Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Kades Sebut 3 Siswa Naik "Keranjang Terbang" Hanya Bermain. Bagaimana Kondisi Pendidikan Kita?

Kepala Desa sebut 3 siswa SD yang "Keranjang Terbang" hanya sedang bermain, bukan berangkat ke sekolah. Tapi bagaimana sebenarnya kondisi pendidikan kita?

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Tiga murid SD di Riau viral usai aksi mereka berpegangan pada 'keranjang terbang' untuk menyeberangi sungai di Desa Kuntu, Kampar Timur Riau. Aksi ini menyulut reaksi dari berbagai pihak. Aksi menantang maut tersebut, dianggap sebagai peristiwa yang menyedihkan.

Percaya tidak percaya, ternyata masih ada masyarakat yang belum menerima fasilitas pendidikan secara layak. Walaupun bantahan datang dari sejumlah pihak, tetap tidak bisa dipungkiri kalau kondisi pendidikan kita, baik dari akses hingga fasilitas masih banyak yang jauh dari kata layak.

Kepala Desa Kuntu di Kampar Timur, Riau, Asril Bakar mengatakan sebenarnya ada jalan lain ke sekolah tersebut, tetapi memerlukan waktu yang lebih lama. Babinsa Koramil 05/Kampar Kiri, Kodim 0313/KPR, Serma Kariawanto mengatakan, sebenarnya anak-anak tersebut sedang bermain di tempat penyeberangan buah kelapa sawit.

Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa itu, fasilitas pendidikan kita, apalagi di daerah terpencil, masih jauh tertinggal dari sekolah di kota. Belum lagi bicara soal sekolah yang rusak. Pada 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat ada 251.316 ruang kelas Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengan Atas (SMA) sederajat rusak berat.

Seharusnya jangan cari pembenaran dan mencari seribu alasan, untuk menutupi permasalahan yang ada. Ada baiknya, intropeksi dan cari solusi antas permasalahan yang ada. Lantas bagaimana sebenarnya kondisi pendidikan di Indonesia? Mari kita Bahas.

Murid SD Naik Keranjang Terbang

Istimewa
Istimewa

Tiga murid SD di Riau viral usai aksi mereka berpegangan pada 'keranjang terbang' untuk menyeberangi sungai bak bermain flying fox beredar di medsos. Selain murid SD, 'keranjang terbang' itu dipakai murid TK untuk berangkat sekolah.

Kepala Desa Kuntu di Kampar Timur, Riau, Asril Bakar, mengatakan para siswa itu menggunakan 'keranjang terbang' demi mempersingkat waktu perjalanan ke sekolah. Dia mengatakan sebenarnya ada jalan lain menuju sekolah mereka, tapi memerlukan waktu tempuh lebih lama.

"Di video itu mereka ambil jalan pintas, mereka mau ambil jalan pintas untuk ke sekolah. Sebenarnya ada jalan lain, lewat Jalan KUD, tapi jauh," kata Kades Kuntu Asril Bakar Seperti dilansir detikcom, Kamis (10/6/2021).

Asril menyebut, selain bergantungan di keranjang, murid SD itu kerap menerjang arus sungai. Dia mengatakan hal itu dilakukan para siswa jika air sedang dangkal.

"Sepanjang yang saya ketahui itu adalah dari perkebunan swasta, itu adalah tempat langsiran buah sawit. Kemudian dari investigasi kami, itu memang ada siswa SD tujuh orang, kemudian TK dan SMP masing-masing dua orang," katanya.

Babinsa Koramil 05/Kampar Kiri, Kodim 0313/KPR, Serma Kariawanto mengatakan, sebenarnya anak-anak tersebut sedang bermain di tempat penyeberangan buah kelapa sawit. Pemilik sawit sudah membuat jembatan di dekat lokasi tempat siswa SD itu bermain. Jembatan itu menjadi akses utama warga menyeberang.

Adapun di seberang sungai ada empat rumah warga yang menjaga kebun sawit milik orang lain "Jembatan ada di sebelahnya. Jadi, keranjang yang diikat tali itu untuk menyeberangkan buah sawit hasil panen. Penyeberangan itu milik pribadi yang punya kebun sawit," ujar kata Kariawanto melalui sambungan telepon, Kamis (10/6/2021). ."Jadi tempat penyeberangan sawit itu sering digunakan anak-anak untuk bermain. Sungainya pun dangkal," kata Kariawanto melanjutkan. Karena aksi anak-anak SD itu berisiko, Kariawanto mengaku akan menemui pemilik kebun sawit agar melarang anak-anak menyeberang menggunakan alat tersebut. "Nanti saya akan menemui pemilik kebun untuk mengingatkan agar melarang anak-anak menyeberang di situ. Karena kita khawatir juga anak-anak jatuh nanti pas menyeberangi sungai," ucap Kariawanto.

Kondisi Pendidikan Indonesia, Ini Faktanya

Antara Foto
Antara Foto

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat ada 251.316 ruang kelas Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengan Atas (SMA) sederajat rusak berat. Pemerintah sedang berupaya memperbaikinya.

Berdasarkan data dari lama resmi Kemendikbud yang dikutip Okezone, Sabtu (7/12/2019), per 2018 tercatat jumlah ruangan belajar SD yang rusak berat 180.340 unit. Rusak sedang 179.696 unit dan 1.182.054 unit rusak ringan

Sedangkan pada tingkatan SMP, jumlah ruang kelas yang rusak di seluruh sekolah di Indonesia sebanyak 51.920, dan yang mengalami rusak sedang sebanyak 59.158 ruang kelas.

Dalam tingkatan SMA, total ruang kelas yang mengalami rusak berat sebanyak 12.844. Sementara, yang mengalami rusak sedang sebanyak 15.712 ruang kelas, dan yang mengalami rusak ringan sebanyak 151.344.

Terakhir, untuk tingkatan SMK, yang mengalami rusak berat sebanyak 6.212 ruang kelas, adapun untuk yang mengalami rusak sedang sebanyak 8.730, dan rusak ringan sebanyak 158.932 ruang kelas.

Tonton juga:

Ini sekolah alternatif. Berbasis komunitas, tanpa ada guru dan gak wajib pakai seragam. Anak cukup riset yang dia suka. Subscribe di sini: https://www.youtube.com/c/OpiniID untuk ngeliat video lucu/informatif/motivasi lainnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkapkan data sekolah di Indonesia yang belum mendapatkan listrik dan akses internet. Kemendikbud menyebut 8.522 sekolah di seluruh Indonesia belum memiliki listrik, dan ada 42.159 sekolah belum mendapat akses internet.

"Dari statistik yang saya sampaikan ini, di Indonesia itu secara rata-rata nasional saja tingkat listrik di sekolah-sekolah kita berdasarkan sumber data periodik yang kami kelola per awal Juni kemarin, itu baru 96 persen sekolah di Indonesia yang belum memiliki listrik. Artinya ada 8.522 sekolah di seluruh Indonesia yang belum ada listriknya. Kalau dilihat 4 persennya mungkin kecil, cuma setelah dikuantitatifkan itu menjadi 8.500-an sekolah," ujar Plt Pusdatin Kemendikbud, Muhammad Hasan Chabibie, seperti dilansitr Detik

Dia menyebut ada sekitar 19 persen yang belum mendapat akses internet. Angkanya itu mencapai 42 ribu lebih sekolah yang belum mendapat akses internet.

"Yang lebih parah lagi di internetnya memang, kami sadari internet di sekolah-sekolah, berdasarkan data periodik ini baru sekitar 81 persen sekolah di seluruh Indonesia dari jenjang SD sampai SMK yang memiliki akses. Sementara yang tidak memiliki akses sekitar 19 persen atau sekitar 42.159 sekolah," jelasnya.

Chabibie mengatakan Kemendikbud sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) terkait akses internet ini. Menurut Kominfo, dari 42.159 70 persesnnya itu atau sekitar 30 ribu sekolah sebenarnya sudah masuk ke area Base Transceiver Station (BTS), dan hanya bisa menggunakan internet melalui handphone saja.

"Kemudian terjadi kroscek data, dan mereka mengatakan sekitar 70 persen dari 42.159 ini sebetulnya ada di coverage area BTS. Mungkin bedanya, mereka tak memiliki sambungan connected langsung ke titik-titik sekolah itu sendiri. Tapi seandainya diakses menggunakan handphone, gadget perangkat, itu pasti masuk coverage area itu," ungkapnya.

"Sehingga pada kalau dilihat di angka 42 ribuan itu sekitar 70 persennya sudah terkoneksi dalam coverage area, mungkin ya sekitar 30 ribuan sekolah sudah tersisir dari data ini, artinya tinggal 12 ribuan atau 13 ribuan sekolah yang memang betul-betul belum ada koneksi akses internetnya," tambahnya.

 

 

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation