Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Flu Burung H10N3 Cina Muncul, Apa Gejala dan Bagaimana Penularannya?

Belum kelar pandemi COVID-19, flu burung H10N3 Cina muncul. Gak perlu panik, tapi kita harus pahami apa gejala dan penularannya.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Menurut para ahli virus flu burung H10N3 belum dikategorikan berbahaya dan belum jadi fokus penanganan. Tapi gak ada salahnya memahami virus ini agar bisa dilakukan pencegahan penularan sedini mungkin.

Cina melaporkan kasus pertama jenis flu burung berjenis H10N3, varian virus spesial yang biasanya hanya ditemukan pada burung liar dan unggas air di Asia.

Infeksi terdeteksi pada seorang pria berusia 41 tahun pada 28 Mei lalu, satu bulan setelah dia dirawat di rumah sakit karena demam dan gejala lainnya di Zhenjiang, di Provinsi Jiangsu. Pasien stabil dan siap untuk keluar dari rumah sakit minggu ini, kata Komisi Kesehatan Nasional China (NHC).

"Risiko penyebaran skala besar sangat rendah," katanya.

NHC gak memberikan perincian tentang bagaimana pria itu mungkin terinfeksi oleh jenis influenza. Tidak ada infeksi tambahan yang ditemukan di antara kontak dekatnya.

Ilustrasi flu burung yang diteliti oleh ilmuwan/123rf
Ilustrasi flu burung yang diteliti oleh ilmuwan/123rf

Kenapa H10N3 Dinamakan Demikian?

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, flu burung adalah penyakit yang terjadi secara alami pada unggas liar, dapat menginfeksi unggas domestik dan biasanya tidak menular ke manusia. “Namun, infeksi manusia sporadis dengan virus flu burung telah terjadi,” seperti yang dilaporkan di situs situs CDC.

Huruf "H" dan "N" yang digunakan untuk mengidentifikasi flu burung mewakili protein hemaglutinin dan neuraminidase yang berbeda dari virus tertentu, menurut CDC.

“Virus flu burung dapat menginfeksi orang ketika cukup banyak virus masuk ke mata, hidung atau mulut seseorang, atau terhirup. Ini mungkin terjadi ketika virus ada di udara (dalam tetesan atau mungkin debu) dan seseorang menghirupnya, atau ketika seseorang menyentuh sesuatu yang memiliki virus di atasnya dan kemudian menyentuh mulut, mata, dan hidungnya,” kata CDC.

Flu burung H10N3 merupakan virus berpatogen rendah, relatif lebih jinak terdapat pada unggas dan memiliki risiko penyebaran yang rendah.

Ahli virus dan pandemi, Filip Claes menyatakan virus H10N3 memiliki 160 isolat virus yang dilaporkan dalam 40 tahun hingga 2018. Sebagian besar ada pada burung dan unggas liar di Asia dan Amerika Utara. “Sejauh ini gak ada yang terdeteksi pada ayam,” ungkapnya dikutip Reuters.

Tonton juga:

Kelelawar termasuk mamalia yang punya kekebalan ekstrem. Dalam tubuhnya terdapat berbagai virus mematikan, seperti Ebola, SARS, Nipah dan COVID-19.

Otoritas kesehatan Cina mengatakan belum menemukan penularan virus antar manusia. Namun, proses penelitian untuk mengetahui karakteristik virus tetap dilakukan.

Para ahli akan waspada untuk setiap kelompok kasus H10N3, tetapi untuk saat ini, satu kasus tidak terlalu menjadi perhatian.

“Selama virus flu burung bersirkulasi di unggas, infeksi sporadis flu burung pada manusia tidak mengejutkan, yang merupakan pengingat jelas bahwa ancaman pandemi influenza terus berlanjut,” kata WHO dikutip dari Reuters.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Gejala Flu Burung H10N3

Ilustrasi orang terinfeksi virus/123rf
Ilustrasi orang terinfeksi virus/123rf

Gejala Flu Burung H10N3

Meski virus masih belum menjadi fokus lembaga kesehatan dunia, potensi penularan unggas ke manusia tetap ada. Burung positif virus menginfeksi manusia lewat kotoran, air liur dan lendir. Kontak langsung dengan mata, hidung dan terhirup lewat debu bisa menularkan manusia.

Berikut gejala flu burung H10N3 dari ringan hingga berat menurut CDC:

  1. Gejala mirip influenza seperti demam, batuk, sakit tenggorokan dan nyeri otot
  2. Mual
  3. Sakit perut
  4. Diare
  5. Muntah
  6. Gangguan pernapasan seperti pneumonia
  7. Kejang-kejang
  8. Komplikasi

Karena hampir semua virus memiliki gejala yang sama seperti di atas, pemeriksaan laboratorium dianjurkan untuk memeriksa kesahihan diagnosa.

Sejauh ini pengobatan dan pencegahan flu burung H10N3 bisa dilakukan dengan kontak langsung pada unggas liar. Untuk pengobatan bisa mengkonsumsi obat-obatan influenza jika kondisi penyakit masih kategori ringan.

CDC juga akan menerbitkan protokol kesehatan dalam menanggulangi virus burung baru ini.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation