Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Zahra dan Sinetron “Suara Hati Istri” Sudah di Luar Batas Nalar dan Moral

Sebenarnya sudah lama sinetron Indonesia dikenal dengan jalan cerita yang gak ketemu sama logika dasar manusia. Tapi sinetron berjudul “Suara Hati Istri” ini udah keterlaluan.

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Sebenarnya sudah lama sinetron Indonesia dikenal dengan jalan cerita yang gak ketemu sama logika dasar manusia. Tapi sinetron berjudul “Suara Hati Istri” yang ditayangin sama Indosiar ini udah jauh melampaui batas nalar dan moral umat manusia.

Salah satu kunci sukses sebuah film, serial, sinema elektronik, atau karya seni peran lainnya adalah keterikatan emosi penonton dengan jalan cerita serta para pemerannya. Keterikatan emosi tersebut bisa diwujudkan mulai dari jalan cerita yang dekat dengan kehidupan bermasyarakat sehingga penonton bisa relate denga nisi cerita, bisa juga dengan kemampuan akting para pelakon yang ciamik.

Photo: Unsplash/Rendy Novantino
Photo: Unsplash/Rendy Novantino

Jika kunci sukses tersebut dibenturkan dengan “Suara Hati Istri”, sinetron ini juga memiliki keterikatan emosi, bahkan tidak hanya dengan para penontonnya saja. Namun, apakah sinetron ini dapat dikatakan berhasil karena telah mengantongi salah satu kunci sukses tersebut? Haha, tentu saja tidak.

Memang betul, keterikatan emosi penonton “Suara Hati Istri” ada karena jalan cerita dan penokohan dalam sinetron. Namun, bukan karena masyarakat relate sama jalan ceritanya atau akting sekelas Robert Downey Jr. yang bikin satu dunia nangis bombay pas Iron Man mati di film “Avengers: Endgame”.

Keterikatan emosi—baik yang nonton atau enggak—itu berisi penuh dengan amarah; bersifat masif dari setiap kalangan masyarakat yang melihat betapa kontroversialnya sinetron ini. Buat kalian yang emang belum tau sekontroversial apa, berikut gue jelasin atu-atu.

Melanggengkan Praktik Pernikahan di Bawah Umur

Bukan Indosiar namanya kalo gak muncul dengan ide-ide cerita jelek tapi kotroversial. Setelah sukses bikin sinetron “Azab” jadi stok meme netizen di jagat Twitter, Indosiar kembali muncul dengan ide cerita: Pernikahan di bawah umur.

Awalnya mungkin jarang ada yang ngeh. Tapi karena udah kepalang, yaudah sekalian aja cerita “pedo”-nya dibikin jelas dengan adegan saat Zahra, pemeran istri muda yang ceritanya dimadu saat berumur 17 tahun akan melakukan adegan ranjang dengan suaminya bernama Tirta, yang ceritanya berumur 39 tahun.

Pak Tirta ini karakternya emang pervert. Gak heran sih, ada niatan buat nikahin anak 17 tahun di usia 39 aja udah aneh. Diperjelas dengan adegan saat malam pertama (iya, adegan ini lolos sensor KPI), di mana Pak Tirta memaksa halus Zahra padahal istri mudanya itu sudah menangis ketakutan.

Mirisnya lagi, karakter Zahra itu diperankan oleh aktris muda yang umurnya masih 15 tahun. Gimana gak pada ngumpul tuh netizen, nyerang dari segala platform medsos termasuk Twitter dan Instagram.

Dari segi hukum mana pun, nikahin anak umur 17 tahun emang gak bener. Pada UU Perkawinan No. 16/2019, usia minimal pernikahan (laki-laki dan perempuan) itu 19 tahun. Dan pada UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak, usia minimal pernikahan adalah 18 tahun.

Jelas bagaimana adanya sinetron ini dapat melanggengkan praktik pernikahan di bawah umur sekaligus jadi bagian dari kekerasan berbasis gender di Indonesia.

Poligami dan Pelemahan Karakter Perempuan

Sinetron ini secara umum mengangkat cerita tentang pernikahan. Pak Tirta digambarkan sebagai seorang suami yang tajir melintir, dengan poligami sebagai konflik utamanya. Masyarakat menyadari bahwa poligami merupakan masalah yang serius dan sensitif bagi sebagian orang. Namun, sinetron ini dirasa kurang peka akan sensitivitas tersebut.

Gak tanggung-tanggung, Pak Tirta dibuat tergila-gila pada Zahra yang tadinya juga memiliki hubungan dengan anak laki-lakinya sendiri yang bernama Alsyad. Saking terobsesinya, bahkan terdapat adegan Pak Tirta menculik Zahra.

Konflik semakin pelik saat ayah Zahra mengizinkan putrinya menikah dengan Pak Tirta sebab keluarga Zahra terlilit utang oleh Pak Tirta. Potret peristiwa yang sebenarnya kerap terjadi di lingkungan sosial Indonesia.

Sinetron ini sangat menyorot superioritas laki-laki, tergambar dengan mudahnya hati sang istri pertama mengiyakan hasrat sang suami untuk berpoligami. Di sisi lain, ada anak di bawah umur yang secara terpaksa harus menuruti keinginan Pak Tirta karena himpitan ekonomi.

Photo by Avel Chuklanov on Unsplash
Photo by Avel Chuklanov on Unsplash

Sangat disayangkan, di mana konflik keluarga yang terbilang sensitif ini ditayangkan pada jam tayang prime time, yakni pukul 18.00 WIB.

Sebagian besar naskah sinetron di Indonesia memang masih melihat karakter perempuan sebagai tokoh pasif. Seakan melestarikan budaya patriarki, plot yang dihadirkan juga cenderung mudah ditebak: Perempuan digambarkan diam saja, minim melawan atau bahkan sekadar mengemukakan pendapat.

Plot yang monoton inilah yang jadi salah satu faktor mengapa cerita-cerita dalam sinetron tidak berkembang. Mungkin saja, sistem stripping atau kejar tayang tiap hari jadi alasan penulis naskah kurang maksimal dalam membuat alur cerita.

Namun jika terus-terusan mengejar rating dengan cerita yang kontroversial dan jauh dari nilai moral bangsa Indonesia, apakah harus mengorbankan pola pikir generasi penerus bangsa yang menontonnya?

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation