sumber api berasal. Pembawa acara menutup acara dengan ucapan yang maknanya seperti, ini merupakan bukti antusiasme catur, menang kalah bukan yang utama, semua demi catur Indonesia. Tapi, saya beropini berbeda. Menurut saya, ini merupakan bukti pemasaran yang baik. Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, pemasaran tidak butuh kredibilitas, karena dalam kasus ini hanya ada satu pihak yang kredibel.

Kasus ini merupakan contoh kegagalan demokrasi dalam mengungkap kebenaran.

Kenapa banyaknya netizen yang tidak mengerti catur bisa memaksakan pendapatnya kepada institusi yang mengurusi catur? Tapi jika kebenaran dikembalikan kepada yang berwenang, seolah-olah trauma orde baru muncul Kembali. Trauma di mana pihak yang berwenang akan memanipulasi kebenarannya demi keuntungannya.

Saya tidak percaya bahwa arah kemajuan manusia harus dipercayakan kepada elitis saja, tapi di sisi lain, saya juga tidak percaya bahwa yang tidak mengerti catur bisa mendesak institusi yang mengurusi catur. Jangan-jangan konsep pengkastaan manusia harus kita kunjungi ulang.



Masalah dengan jejaring adalah, yang memiliki pendapat bumi datar jadi menemukan temannya. Dulu jaman saya sekolah, yang peringkat terendah harus didudukkan dengan peringkat tertinggi, yang terendah tidak boleh ketemu temannya. Dalam memutuskan kemajuan masyarakat atau menentukan kebenaran, harus ada proses kurasi melalui kredibilitas, keahlian dan kepedulian dengan isu yang berkaitan.

Tidak semua isu bisa diselesaikan dengan kebijakan populis.

Seperti matematika, satu tambah satu itu dua, terserah mau berapa orang yang berpendapat berbeda. Kebijakan populis itu baik untuk pemasaran tapi bukan untuk mengungkapkan kebenaran. Di tahun 2021, sesungguhnya amat absurd jika kita masih mengandalkan sistem yang ditemukan pada zaman romawi. Manusia harus menemukan metode yang lebih efektif untuk melanjutkan kemajuannya. Tidak bisa bergantung terhadap sistem yang sudah usang.



NANTIKAN TULISAN ADRIANO QALBI BERIKUTNYA

JUMAT, 18 JUNI 2021

HANYA DI