Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Pelajaran Sinetron Zahra, Di Dunia Nyata Pernikahan Anak Lebih Buruk Saat Pandemi

Terima kasih sinetron Zahra karena sudah ingatkan netizen bahwa pernikahan anak lebih buruk dari yang terlihat di televisi.

Reza Rizaldy  |  

Sinetron Zahra berjudul ‘Suara Hati Istri’ yang diperankan oleh aktris Lea Ciarachel memicu banyak kontroversi. Sinetron yang tayang di Indosiar ini diterpa 3 isu kontroversi sekaligus. Salah satu isu yang paling tebal adalah jalan cerita melanggengkan pernikahan anak. Dari mana isu pernikahan anak dalam sinetron?

Ketahuan banget, nih, penulis skripnya gak memahami isu sosial. Sinopsis sinetron ‘Suara Hati Istri’ menempatkan Lea Cia Rachel, aktris berusia 15 tahun sebagai istri ketiga dari Si PK Pak Tirta. Fatalnya, Zahra, anak petani (Lea Cia Rachel) diceritakan berusia 17 tahun yang dipaksa menikah oleh tuan tanah.

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) menyatakan jalan cerita sudah melanggengkan pernikahan anak. Menurut UU Perkawinan No. 16 tahun 2019 atas perubahan UU No. 1 tahun 1974 mengatur minimal usia pernikahan laki-laki maupun perempuan 19 tahun.

Adegan sinetron 'Suara Hati Istri' berbau konten seksual lolos sensor KPI/Vidio
Adegan sinetron 'Suara Hati Istri' berbau konten seksual lolos sensor KPI/Vidio

“Sinetron telah mempertontonkan Suara Hati Istri” telah mempertontonkan jalan cerita, karakter, dan adegan yang mendukung dan melanggengkan praktik perkawinan anak, bahkan kekerasan seksual terhadap anak dengan promosi yang dilakukan melalui kanal Youtube Indosiar,” ungkap KOMPAKS dalam pers rilis yang diterima Opini.

Double, nih, dosanya.

Kampanye anti pernikahan anak/Antara
Kampanye anti pernikahan anak/Antara

Realita Pernikahan Anak Selama Pandemi

Faktanya lebih parah, cuy. Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2021 mengungkapkan telah terjadi peningkatan ekstrim angka pernikahan anak hingga tiga kali lipat pada tahun 2020. Terjadi pernikahan anak sebanyak 64.211 kasus, dibanding tahun 2019 angkanya capai 23.126 kasus.

“Perkawinan anak memiliki berdampak buruk pada anak perempuan, baik untuk perkembangan psikis anak, maupun dampak biologis yang bisa mengancam kesehatan bahkan menyebabkan kematian,” terang rilis KOMPAKS.

Tonton juga:

Pernikahan anak masih marak di Indonesia.

Masalah perkawinan anak ada hubungannya dengan pandemi. Komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah menyatakan aktivitas anak di rumah melulu mendorong kegiatan akses konten seksual tanpa pendampingan dan edukasi yang matang.

“Situasi pandemic yang menyebabkan anak gak bersekolah, bertatap muka maksudnya. Mungkin ada beberapa orang tua yang putuskan nikahkan anaknya,” ungkap Alimatul dikutip dari Pikiran Rakyat.

Selain itu, ada masalah edukasi seks yang minim. Ketika konsumsi konten berbau seksual di media sosial anak mempraktikannya tanpa memikirkan konsekuensi. Akibatnya, terjadi kehamilan dini yang berujung pernikahan.

Ilustrasi pernikahan anak/Suara
Ilustrasi pernikahan anak/Suara

Celah Hukum Dorong Pernikahan Anak

Masalah lain adalah dispensasi pernikahan yang ada di UU Perkawinan Nomor 16 tahun 2019. Wakil Ketua Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Ahmad Nur angka pernikahan anak naik karena ada dispensasi perkawinan. Dispensasi perkawinan adalah orang di bawah umur nikah siri dulu saat menginjak usia resmi baru disahkan secara pengadilan.

“Banyak isbat nikah yang diajukan mereka sudah punya anak, baru mengajukan nikah. Setelah ditelusuri terjadinya pernikahan itu mereka masih di bawah umur,” kata Ahmad dalam video wawancara CNN Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengakui masalah dispensasi ada di putusan hakim di pengadilan. Pengabulan dispensasi oleh hakim terjadi karena subyektif untuk menghindari zinah di usia dini.

Alasan subyektif hakim mengizinkan dispensasi pernikahan lainnya adalah pasangan muda terlanjur hamil di luar nikah.

Meski mengetahui masalah ini, Muhadjir memilih lepas tangan. Alih-alih mencari solusi bersama untuk edukasi orang tua dan anak soal pendidikan seksual, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini justru minta orang tua yang bertanggung jawab.

“Akar permasalahan ini dari pemahaman orang tua yang mengganggap bahwa solusi satu-satunya adalah mengawinkan, kawinkan mereka,” katanya dikutip CNN Indonesia.

Dampak Pernikahan Anak

Setidaknya ada tiga dampak pernikahan anak yang menghantui mereka jika melakukan pernikahan di usia dini. Pertama, dampak psikologis. Psikolog pernikahan, Livia Iskandar mengatakan pasangan remaja belum siap mental untuk membangun rumah tangga. Jiwa labil, masih mencari jati diri dan rawan depresi potensi retaknya rumah tangga dan kekerasan.

Apalagi jika sudah memiliki anak. Mereka belum memiliki kematangan dalam memutuskan suatu rencana baik dalam jangka pendek maupun panjang. Apa iya anak mengurus anak?

Kedua, masalah sosial. Ketika orang yang dibawah umur menjalani pernikahan, akses terhadap pendidikan terhambat. Bukan cuma pendidikan rendah, konsekuensi panjangnya merembet ke masalah kemampuan ekonomi yang rendah.

“Terlebih lagi bagi remaja pria yang akan berperan sebagai kepala keluarga dan memiliki tanggung jawab menafkahi keluarganya,” kata Livia kepada CNN Indonesia.

Ketiga, masalah biologis. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengungkapkan usia ideal untuk menikah pada perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Hal ini berkaitan dengan kesehatan biologis jika kurang dari usia tersebut bisa memicu kelahiran anak cacat biologis.

Penjelasannya perempuan di usia 21 tahun ke bawah memiliki kondisi mulut rahim gak stabil. Mereka cenderung memiliki mulut rahim terbuka. Padahal harusnya tertutup agar gak terjadi gangguan.

Selain itu, diameter pinggul perempuan usia remaja baru selebar 8 cm. Idealnya harus berukuran lebih dari 9,8 cm mengacu pada ukuran kepala bayi secara umum.

Kalau pria remaja berkaitan dengan produksi sperma. Usia di bawah 25 tahun belum mampu memproduksi sperma secara sempurna. Sehingga, berpotensi keguguran, bibit kurang unggul dan bayi cacat.

Secara garis besar dampak pernikahan anak banyak merugikan anak perempuan. Karena apa? Selain melahirkan baik stunting juga rawan terhadap kekerasan seksual maupun rumah tangga.

Masalah pernikahan anak gak bisa dianggap remeh. Perlu edukasi seksual ke remaja dan ke orang tua. Serta strategi pencegahan dari pemerintah.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation