Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Chat Panggil Doang Itu Menyebalkan, Tapi Kenapa Orang Melakukan Itu?

Perilaku teman kalau nge-chat. Ada yang langsung straight to the point, ada juga yang cuma chat panggil doang. Lebih sering yang mana?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Pada aplikasi instant messenger, setiap orang punya cara berbeda buat menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Ada yang langsung straight to the point, ada pula yang cuma chat panggil doang, baru ngomong maksud dan tujuan pesannya, setelah teman chat-nya tersebut “nyaut”.

Photo by Kelli McClintock on Unsplash
Photo by Kelli McClintock on Unsplash

Salah satu orang yang ideal jadi contoh kedua tersebut adalah seorang teman akrab saya bernama Paulus (24). Alih-alih menyampaikan isi pesannya di awal percakapan, ia justru cenderung memanggil lawan bicaranya terlebih dahulu, baik itu dengan penggalan nama orang yang dituju, atau panggilan akrab lain kayak “coy”, “bro”, “bang”, dan seterusnya.

“Kayak manggil orang (pas ketemu langsung) aja, karena gak enak kalo langsung to the point. Dengan manggil kayak gitu, gue sekaligus mengonfirmasi dia lagi bisa di-chat atau enggak,” jelas Paulus saat dihubungi lewat panggilan telepon, Kamis (3/6).

Ia gak mempermasalahkan kalau lawan bicaranya tersebut membalas dalam waktu yang relatif lama. Terlebih, jika maksud dari chat-nya tersebut tidak terlalu penting dan harus disampaikan saat itu juga.

Beberapa orang risih kalau dapat chat yang cuma panggil doang. Kalau urgent, kenapa gak langsung telepon aja? Atau kalau gak urgent, kenapa gak langsung ngomong to the point setelah manggil? Toh, cepat atau lambat, chat-nya pasti dibaca juga.

“Teknik gue kalo emang (pesan) itu hal receh, balesnya gue cepetin, jadi pas masih online langsung gue bales cepet. Beda hal kalo isi chat-nya itu penting, biasanya justru gue langsung to the point, langsung nanya lagi bisa ditelfon atau enggak,” jelas Paulus.

Contoh percakapan. Dok: Istimewa.
Contoh percakapan. Dok: Istimewa.

Ada juga yang lebih nyebelin: Orang yang chat “P” doang. Kebiasaan ini kayaknya mulai mendarah daging ketika hampir semua orang menggunakan Blackberry, yang di dalam Blackberry Messenger-nya ada fitur “PING!!!”.

Kebiasaan ini pula yang nunjukkin kalau gak semua kebiasaan cocok diterapin di semua zaman, soalnya dulu Blackberry ada notif suaranya: “Ping!”, Nah kalau WhatsApp kan gak ada, terlebih kalau handphone lagi di-silent. Lagian emang ada orang yang masih pake Blackberry, padahal sekarang udah ada Samsung Galaxy A01?

Buat kalian yang relate dan merasa punya teman, keluarga, atau rekan kerja yang kayak gitu juga, nih gue kasih tau penjelasan yang lebih komprehensif lagi.

Apa Arti Orang Sering Manggil Nama Doang di Chat?

Siapa yang gak ingin dipanggil dengan nama depannya? Gue yakin semua orang senang mendengar nama kita berulang-ulang. Bagaimanapun juga, itulah identitas dan keunikan yang menarik seseorang buat dapetin perhatian kita. Contohnya keliatan ketika orang sering manggil nama pas ngomong sama lo.

Ternyata, penyebutan nama ini ada faktor psikologisnya. Cara seseorang yang manggil nama lo itu pertanda seberapa baik mereka mengenal lo.

Bagaimana Kalau Mereka Panggil Nama Lo Berkali-kali dalam Chat?

Dengan menyebut nama berulang-ulang, orang itu mencoba melibatkan lo atau menginginkan keterlibatan lo dalam diskusi itu. Mereka ingin percakapan itu menjadi interaktif, oleh karena itu, mereka mencari tanggapan dan balasan. Menunjukkan kehadiran lo dengan merespons chat, itu bisa bikin percakapan jadi aktif dan hidup.

Memastikan Lo Menaruh Perhatian ke Percakapan

Alasan lain kenapa orang memanggil dalam percakapan karena ingin lo dengerin mereka dengan seksama. Hal ini biasanya berlaku dalam percakapan langsung, tapi secara psikologis, percakapan dalam chat juga bisa jadi demikian. Ketika lo gak menyimak, mereka bakal memanggil nama lo, menginginkan perhatian total lo terhadap mereka dan mengikuti percakapan. Sama halnya ketika memanggil orang, mereka bakal nengok ke arah sumber suara dan menaruh perhatiannya.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation