Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Sindrom Zoom Fatigue Akibat Sering Meeting Online

Era new normal memungkinkan bekerja secara online dari rumah. Sindrom zoom fatigue mengancam mereka yang kelelahan akibat terlalu banyak video call atau conference.

KONTRIBUTOR OPINI  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Virus corona penyebab COVID-19 menginfeksi Indonesia sejak 2 Maret 2020 lalu. Sejak itu banyak pola hidup masyarakat Indonesia yang turut berubah. Hampir semua aktivitas warga dilakukan dari rumah, termasuk aktivitas bekerja online dari rumah yang bisa memicu sindrom zoom fatigue.

Aktivitas di rumah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk berinteraksi secara online atau daring. Mulai dari proses belajar mengajar, perkuliahan, bekerja, belanja online hingga pertemuan keluarga, semua dilakukan secara daring.

Ternyata intensitas video call dan video conference yang dilakukan secara rutin dan dalam waktu yang lama, bisa menyebabkan kelelahan yang disebut sindrom zoom fatigue.

Ilustrasi video conference meeting. 123rf/Olga Yastremska.
Ilustrasi video conference meeting. 123rf/Olga Yastremska.

Apa itu Sindrom Zoom Fatigue?

Dilansir dari Kompas.com, profesor di Institut Européen d’Administration des Affaires (INSEAD), Gianpiero Petriglieri mengatakan, zoom fatigue merupakan gejala kelelahan fisik dan mental saat seseorang rutin menggunakan video call atau video conference sebagai media untuk menjalankan suatu aktivitas atau pekerjaan.

Saat seseorang melakukan obrolan daring, mereka membutuhkan konsentrasi atau fokus yang tinggi untuk menyerap informasi yang dilihat dan didengarnya, sehingga, otak akan bekerja lebih keras untuk memahami setiap percakapan yang dilakukan di obrolan video tersebut.

Meski dinamakan "Zoom Fatigue", munculnya sindrom atau gejala ini tidak terbatas pada aktivitas daring dengan menggunakan aplikasi Zoom saja, tetapi berlaku untuk semua platform layanan video conference yang digunakan masyarakat, seperti Google hangouts, Google meet, Skype, FaceTime, atau jenis video call lainnya.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Penyebab sindrom zoom fatigue

Penyebab Zoom Fatigue

Andrew Franklin, asisten profesor ilmu psikologi siber di Norfolk State University, seperti dikutip dari Nationalgeographic.grid.id, menyebutkan ledakan penggunaan video call atau video conference mengarahkan pada eksperimen sosial yang tidak pernah terjadi sebelum pandemi COVID-19. Hasilnya menunjukkan bahwa interaksi virtual bisa sangat memengaruhi kerja otak.

Sementara, dilansir kantor berita Antara, psikiater RS. Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Gina Anindyajati, SpKJ, mengatakan bahwa zoom fatigue dapat terjadi karena ada kelelahan fisik akibat menghadap layar yang berlangsung lama, ditambah dengan kehabisan energi mental untuk selalu fokus pada pertemuan daring yang diadakan.

Kelelahan fisik dan mental yang timbul akibat paparan dengan pertemuan daring yang lama tanpa jeda, bisa berkontribusi pada terjadinya burnout yang dialami pekerja. Burnout adalah suatu kondisi stres kronis di mana pekerja merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara tekanan pekerjaannya.

Beberapa faktor yang bisa membuat seseorang mengalami zoom fatigue adalah lamanya durasi meeting online dan jarak menghadap layar komputer, laptop atau handphone, tidak adanya jeda di antara bekerja dan istirahat, maupun kendala teknis seperti sinyal yang terputus-putus.

dr Gina juga menjelaskan saat menatap layar untuk durasi yang lama, mata akan cepat lelah, sedangkan rekomendasi dari dokter adalah memandang jauh (6 meter) setiap 20 menit usai menatap layar. Sayangnya, tidak semua orang yang bekerja daring dari rumah punya fasilitas untuk mengalihkan pandangannya. Akibatnya, mata dipaksa untuk melihat lama ke layar tanpa bisa menyegarkan atau mengistirahatkan mata.

Selain itu, pertemuan daring yang dikerjakan back to back tidak memberi kesempatan pada orang untuk jeda sejenak beristirahat, bahkan tidak bisa ke toilet atau bergerak.

Rasa lelah juga bisa terjadi karena seseorang dipaksakan harus fokus saat melakukan pertemuan daring. Ditambah terkadang adanya kendala sinyal atau teknologi yang membuat orang harus bolak balik melakukan pengecekan.

Mencegah Zoom Fatigue

Agar pertemuan online tak menyebabkan masalah kelelahan dan kesehatan mental, kamu bisa coba beberapa cara ini untuk mencegah zoom fatigue. Dikutip dari ilovelife.co.id, berikut 5 cara mencegah zoom fatigue :

1. Atur waktu rapat

Siapkan jeda antar rapat ke rapat berikutnya, 10-15 menit. Gunakan waktu ini untuk rehat sejenak, membuat kopi atau teh, ke toilet, melihat pemandangan di luar rumah atau meregangkan tubuh. Bisa juga dengan mengatur rapat virtual dengan waktu yang lebih cepat, misal rapat 60 menit usahakan bisa selesai dalam waktu 50 menit.

2. Pasang target agenda rapat

Usahakan setiap rapat berlangsung secara efisien. Gunakan skala prioritas, mana yang memang perlu untuk rapat dan tidak.

3. Ubah tampilan layar

Jangan melakukan meeting online dengan tampilan layar yang berisi wajah semua peserta rapat. Hal ini akan membuat kinerja otak terlampau diforsir dibandingkan hanya melihat satu wajah.

Lebih baik ubah tampilan layar selama rapat dengan mengganti ke gambar speaker. Sembunyikan pula gambar peserta rapat lain, sehingga ketika ada yang berbicara, yang tampak hanya gambar pembicara atau speaker saja.

4. Matikan video

Menonaktifkan video saat rapat online penting untuk mencegah zoom fatigue. Pasalnya tidak semua pertemuan online membutuhkan tayangan video peserta. Terkadang kamu harus menonaktifkan video saat sedang rapat. Jika terus-menerus mengaktifkan video, kamu akan merasa seolah olah “dipaksa” untuk tampil sempurna di depan layar dan itu bisa membuat otak serta tubuh cepat lelah.

5. Praktikan aturan 20-20-20

Dalam jurnal kesehatan Advisory.com (27/4/2020), Jeremy Bailenson, Direktur Pendanaan Stanford University’s Virtual Human Interaction Lab, mencatat video conference menempatkan seseorang pada posisi yang tidak wajar.

Video conference memerlukan kontak mata dalam waktu lama dan melihat wajah seseorang yang diperbesar di layar komputer. Saraf mata dipaksa untuk melihat ke layar secara terus menerus selama pertemuan dan jika kamu mengalihkan pandangan akan terasa canggung.

Untuk mengurangi ketegangan saraf mata, praktikkan aturan 20-20-20. Setelah melihat layar komputer selama 20 menit, lihatlah sesuatu selain layar yang berjarak 20 kaki selama 20 detik. Lebih bagus jika bisa melihat pemandangan alam.

Apapun tanggung jawab dan kewajiban pekerjaan yang harus kamu selesaikan, Ingatlah!, pekerjaan dan kesehatan mental saling berkaitan. Pasalnya orang yang mentalnya sehat akan bisa mengerjakan pekerjaannya dengan optimal, produktif, dan mampu berkontribusi untuk lingkungannya.

Oleh

Vey Kresnawati, Kontributor Opini

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation