Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Jalur Sepeda Roadbike JLNT Kasablanka Bikin Iri Pengguna Jalan Lain

Pengadaan jalur sepeda roadbike di JLNT Casablanca bikin pesepeda lain iri. Kok roadbike jadi seperti anak emas?

Reza Rizaldy  |  

Pengguna jalan protokol Jakarta bisa iri-irian, nih. Pasalnya, kebijakan jalur sepeda roadbike di Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang atau JLNT Kasablanka seperti memberi privilege ke sepeda balap. Pengamat menilai kebijakan ini gak punya dasar hukum yang jelas.

Dalam video Kompas TV, pesepeda non roadbike, Tugo mengungkapkan kekecewaannya dilarang melintasi JLNT Kasablanka saat uji coba jalur khusus roadbike. Ia merasa terdiskriminasi jika hanya roadbike yang boleh melintas.

“Memang sudah ada jalur khusus sepeda yang lainnya, tapi JLNT ini dikhususkan untuk roadbike kurang tepat juga,” katanya.

Pesepeda roadbike melintas di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta
Pesepeda roadbike melintas di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta

Ketua Bike to Work Indonesia, Poetoet Soerdjanto ikut mengkritik kebijakan ini. Menurutnya, aneh jika pemotor saja dilarang melintas JLNT yang memiliki tinggi 20 meter, tapi sepeda boleh. Padahal sudah disepakati bahwa angin di JLNT berbahaya buat kendaraan roda dua.

“Ini kan aneh. Coba bayangkan ojol yang berusaha pakai jalan itu buat cari nafkah dilarang. Tapi untuk olahraga sepeda dibolehkan. Lebih baik cari alternatif lain agar gak muncul iri-irian,” ungkapnya dalam Live Instagram Opini WOW ‘Biker Clash: Benturan Kelas Sosial?’.

Selain jalur sepeda roadbike di JLNT Kasablanka pada hari Sabtu-Minggu, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga mengizinkan sepeda balap melintas di lajur kiri Jalan Sudirman-Thamrin dari pukul 05.00-06.30 dari hari Senin-Jumat. Lewat dari itu semua pesepeda harus masuk jalur sepeda terproteksi bagi yang melanggar akan ditilang.

Anies Baswedan dan sejumlah komunitas sepeda memanfaatkan fasilitas jalur sepeda terproteksi Sudirman-Thamrin, Jakarta/Antara
Anies Baswedan dan sejumlah komunitas sepeda memanfaatkan fasilitas jalur sepeda terproteksi Sudirman-Thamrin, Jakarta/Antara

Bisa Timbulkan Kasta dalam Sepeda

Poetoet berpendapat mengizinkan roadbike melintasi JLNT Kasablanka hanya potensi membuat kasta dalam bersepeda. Ia mencontohkan banyak pesepeda non roadbike seperti fixie atau sepeda lipat bisa menyamai kecepatan sepeda balap.

“Bisa menimbulkan rasa ketidakadilan di antara pesepeda dan pengguna jalan lainnya,” kata Om Poetoet, sapaan akrabnya di komunitas sepeda.

Ia ingin kebijakan ruang jalan di ibukota bisa mencakup kepentingan orang semua pengguna jalan. Eksklusivitas golongan tertentu gak bisa dibenarkan, justru budaya bersepeda harus disambut baik supaya bisa dijadikan alat transportasi dan kebutuhan olahraga. Demi mengurangi kemacetan dan polusi udara.

Untuk rambu jalan simbolnya kalau bisa minimal kecepatan, bukan simbol sepeda. Seakan semua roadbike itu memenuhi standar kecepatan 30km/jam, padahal gak semuanya.

Lebih lanjut, Om Poetoet memahami sepeda balap punya kebutuhan olahraga yang utamakan kecepatan. Polisi bisa memilih rekayasa jalur selain JLNT Kasablanka untuk roadbike karena berbahaya untuk sepeda.

Tonton juga:

Polisi petakan daerah dan waktu rawan begal sepeda. Itu berdasarakan analisis laporan, pengakuan korban, dan keterangan pelaku.

Diskresi hukum roadbike boleh melintas di jalur kiri Jalan Sudirman-Thamrin sudah baik. Alternatif lain yaitu memanfaatkan jalan lebar di Kemayoran, Jakarta Pusat dan kawasan komersial seperti Pantai Indah Kapuk, BSD dan Bintaro.

“Pesepeda dan pengendara motor juga harus belajar berbagi jalan seperti di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Saya sering lihat roadbike berpeleton di sana tapi gak ada masalah,” terangnya.

Suasana jalur sepeda roadbike di JLNT Kasablanka, Jakarta/Antara
Suasana jalur sepeda roadbike di JLNT Kasablanka, Jakarta/Antara

Pengamat Kebijakan Transportasi: Kebijakan Liar

Analis kebijakan transportasi, Azas Tigor menilai kebijakan jalur sepeda roadbike di jalan protokol Jakarta gak punya dasar aturan dan liar. Kebijakan jalur roadbike bisa menimbulkan kekacauan penegakan hukum lalu lintas. Dan membahayakan pesepeda itu sendiri.

“Cara membuat kebijakan yang seperti ini juga diskriminatif serta akan merusak citra pesepeda pada umumnya,” ucapnya dikutip dari CNN Indonesia.

Azas lebih kaku melihat kebijakan jalur roadbike. Kebijakan tersebut bertentangan dengan UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada pasal 122 poin B dan C menyebutkan benda atau kendaraan lain yang merintangi atau membahayakan pengguna jalan seperti kendaraan bermotor telah disediakan jalan khusus bagi kendaraan bukan bermotor.

Ia meminta pihak penegak hukum gak melanjutkan kebijakan ini, meski dalam tahap uji coba sekalipun.

Pembelaan Dinas Perhubungan DKI Jakarta

Alasan roadbike boleh melintas JLNT Kasablanka karena aspek kecepatan. Pesepeda roadbike punya kecepatan bisa mencapai 40 km/jam, sedangkan sepeda non-roadbike hanya 20 km/jam. Jika fasilitasnya disatukan bisa terjadi kecelakaan antar pesepeda.

“Jadi di lintasan ini kecepatan pesepedanya tinggi sehingga pada saat bergabung dengan pesepeda non roadbike bisa sebabkan kecelakaan,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo dikutip dari Kompas.

Ia melanjutkan jalur sepeda terproteksi bisa digunakan oleh pesepeda commuting dan rekreasi dengan aman dan nyaman di Jalan Thamrin-Sudirman. Roadbike punya kebutuhan khusus yang tujuannya olahraga dan kecepatan. Sehingga, JLNT bisa jadi medan yang cocok.

Tapi kayaknya gak gitu juga, sih. Gak ada urgensinya JLNT dipakai roadbike selain fotogenik pas di foto fotografer pribadi.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation