Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Konten Flexing Pamer Harta Bertebaran di TikTok, Tujuannya Apa?

Belakangan timeline TikTok dipenuhi konten flexing harta untuk pamerkan kekayaan. Gak dilarang, sih, tapi cringe banget, cuy. Apa iya semuanya asli?

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Kamu ngerasa gak, sih, TikTok berisi konten flexing pamer harta atau pacar? Gak apa-apa kalau ingin bikin konten kaya gitu, semua orang bebas mengekspresikan dirinya masing-masing di media sosial. Tapi konten kaya gitu cringe banget.

Misalnya, seorang perempuan pamer rumah gedong yang memiliki kolam renang besar. Ia berlari di dalam rumahnya dengan video memperlihatkan sebagian isi rumah. “Weekend kalian ngapain, nih? Kalau aku keliling lapangan rumah, nih. (Emot tertawa),” tulis akun @adelinemargaret.

@adelinemargaret

Weekend kalian ngapain nih? 😅 Kalau aku keliling lapangan rumah nih🤣 Follow IG:adelinemargaret ya 😉

♬ chain hang low DJ HOLY - DJ Holy

@suryajanaofficial

BERSYUKUR!

♬ death bed (coffee for your head) - Powfu & beabadoobee

Gak hanya doi, ada seorang laki-laki pamer rekening saldonya hingga Rp200 juta secara terang-terangan. Dalam video frontal pamerkan saldo ATM bersama backsound ‘Panik gak? Panik gak?’. Caption-nya menunjukkan ia kaget punya saldo Rp 200 juta. “Kaget mau check ATM, kok, banyak banget isinya!!! Duit dari mana ini?,” ungkapnya.

Belum cukup norak? Nih, ada lagi yang menunjukkan doi bayar pajak senilai Rp1,5 milyar. Sambil mengatakan kata-kata motivasi bahwa pajak adalah hak rakyat. Lah, itu kan kewajiban, bro?

Konten flexing adalah konten pamer material, harta atau apapun yang orang miliki ke media sosial secara blak-blakan.

Youtuber dan influencer Atta Halilintar foto dalam sebuah mobil mewah/Instagram
Youtuber dan influencer Atta Halilintar foto dalam sebuah mobil mewah/Instagram

Apakah Berawal dari Kebiasaan Youtuber, Artis dan Influencer?

Konten norak macam ini sering ditunjukkan oleh Youtuber, influencer atau artis jetset buat memenuhi konten hariannya. Pada tahun 2018 populer olok-olokan ‘weird flex but OK’ muncul di media sosial. Hal ini dipicu makin banyak influencer seperti Kim Kardashian, Paris Hilton , Floyd Mayweather dan Jake Paul yang suka memamerkan harta.

Apalagi Jake Paul dengan cringe content hobi banget pamerkan mobil, gadget, lifestyle dan kemewahan lainnya. Kalau berlebihan bukannya keren malah aneh gak, sih?

Di Indonesia juga demikian. Tahu lah, siapa saja yang punya perilaku kayak gini. Sebut saja Atta Halilintar, Anya Geraldine, Denise Chariesta serta artis sekelas Baim Wong. Perlu dideskripsikan mereka kurang pamer apa?

Konten flexing juga sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai trader saham (Ya, saya bilang ‘mengaku’ karena belum valid asal usulnya). Contoh Alan Suryajana, coba saja cek akun media sosialnya.

Seakan konten flexing kekayaan dan kesuksesan jadi genre sendiri dan punya template. Tentu saja perilaku ini bukan barang baru. Sebelum ada media sosial artis seperti Madonna dan keluarga Kardashian sudah melakukannya. Hanya beda platform saja, Kardashian’s bahkan punya program televisi sendiri buat pamer.

Belum ada riset yang mendukung dampak dari flexing, bisa jadi pengguna media sosial medioker mengikuti pola konten flexing dari influencer dan artis. Psikolog University of British Columbia mengamini hal tersebut. Seakan konten flexing sebuah inspirasi positif buat para followers.

“Saya bertanya-tanya, seandainya influencer gak berhasil apakah mereka akan sepositif itu? Bisa memisahkan dirinya yang asli dengan identitas media sosial, saya ragu,” ungkap Jennifer Shapka dikutip dari Macleans.

Anak muda yang biasanya jadi followers konten flexing wajar saja mengadopsi sebuah identitas baru. Berusaha keras tampilkan hal-hal mewah di media sosial meski kenyataannya babak belur. Padahal, perilaku ini berbahaya buat kesehatan mental.

Ilustrasi pengguna media sosial mengikuti influencer/123rf
Ilustrasi pengguna media sosial mengikuti influencer/123rf

Gimana Kalau Itu Semua Palsu?

Gak perlu diinfokan lagi, lah ya. Bahwa apa yang ada di media sosial gak semuanya nyata. Itu hanya sebagian kecil dari realitas seutuhnya.

Sosiolog Queens University, Eleftherios Soleas berpendapat orang mencoba tampil sukses di media sosial adalah cara terbaik untuk merasakan dirinya lebih baik dari orang lain. "Jika Anda terlihat seperti sedang melakukannya, Anda merasa seperti sedang melakukannya,” ucapnya.

Orang mencoba tampil sukses di media sosial adalah cara terbaik untuk merasakan dirinya lebih baik dari orang lain
- Sosiolog Queens University Eleftherios Soleas

Apalagi pengikut media sosial senang banget, kalau diempanin konten pamer harta. Seakan menginspirasi dan seenggaknya bisa merasakan pengalaman jadi orang kaya.

Ada loh, agensi rumahan yang siap membantu kamu agar terlihat sukses dan kaya di media sosial. Contohnya saja akun Youtube School of Affluence yang memberikan tips n trick-nya. Pengguna medsos gak perlu jago foto yang penting nekat dan pede sampai ke ubun-ubun.

Mau terlihat kaya, coba aja foto-foto di rumah gedong berstatus dijual saat sedang open house. Ada lagi saran foto di toilet membuat kamu seakan-akan sedang berada dalam sebuah penerbangan.

Mau terlihat punya barang branded? Ada juga jasa penyewaan tas Chanel, Gucci hingga mobil mewah. Apapun barangnya you name it. Bahkan majalah Wired pernah mewawancarai pengamat consumer behaviour bahwa ada retail dan e-commerce yang harus menerima pengembalian barang karena pembeli gak kuat bayar. Hal ini dilakukan setelah mereka mendokumentasikan pakaian tersebut di Youtube dan Instagram.

Ada lagi cerita seorang vlogger mengedit video dari Iphone yang ia pinjam di Apple Store. Semua dilakukan demi konten. Gila bukan?

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation