Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Instruksi Sekolah Tatap Muka: Dilema Antara Harapan Orang Tua dan Klaster sekolah

Presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk membuka kembali sekolah tatap muka langsung secara terbatas.

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk membuka kembali sekolah tatap muka langsung secara terbatas. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan, pertama murid yang hadir maksimal 25 %, sepekan hanya dua kali pertemuan. Setiap pertemuan maksimal 2 jam.

Hal ini pasti menimbulkan pro dan kontra. Emak-emak yang udah stres dengan kondisi ini, menganggap angin segar. Anaknya bisa kembali bersekolah, sehingga beban mendampingi anak belajar bisa sedikit berkurang.

Sementara penyebaran Covid-19 di sejumlah sekolah terus terjadi. Bahkan menjadi klaster sekolah. Terbaru terjadi di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebanyak 19 murid SMA Negeri 1 Padang Panjang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Mereka selama ini tinggal di asrama.Hal tersebut dikonfirmasi Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, Yanuwar Ujang,

Ini seperti menjadi sebuah dilemma. Satu tahun lebih anak-anak tidak merasakan belajar di sekolah. Tapi lain sisi, penyebaran virus Corona, terus merajalela. Lantas apa yang harus dilakukan? Mari kita Bahas.

Presiden Instruksikan Sekolah Tatap Muka Terbatas

Sejumlah murid SD Negeri Kota Baru mengikuti Ujian Penilaian Akhir Sekolah di Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/6/2021). Ujian yang dilaksanakan secara tatap muka tersebut diikuti kelas 4 dan 5 dengan pembatasan 50 persen murid dari kapasitas maksimal di tiap ruangan. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.
Sejumlah murid SD Negeri Kota Baru mengikuti Ujian Penilaian Akhir Sekolah di Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/6/2021). Ujian yang dilaksanakan secara tatap muka tersebut diikuti kelas 4 dan 5 dengan pembatasan 50 persen murid dari kapasitas maksimal di tiap ruangan. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Pemerintah berencana membuka kembali sekolah tatap muka langsung secara terbatas pada Juli mendatang. Presiden Jokowi minta agar murid yang hadir di kelas hanya 25 persen.

"Bapak Presiden tadi mengarahkan pendidikan tatap muka yang nanti akan dimulai itu harus dijalankan dengan ekstrahati-hati, tatap mukanya dilakukan tatap muka terbatas. Terbatasnya itu apa, pertama hanya boleh maksimal 25 persen dari murid yang hadir, tidak boleh lebih dari dua hari seminggu, jadi seminggu hanya dua hari boleh melakukan maksimal tatap muka. Kemudian setiap hari maksimal hanya dua jam," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam jumpa pers virtual, Senin (7/6/2021).

Tonton juga:

Lonjakan kasus Covid-19 di India membuat masyarakat miskin pilih pengobatan dukun covid yang potensi buat kematian lebih fatal.

Budi mengatakan, meski sudah ada aturan terkait sekolah tatap muka terbatas di bulan depan, izin anak ke sekolah tetap di tangan orang tua. Dia juga mengatakan guru harus divaksinasi lebih dulu sebelum sekolah tatap muka dimulai.

"Jadi mohon bantuan juga kepala daerah karena vaksinnya kita kirim ke kepala daerah prioritaskan guru dan lansia, terutama guru-guru ini harus sudah divaksinasi sebelum tatap muka terbatas yang tadi kami sampaikan dilaksanakan," katanya.

Sebelumnya, pemerintah pusat menargetkan pembelajaran tatap muka secara terbatas bisa dimulai pada Juli 2021. Belajar tatap muka terbatas bakal dimulai setelah guru dan tenaga pendidikan disuntik vaksin Corona (COVID-19).

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Makarim mengatakan pembelajaran tatap muka tetap akan digelar pada Juli 2021. Namun, Nadiem menekankan bahwa orangtua memiliki hak mutlak untuk menentukan apakah anaknya sudah boleh ikut sekolah tatap muka atau belum. “Itu hak prerogatif orang tua untuk memilih anaknya mau belajar tatap muka atau belajar jarak jauh,” tegas Nadiem dari laman Kemendikbud-Ristek

Nadiem lantas mengungkapkan hasil dari berbagai survei yang dihimpun maupun yang dilakukan Kemendikbud-Ristek. Ia menyebutkan, mayoritas peserta didik dan orang tua sudah ingin tatap muka. "Hampir 80 persen sudah ingin tatap muka. Karena juga sudah lebih percaya diri dengan protokol kesehatan," ujar dia.

Sejumlah Sekolah yang Jadi Klaster Covid-19

Sejumlah murid SD Negeri Kota Baru mengikuti Ujian Penilaian Akhir Sekolah di Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/6/2021). Ujian yang dilaksanakan secara tatap muka tersebut diikuti kelas 4 dan 5 dengan pembatasan 50 persen murid dari kapasitas maksimal di tiap ruangan. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.
Sejumlah murid SD Negeri Kota Baru mengikuti Ujian Penilaian Akhir Sekolah di Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/6/2021). Ujian yang dilaksanakan secara tatap muka tersebut diikuti kelas 4 dan 5 dengan pembatasan 50 persen murid dari kapasitas maksimal di tiap ruangan. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Sebanyak 19 murid SMA Negeri 1 Padang Panjang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Mereka selama ini tinggal di asrama.

Hal tersebut dikonfirmasi Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, Yanuwar Ujang, Minggu (6/6).

"Yang sekarang kan ada 19 positif. Itu sekarang memang masih dalam asrama SMAN 1 Padang Panjang. Sebelumnya juga ada positif dari awal masuk sekolah tatap muka itu," kata Ujang seperti dilansir CNNIndonesia.com

Setelah mendapat laporan hasil tes swab siswa-siswi SMA Negeri 1 Padang Panjang, kata Ujang, Dinkes langsung menghubungi pimpinan sekolah dan para guru untuk segera memisahkan para murid yang berada di asrama.

Menurutnya, sejak pembelajaran tatap muka dibuka pada 21 Mei, total siswa yang terinfeksi Covid-19 dari sekolah itu ada 27.

"Kalau sudah sembuh, enggak ada lagi negatifnya dari 251 siswa asrama ini, kalau sudah aman semuanya, kita serahkan kebijakan kepada sekolah dengan Disdik untuk men-setting kembali sistem pembelajaran," ucapnya.

Klaster sekolah juga terjadi di Bandung. Sebanyak 16 siswa dan siswi SMA Krida Nusantara di Kawasan Cipadung, Kota Bandung terpapar Covid-19. Akibatnya sekolah menjadi sepi aktifitas atas adanya klaster baru dari ranah pendidikan.

Seluruh aktivitas kegiatan di sekolah SMA Krida Nusantara diberhentikan setelah belasan siswa terpapar Covid-19 berdasarkan hasil swab test. Dari 316 siswa yang menjalani kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) terdata ada 16 siswa positif covid-19.

Akibatnya seluruh aktivitas sekolah tersebut menjadi sepi akibat adanya klaster baru di ranah pendidikan. Selain itu, rencana untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka Pemerintah Kota Bandung tetap masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait apakah KBM tatap muka di Kota Bandung akan tetap dilaksanakan atau tidak.

Klaster baru jugamuncul di lingkungan pendidikan Kota Tasikmalaya yang menyebabkan 20 orang positif dari satu sekolah di wilayah Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Minggu (14/3/2021). Dari klaster sekolah itu terpapar mulai dari para guru, pegawai Tata Usaha (TU), 2 pelajar sampai kepala sekolah terkonfirmasi positif Covid-19.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra mengatakan, klaster ini bermula saat ada seorang guru yang tetap memaksakan ke sekolah meski mengalami gejala batuk, pilek disertai demam. Kewajiban guru tersebut ke sekolah dilaksanakan tiap hari kerja saat para siswanya tak melaksanakan belajar tatap muka.

 

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation