Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Oversharing dan Pentingnya Etika Bermedia Sosial

Media sosial menjadi tempat orang untuk membagikan apa saja. Namun, seringkali hal ini justru berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Rahmat Tri Prawira Agara  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Ada banyak tujuan mengapa orang menggunakan media sosial. Selain untuk mencari informasi dan berita terbaru, media sosial juga digunakan untuk menjaga tali silaturahim tetap terhubung dengan keluarga dan sahabat terdekat dengan saling membagikan status berupa tulisan, foto, ataupun video yang menggambarkan aktivitas pribadi, riwayat perjalanan, dan opini terkait peristiwa terkini dari masing-masing pengguna.

Namun, seringkali praktek saling berbagi konten ini terkadang justru tidak proporsional dan cenderung berlebihan. Orang-orang membagikan sesuatu yang seharusnya tidak dilihat atau dikonsumsi oleh orang lain. Fenomena ini diistilahkan sebagai bentuk oversharing.

Menurut definisi dari kamus Merriam-webster, "oversharing" diartikan sebagai tindakan untuk membagikan suatu informasi atau konten secara berlebihan atau tidak pada tempatnya baik secara disengaja maupun tidak disengaja.

Salah satu contoh nyata dari perilaku ini barangkali bisa kita lihat dari kasus perceraian pasangan selebriti muda yang terjadi baru-baru ini. Percakapan dan chat tentang penyebab perceraian mereka yang semestinya menjadi konsumsi pribadi dan kalangan terbatas justru disebarkan oleh teman mereka secara tidak bertanggungjawab ke publik. Kita yang semestinya tidak perlu mengetahui hal tersebut pun akhirnya jadi ikut-ikutan mengomentari dan ingin mengetahui lebih lanjut urusan pribadi orang lain.

Industri hiburan kita pun sebenarnya tidak lepas dari sikap-sikap seperti ini. Beberapa waktu yang lalu ada seorang YouTuber yang mengunggah konten video malam pertama dengan istrinya dan mengunggah video tentang kematian anaknya. Juga ada perseteruan antara seorang penyanyi terkenal dengan anaknya, yang sampai harus diklarifikasi melalui podcast alih-alih diselesaikan secara personal.

Bahkan kalau kita pikir-pikir, acara reality show yang menayangkan kehidupan pribadi keluarga artis mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali juga cukup aneh. Mengapa acara-acara ini bisa ada dan apa manfaatnya kita menonton aktivitas pribadi orang-orang ini?

Tidak cuma di kalangan selebriti saja, dalam ranah sehari-hari kita pun bisa melihat fenomena ini terjadi. Kita sering melihat orang-orang membagikan masalah pribadi, kekesalan, atau saling sindir melalui media sosial mereka. Barangkali mereka lupa bahwa mereka membagikannya di platform publik yang bisa dilihat oleh semua orang. Baik teman maupun bukan teman. Bukan sebuah buku diary yang cuma bisa dibaca oleh pemiliknya saja.

Bukannya mendapat simpati atau solusi, praktek seperti ini justru sering membawa masalah baru ke depannya. Selain tidak menyelesaikan akar masalah, ini juga menyebabkan citra dan relasi menjadi semakin buruk dengan orang lain.

Pada akhirnya ada semacam keanehan yang terjadi saat ini, dimana batas-batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi kabur dan cenderung menghilang. Orang-orang tidak bisa membedakan mana hal-hal yang semestinya disimpan saja untuk dirinya secara pribadi dan mana hal-hal yang patut untuk dibagikan kepada publik. Yang privat menjadi publik, dan yang publik menjadi privat.

Barangkali salah satu penyebab utama terjadinya fenomena seperti ini adalah karena kebanyakan orang menganggap bahwa media sosial adalah ruang yang bebas dan tanpa aturan, dimana orang punya keleluasaan dan kewenangan untuk membagikan apa saja yang dia inginkan.

Tapi sebenarnya menggunakan media sosial itu juga memiliki etika dan aturan yang mesti ditaati. Salah satu contoh yang sederhana adalah tidak membagikan Screenshot chat pribadi atau foto seseorang kepada publik tanpa persetujuan orang tersebut. Tidak telalu banyak membagikan informasi pribadi demi menghindari kejahatan cyber yang mungkin terjadi. Serta berbahasa secara baik dan sopan ketika mengomentari perbedaan pendapat dan postingan tertentu.

Dengan cara-cara sederhana seperti ini, kita dapat menjaga etika dan batasan privasi diri pribadi dan orang lain di media sosial dengan lebih baik.

Ingatlah bahwa tidak semua hal itu mesti dibagikan ke media sosial. Ada batasan-batasan kelayakan,kepatutan, dan kemanfaatan yang mesti kita perhatikan sebelum membagikan sesuatu agar tidak termasuk sebagai praktek oversharing.

Add comment
DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation